KAMULAH SAKSI-KU

KAMULAH SAKSI-KU

Baca: Yesaya 43:8-21

“Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN ... (Yesaya 43:10)

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang tahanan selain dari pembebasan dan pemulihan nama baik. Ia mungkin sudah selesai menjalani masa hukuman, tetapi tidak serta merta nama baiknya dipulihkan. Ia perlu membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya telah berubah dan dapat dipercaya.Kira-kira seperti itu juga pengalaman bangsa Israel. Penghiburan, pemulihan, dan penunjukan Tuhan terhadap mereka sebagai saksi-Nya tentu membahagiakan mereka yang tengah berada di negeri pembuangan. Anugerah Tuhan terlihat nyata di tengah-tengah ketidaklayakan mereka. Namun, rasa percaya diri mereka dibangun bukan dari identitas mereka sendiri, melainkan dari pribadi Allah yang mereka beritakan. Bahwa Tuhan yang pernah mereka tinggalkan adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat yang hidup (ay. 11), Pencipta semesta alam yang telah berkenan menebus dosa umat-Nya (ay. 14-15) sehingga seluruh bangsa mengenal dan menyembah Dia.Tuhan rindu memakai umat-Nya untuk menjadi saksi-Nya. Tak mengherankan, sebelum Kristus naik ke surga, Dia menegaskan kepada semua murid dan umat tebusan-Nya, “… kamu akan menjadi saksi-Ku… sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Dan bagi Paulus, menjadi saksi adalah konsekuensi logis dari perjumpaannya secara pribadi dengan Kristus yang bangkit (Rm. 1:5). Jika menjadi saksi itu sedemikian mendasar, bagaimana dengan kita? Seberapa jauh kita memahami panggilan kehormatan ini di dalam hidup kita?

  

MENJADI SAKSI TUHAN ITU BUKAN SEKADAR MENAATI PERINTAH, TETAPI MERUPAKAN HASIL DARI PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS.

 Sumber : http://www.renunganharian.net/2017/94-agustus/2255-kamulah-saksi-ku.html
AKULAH TUHAN!

AKULAH TUHAN!

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/06/13/

Allah Bangkit Agar Umat Berbahagia

Allah Bangkit Agar Umat Berbahagia

Mazmur 68:1-19

Allah bangkit, berperang di depan umat-Nya, dan menyatakan kuasa-Nya. Seketika itu juga orang-orang yang membenci-Nya berserakan dan melarikan diri, termasuk raja-raja segala tentara (2, 8, 13). Mereka tidak berdaya bagaikan asap yang hilang tertiup atau seperti lilin meleleh di depan api. Mereka tidak sanggup bertahan di hadapan-Nya. (3) Bukan hanya musuh-musuh-Nya, bahkan alam semesta bergoyang, bergoncang, dan mencurahkan hujan. Kedahsyatan TUHAN terlihat melalui keindahan ciptaan, gunung Zalmon, Gunung Basan, dan ribuan kereta-Nya (9-10, 14-19).

Dari kediaman-Nya yang kudus, Allah memerhatikan dan melindungi Israel, bagaikan seorang bapa terhadap anak yatim, melindungi para janda, memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, tempat menetap bagi hewan serta memenuhi kebutuhan orang-orang yang tertindas. Allah juga membebaskan orang-orang yang berada dalam tahanan. Tujuannya, agar mereka berbahagia (6-7, 11). Orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria, dan bergembira di hadapan Allah. Mereka bernyanyi, bermazmur, serta mempersiapkan jalan bagi-Nya. Sukacita ini jelas ditujukan kepada TUHAN [YHWH] yang memiliki relasi erat dengan kaum Israel (4-5). Umat dapat memahami semua ini melalui orang-orang pilihan-Nya yang membawa kabar baik (12).

Teks ini dapat menjadi doa dan ucapan syukur mengingat pertolongan TUHAN sejak Israel keluar dari Mesir hingga memasuki tanah Kanaan, kepemimpinan hakim-hakim, pencukupan kebutuhan sehari-hari hingga ibadah. Kebangkitan TUHAN dapat menunjuk pada peristiwa pembebasan dari Mesir atau kepada kebangkitan Yesus yang telah membawa banyak peristiwa dahsyat, bukan sekadar fenomenal di alam; tetapi pada pribadi-pribadi umat-Nya.

Allah bukan hanya sanggup menyelamatkan umat-Nya dari musuh, tetapi juga menyediakan segala kebutuhan dan menghibur serta melindungi. Bersyukur memiliki Allah yang begitu dahsyat.

