Menghapus Cap

Menghapus Cap

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8

Sebuah gereja di kota saya memiliki kartu sambutan pengunjung dengan tulisan unik yang menunjukkan kasih dan anugerah Allah bagi setiap orang. Kartu itu menyatakan, “Baik kamu . . . orang baik, orang berdosa, pecundang, pemenang”—dilanjutkan dengan banyak istilah lain yang suka digunakan untuk menggambarkan orang yang bermasalah—“pemabuk, orang munafik, penipu, penakut, orang aneh . . . Kami senang menyambutmu!” Salah seorang pendetanya mengatakan kepada saya, “Kami membacakan isi kartu tersebut dengan suara lantang bersama-sama dalam kebaktian tiap Minggu.”

Berapa sering kita diberi cap oleh seseorang dan membiarkan cap itu membentuk gambaran diri kita? Dan betapa mudahnya juga bagi kita untuk memberikan cap pada diri orang lain. Namun, anugerah Allah menghapus semua cap itu karena anugerah itu berakar pada kasih-Nya, bukan pada persepsi kita sendiri. Entah kita memandang diri kita hebat atau buruk, mampu atau tidak mampu, kita dapat menerima hidup kekal yang dikaruniakan Allah. Rasul Paulus mengingatkan para pengikut Yesus di Roma, pada “waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6).

Allah tidak menuntut kita untuk berubah dengan kekuatan kita sendiri. Sebaliknya Dia mengundang kita supaya datang apa adanya untuk menemukan pengharapan, pemulihan, dan kebebasan di dalam Dia. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ay.8). Tuhan siap dan bersedia menerima kita apa adanya. —David McCasland

Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih-Mu yang ajaib di dalam Yesus Kristus.

Pengampunan Allah mengangkat orang yang dicap pecundang dan merendahkan orang yang tinggi hati.

Sama Seperti Ayah

Sama Seperti Ayah

Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. —Yohanes 5:19

Bukankah menggemaskan saat melihat seorang anak meniru gerak-gerik orangtuanya? Sering kita melihat anak kecil duduk di kursi mobil dengan memegang setir khayalannya sambil mengamati terus gerakan ayahnya yang sedang mengemudi.

Saya ingat melakukan hal yang sama semasa kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ayah saya—dan saya yakin ayah merasa lebih senang lagi melihat saya meniru setiap tindakannya.

Saya pikir Allah Bapa tentu merasakan sukacita yang sama ketika Dia melihat Anak-Nya yang terkasih melakukan persis sama dengan apa yang dilakukan-Nya—mencari jiwa yang terhilang, menolong yang membutuhkan, dan menyembuhkan yang sakit. Yesus berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19).

Kita juga dipanggil untuk melakukan yang sama—menjadi “penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan [hidup] di dalam kasih” (Ef. 5:1-2). Sambil terus bertumbuh semakin menyerupai Yesus, kiranya kita selalu mengasihi seperti Bapa mengasihi, mengampuni seperti Dia mengampuni, peduli seperti Dia mempedulikan, dan menjalani hidup yang menyenangkan-Nya. Sungguh menyenangkan untuk meniru tindakan-Nya oleh kuasa Roh, dan upah kita adalah kasih sayang dan senyum lembut dari Bapa yang penuh kasih. —Leslie Koh

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menunjukkan jalan kepada Bapa. Tolong kami untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu dan Bapa setiap hari.

Allah Bapa memberi kita Roh Kudus untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya.

Akar yang Dalam

Akar yang Dalam

Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. —Lukas 24:45

Pohon sequoia, satu dari tiga spesies pohon redwoods, merupakan salah satu organisme paling besar dan paling lama bertahan hidup di dunia. Pohon tersebut dapat bertumbuh hingga ketinggian lebih dari 90 meter, dengan berat lebih dari 1,1 juta kilogram, dan hidup hingga 3.000 tahun. Namun, ukuran yang besar dan usia yang panjang dari pohon sequoia yang megah itu banyak bergantung pada apa yang terdapat di bawah permukaan tanah. Akar-akar pohon yang saling terjalin sampai kedalaman 3-4 meter, dan terbentang luas hingga satu hektar tanah, menjadi dasar yang kuat untuk menopang pohon dengan tinggi dan bobot yang luar biasa tersebut.

