Sama Seperti Ayah

Sama Seperti Ayah

Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. —Yohanes 5:19

Bukankah menggemaskan saat melihat seorang anak meniru gerak-gerik orangtuanya? Sering kita melihat anak kecil duduk di kursi mobil dengan memegang setir khayalannya sambil mengamati terus gerakan ayahnya yang sedang mengemudi.

Saya ingat melakukan hal yang sama semasa kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ayah saya—dan saya yakin ayah merasa lebih senang lagi melihat saya meniru setiap tindakannya.

Saya pikir Allah Bapa tentu merasakan sukacita yang sama ketika Dia melihat Anak-Nya yang terkasih melakukan persis sama dengan apa yang dilakukan-Nya—mencari jiwa yang terhilang, menolong yang membutuhkan, dan menyembuhkan yang sakit. Yesus berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19).

Kita juga dipanggil untuk melakukan yang sama—menjadi “penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan [hidup] di dalam kasih” (Ef. 5:1-2). Sambil terus bertumbuh semakin menyerupai Yesus, kiranya kita selalu mengasihi seperti Bapa mengasihi, mengampuni seperti Dia mengampuni, peduli seperti Dia mempedulikan, dan menjalani hidup yang menyenangkan-Nya. Sungguh menyenangkan untuk meniru tindakan-Nya oleh kuasa Roh, dan upah kita adalah kasih sayang dan senyum lembut dari Bapa yang penuh kasih. —Leslie Koh

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menunjukkan jalan kepada Bapa. Tolong kami untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu dan Bapa setiap hari.

Allah Bapa memberi kita Roh Kudus untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya.

Akar yang Dalam

Akar yang Dalam

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. —Lukas 24:45

Pohon sequoia, satu dari tiga spesies pohon redwoods, merupakan salah satu organisme paling besar dan paling lama bertahan hidup di dunia. Pohon tersebut dapat bertumbuh hingga ketinggian lebih dari 90 meter, dengan berat lebih dari 1,1 juta kilogram, dan hidup hingga 3.000 tahun. Namun, ukuran yang besar dan usia yang panjang dari pohon sequoia yang megah itu banyak bergantung pada apa yang terdapat di bawah permukaan tanah. Akar-akar pohon yang saling terjalin sampai kedalaman 3-4 meter, dan terbentang luas hingga satu hektar tanah, menjadi dasar yang kuat untuk menopang pohon dengan tinggi dan bobot yang luar biasa tersebut.

Namun, sistem akar pohon redwood yang tersebar luas itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan sejarah, agama, dan penantian suatu bangsa yang menjadi dasar bagi kehidupan Yesus. Pada suatu peristiwa, Dia berkata kepada sekelompok pemimpin agama bahwa Kitab Suci yang mereka cintai dan yakini sebenarnya memberikan kesaksian tentang diri-Nya (Yoh. 5:39). Dalam sinagoge di Nazaret, Yesus membuka gulungan kitab Yesaya, membacakan gambaran mengenai Mesias Israel, dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21).

Kemudian, setelah kebangkitan-Nya, Yesus menolong murid-muridNya untuk memahami bagaimana perkataan Musa, perkataan para nabi, dan bahkan puji-pujian Israel menunjukkan mengapa Dia harus menderita, mati, dan bangkit dari kematian (24:46).

Sungguh agung dan indah melihat bahwa kehidupan Yesus memiliki akar yang kuat dalam sejarah dan Kitab Suci dari suatu bangsa, dan melihat bagaimana hidup kita pun sangat didasari pada kebutuhan kita akan Dia. —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolong kami agar tidak pernah lupa bahwa sejarah Israel dan Kitab Suci mengajarkan kami untuk sadar bahwa kami membutuhkan Yesus, Anak-Mu.

Kitab Suci menolong kita untuk melihat bahwa kita membutuhkan Yesus.

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang . . . akan melepaskan aku. —1 Samuel 17:37

Ketika masih di SMA, saya pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji selama lebih dari dua tahun. Ada hal-hal tertentu dalam pekerjaan itu yang terasa sulit. Misalnya menghadapi pelanggan yang marah karena ia menemukan ada selembar keju yang tidak diinginkannya di dalam roti isi yang tidak saya buat. Segera setelah keluar dari sana, saya melamar pekerjaan komputerisasi di kampus saya. Atasan saya lebih tertarik dengan pengalaman kerja saya di restoran cepat saji daripada keahlian komputer saya. Mereka ingin tahu cara saya menghadapi orang. Pengalaman di tempat kerja yang tidak menyenangkan itu justru telah menyiapkan saya untuk pekerjaan yang lebih baik!