Sumber : Renungan Harian Alkitab

Bahan Bakar Pujian

Bahan Bakar Pujian

Mazmur 66Ketika bertemu dengan ibadah di gereja yang tampak suam-suam kuku dan tidak bersemangat, hikmat hari ini biasanya menyatakan bahwa masalahnya ada pada lagu-lagunya, pemimpinnya ataupun alat musiknya. Tampaknya kita lupa dan mengabaikan hal yang lebih penting dari itu, yaitu masalah kehabisan “bahan bakar” untuk ibadah kita. Bahan bakar seperti apakah itu?Kita melihat dalam Mazmur 66 bahwa pemazmur dikuasai perasaan takjub dan sukacita yang akhirnya menghasilkan ajakan untuk memuji Tuhan (1, 8). Jadi, perasaan takjub dan sukacita itulah yang menjadi “bahan bakar” untuk luapan puji-pujian dan ajakan untuk memuji Allah.Dari mana “bahan bakar” tersebut diperoleh? Jawabannya terletak pada perenungan yang dilakukan oleh pemazmur atas pengalaman bersama maupun pribadi atas karya Allah. Perasaan takjub dan sukacita itu timbul saat pemazmur mengingat karya-karya Allah yang telah dialami umat-Nya di masa lalu (5-6).Perasaan sukacita juga timbul tatkala pemazmur merenungkan tentang sosok Allah sebagai Hakim yang berdaulat (6b-7) dan yang berperan sebagai pembebas dan penyelamat umat-Nya (8-12).Di bagian berikutnya kita melihat bahwa rasa takjub dan sukacita itu juga bersumber dari pengalaman pribadi pemazmur (13-20). Pemazmur mengalami perlakuan Allah yang menakjubkan dan menimbulkan sukacita, yaitu dalam bentuk doa yang didengar (19). Perasaan takjub dan sukacita adalah “bahan bakar” untuk pujian yang otentik. Untuk memperoleh bahan bakar tersebut, kita perlu memerasnya lewat perenungan akan karya dan pribadi Allah. Hari ini kalau ada masalah pada ibadah yang suam-suam kuku, mungkinkah masalahnya terletak pada kondisi kita yang minus refleksi akan karya Allah dan bukannya pada musik ataupun pada jenis lagu yang digunakan?Renungkan: Mari kita belajar sungguh-sungguh merenungkan segala karya Allah yang telah kita alami dan meresponinya dengan pujian yang sungguh pula- See more at: https://www.gkpscijantung.org/bahan-bakar-pujian.html#sthash.sf5bWhRs.dpuf
Rahasia Hidup Berkemenangan Setiap Hari

Rahasia Hidup Berkemenangan Setiap Hari

Roma 6:8Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan DiaBacaan Alkitab Setahun Mazmur 106 ; Lukas 18; Yosua 23-24Saya pernah mendengar cerita tentang seorang misionaris yang meninggalkan Liverpool, Inggris untuk pergi ke Afrika. Ketika ia tiba, ada wabah penyakit di daerah di mana ia melayani. Ribuan orang telah meninggal, dan ia mengabdikan waktunya untuk membantu orang-orang sakit itu dan memberitakan Kristus kepada orang-orang sekarat itu.Suatu hari, seorang pedagang budak datang kepadanya dan berkata, “Pak, jika Anda tinggal di sini, Anda akan mati.” Namun  misionaris  itu hanya menganggukkan kepala dan berkata, “Teman, saya sudah mati sebelum saya meninggalkan Liverpool. Itu sebabnya aku di sini. ”Di dalam Kristus, kita sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Saat kita percaya kepada-Nya, manusia lama kita telah mati dan kita mengalami hidup baru. Ini pertukaran menakjubkan. Namun banyak orang Kristen seolah-olah masih  manusia lama mereka tidak pernah mati. Sangat tragis bukan!Alih-alih hidup dalam dosa dan rasa malu, ingatlah kepada kebebasan dan pengampunan yang diberikan kepada Anda saat Anda percaya kepada Kristus. Berhenti melihat ke belakang dan sadarilah  berkat kehidupan baru yang Anda miliki saat ini. Jangan berharap untuk kalah. Berharaplah untuk hidup berkemenangan di dalam Kristus!Hiduplah dalam kemenangan dengan mengingat bahwa diri kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Kristus setiap hari!- See more at: https://www.gkpscijantung.org/rahasia-hidup-berkemenangan-setiap-hari.html#sthash.yN9C5jyV.dpuf