Namun, sistem akar pohon redwood yang tersebar luas itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan sejarah, agama, dan penantian suatu bangsa yang menjadi dasar bagi kehidupan Yesus. Pada suatu peristiwa, Dia berkata kepada sekelompok pemimpin agama bahwa Kitab Suci yang mereka cintai dan yakini sebenarnya memberikan kesaksian tentang diri-Nya (Yoh. 5:39). Dalam sinagoge di Nazaret, Yesus membuka gulungan kitab Yesaya, membacakan gambaran mengenai Mesias Israel, dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21).

Kemudian, setelah kebangkitan-Nya, Yesus menolong murid-muridNya untuk memahami bagaimana perkataan Musa, perkataan para nabi, dan bahkan puji-pujian Israel menunjukkan mengapa Dia harus menderita, mati, dan bangkit dari kematian (24:46).

Sungguh agung dan indah melihat bahwa kehidupan Yesus memiliki akar yang kuat dalam sejarah dan Kitab Suci dari suatu bangsa, dan melihat bagaimana hidup kita pun sangat didasari pada kebutuhan kita akan Dia. —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolong kami agar tidak pernah lupa bahwa sejarah Israel dan Kitab Suci mengajarkan kami untuk sadar bahwa kami membutuhkan Yesus, Anak-Mu.

Kitab Suci menolong kita untuk melihat bahwa kita membutuhkan Yesus.

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang . . . akan melepaskan aku. —1 Samuel 17:37

Ketika masih di SMA, saya pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji selama lebih dari dua tahun. Ada hal-hal tertentu dalam pekerjaan itu yang terasa sulit. Misalnya menghadapi pelanggan yang marah karena ia menemukan ada selembar keju yang tidak diinginkannya di dalam roti isi yang tidak saya buat. Segera setelah keluar dari sana, saya melamar pekerjaan komputerisasi di kampus saya. Atasan saya lebih tertarik dengan pengalaman kerja saya di restoran cepat saji daripada keahlian komputer saya. Mereka ingin tahu cara saya menghadapi orang. Pengalaman di tempat kerja yang tidak menyenangkan itu justru telah menyiapkan saya untuk pekerjaan yang lebih baik!

Daud yang masih muda pernah berhasil melewati sebuah peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan di mata kita. Ketika Israel ditantang untuk mengirimkan seseorang sebagai lawan Goliat, tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk melakukannya. Kecuali Daud. Raja Saul sebenarnya enggan mengirim Daud berperang. Namun, Daud menjelaskan bahwa sebagai gembala, ia pernah melawan dan membunuh singa dan beruang demi menyelamatkan domba-dombanya (1SAM. 17:34-36). Dengan percaya diri, ia menyatakan, “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ay.37).

Bekerja sebagai gembala tidak membuat Daud dihormati banyak orang, tetapi hal itu telah menyiapkannya untuk berperang melawan Goliat, dan pada akhirnya menjadi raja teragung bangsa Israel. Kita mungkin sedang berada dalam situasi-situasi yang sulit, tetapi melalui semua itu Allah mungkin sedang menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar! —Julie Schwab, penulis tamu

Tuhan, tolong aku untuk bertahan selama masa-masa yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Aku percaya bahwa mungkin Engkau sedang menyiapkan aku untuk sesuatu yang lebih besar.

Allah memakai situasi saat ini untuk menyiapkan kita bagi masa depan.

Bertatap Muka

Bertatap Muka

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11

Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.

Kita melihat hubungan seperti itu terjadi antara Tuhan dengan Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Musa semakin mantap mengikut Allah. Ia bahkan terus mengikut Allah walaupun bangsanya memberontak dan menyembah berhala. Setelah bangsa itu menyembah anak lembu tuangan dan bukan Tuhan (lihat Kel. 32), Musa mendirikan kemah di luar perkemahan sebagai tempat untuk bertemu Allah, sementara bangsa itu melihatnya dari kejauhan (33:7-11). Ketika tiang awan yang melambangkan kehadiran Allah turun ke kemah itu, Musa berbicara atas nama bangsanya. Allah berjanji bahwa kehadiran-Nya akan menyertai mereka (ay.14).

Karena kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita tidak lagi membutuhkan seseorang seperti Musa untuk berbicara kepada Allah bagi kita. Sebaliknya, seperti yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya, kita dapat menjalin persahabatan dengan Allah melalui Kristus (Yoh. 15:15). Kita pun dapat berjumpa dengan Allah, saat Dia berbicara kepada kita seperti seseorang berbicara kepada sahabatnya. —Sheridan Voysey

Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal. Tuhan Yesus, Juruselamat, Pengasihku yang kekal! —Carrie E. Breck (Kidung Jemaat, No. 267)

Kita dapat berbicara kepada Tuhan layaknya berbicara dengan sahabat.