Daud yang masih muda pernah berhasil melewati sebuah peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan di mata kita. Ketika Israel ditantang untuk mengirimkan seseorang sebagai lawan Goliat, tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk melakukannya. Kecuali Daud. Raja Saul sebenarnya enggan mengirim Daud berperang. Namun, Daud menjelaskan bahwa sebagai gembala, ia pernah melawan dan membunuh singa dan beruang demi menyelamatkan domba-dombanya (1SAM. 17:34-36). Dengan percaya diri, ia menyatakan, “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ay.37).

Bekerja sebagai gembala tidak membuat Daud dihormati banyak orang, tetapi hal itu telah menyiapkannya untuk berperang melawan Goliat, dan pada akhirnya menjadi raja teragung bangsa Israel. Kita mungkin sedang berada dalam situasi-situasi yang sulit, tetapi melalui semua itu Allah mungkin sedang menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar! —Julie Schwab, penulis tamu

Tuhan, tolong aku untuk bertahan selama masa-masa yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Aku percaya bahwa mungkin Engkau sedang menyiapkan aku untuk sesuatu yang lebih besar.

Allah memakai situasi saat ini untuk menyiapkan kita bagi masa depan.

Bertatap Muka

Bertatap Muka

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11

Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.

Kita melihat hubungan seperti itu terjadi antara Tuhan dengan Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Musa semakin mantap mengikut Allah. Ia bahkan terus mengikut Allah walaupun bangsanya memberontak dan menyembah berhala. Setelah bangsa itu menyembah anak lembu tuangan dan bukan Tuhan (lihat Kel. 32), Musa mendirikan kemah di luar perkemahan sebagai tempat untuk bertemu Allah, sementara bangsa itu melihatnya dari kejauhan (33:7-11). Ketika tiang awan yang melambangkan kehadiran Allah turun ke kemah itu, Musa berbicara atas nama bangsanya. Allah berjanji bahwa kehadiran-Nya akan menyertai mereka (ay.14).

Karena kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita tidak lagi membutuhkan seseorang seperti Musa untuk berbicara kepada Allah bagi kita. Sebaliknya, seperti yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya, kita dapat menjalin persahabatan dengan Allah melalui Kristus (Yoh. 15:15). Kita pun dapat berjumpa dengan Allah, saat Dia berbicara kepada kita seperti seseorang berbicara kepada sahabatnya. —Sheridan Voysey

Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal. Tuhan Yesus, Juruselamat, Pengasihku yang kekal! —Carrie E. Breck (Kidung Jemaat, No. 267)

Kita dapat berbicara kepada Tuhan layaknya berbicara dengan sahabat.

Mengenal Sepenuhnya

Mengenal Sepenuhnya

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. —Mazmur 139:2

Alam semesta kita sangatlah luas. Saat ini, bulan berputar mengelilingi bumi kita dengan kecepatan hampir 3.700 KM per jam. Bumi kita berputar mengelilingi matahari dengan kecepatan lebih dari 100.000 KM per jam. Matahari merupakan satu di antara 200 miliar bintang dan triliunan planet lainnya di galaksi kita, dan galaksi kita hanyalah satu dari 100 miliar galaksi lainnya yang beredar di angkasa. Sungguh mengagumkan!

Dibandingkan dengan alam semesta yang begitu luas, Bumi kita yang kecil ini bagaikan kerikil, dan setiap manusia ibarat sebutir pasir. Namun menurut Kitab Suci, Allah yang mengatur seluruh galaksi mengenal setiap dari kita yang teramat kecil ini dengan sepenuhnya. Dia melihat kita sebelum kita ada (Mzm. 139:13-16); Dia memperhatikan ketika kita menjalani hari demi hari dan memahami setiap buah pikiran kita (ay.1-6).

Terkadang semua itu terasa sulit untuk dipercaya. Bumi yang mungil ini dilanda berbagai masalah besar seperti perang dan kelaparan, dan kita bisa mempertanyakan pemeliharaan Allah pada saat kita mengalami penderitaan. Namun, ketika Raja Daud menulis Mazmur 139, ia sendiri sedang berada dalam krisis (ay.19-20). Dan ketika Yesus berkata bahwa Allah mengetahui jumlah helai rambut di kepala kita (Mat. 10:30), Dia sedang hidup di zaman penindasan Romawi. Ketika Alkitab berbicara mengenai perhatian dan pemeliharaan Allah, itu bukanlah suatu impian yang mengawang-awang, melainkan kebenaran yang nyata.

Pribadi agung yang menjaga galaksi-galaksi terus berputar itu juga mengenal kita sepenuhnya. Kebenaran itu dapat menolong kita di tengah masa-masa yang sulit. —Sheridan Voysey

Allah Bapa, Engkau memperhatikanku sama seperti Engkau menjaga bintang-bintang di langit. Terima kasih untuk kasih, kepedulian, dan perhatian-Mu.

Allah yang mengatur seluruh alam semesta memperhatikan dan mengenal kita sepenuhnya.