Mematahkan Belenggu

Mematahkan Belenggu

Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa. —Efesus 1:7

Kami merasakan kunjungan ke Christ Church Cathedral di Stone Town, Zanzibar, begitu menyentuh hati. Itu karena bangunan katedral tersebut tepat berada di lokasi yang sebelumnya merupakan pasar budak terbesar di Afrika Timur. Para perancang katedral itu ingin menunjukkan melalui simbol-simbol fisik bagaimana Injil telah mematahkan belenggu perbudakan. Lokasi tersebut tidak lagi menjadi lambang dari kekejaman dan kejahatan yang mengerikan, melainkan lambang dari anugerah Allah yang menjadi nyata.

Mereka yang membangun katedral tersebut ingin mengekspresikan bagaimana kematian Yesus di kayu salib memberikan kebebasan dari dosa. Itulah yang disampaikan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan” (Ef. 1:7). Dalam ayat tersebut, kata penebusan mengacu pada gagasan di Perjanjian Lama tentang tempat jual-beli, ketika orang membeli kembali seseorang atau suatu barang. Yesus membeli kembali manusia dari hidupnya yang diperbudak dosa dan kesalahan.

Dalam kata-kata pembuka Paulus di dalam suratnya tersebut (ay.3-14), kita membaca bagaimana ia begitu melimpah dengan sukacita saat memikirkan kemerdekaannya di dalam Kristus. Dalam pujian demi pujian, Paulus merujuk kepada karya anugerah Allah bagi kita melalui kematian Yesus, yang telah membebaskan kita dari belenggu dosa. Kita tidak perlu lagi diperbudak oleh dosa, karena kita telah dimerdekakan untuk hidup bagi Allah dan demi kemuliaan-Nya. —Amy Boucher Pye

Allah Bapa, melalui kematian Anak-Mu, Engkau telah memberi kami hidup kekal. Tolong kami untuk membagikan karunia tersebut kepada seseorang hari ini.

Yesus telah menebus kita dari perbudakan dosa.

Aksi Sosial Sekolah Pondok Domba

Aksi Sosial Sekolah Pondok Domba

Dokumentasi Foto : http://bit.ly/2Fu2yPS

Pada hari sabtu, 28 April 2018 pemuda GKPS Jemaat Khusus Cijantung mengunjungi suatu sekolah pondok domba yang terletak di Kalijodo, Jakarta Barat.   Seluruh pemuda mengunjungi tempat tujuan.

img-20180428-wa0037

Setiba sampai disana, kami disambut hangat oleh pengurus sekolah domba yang letaknya persis di bawah jembatan KM 17 dan juga tanpa basa basi pun kami berbaur dengan anak-anak sekolah domba yang saat itu sangat senang dengan kehadiran kami.

img-20180428-wa0112

img-20180428-wa0114

img-20180428-wa0103

img-20180428-wa0099

img-20180428-wa0093

Dilanjutkan dengan bernyanyi, bermain, mewarnai dan menebak kuis mereka antusias penuh semangat mengikuti kegiatan tersebut.

1

2

3

Tibalah saat pembagian hadiah untuk anak-anak yang menjadi juara dalam lomba yang disiapkan panitia.

4

5

sebagai ucapan terimakasih kepada pengurus sekolah pondok domba, kami memberikan sedikit kenang-kenangan yang semoga bermanfaat untuk anak-anak di sekolah pondok domba.

6

Sebelum kami berpisah, kami berfoto bersama dengan anak-anak sekolah pondok domba sebagai ungkapan syukur kami kepada Tuhan, karena sudah diingatkan bahwa kami mempunyai saudara - saudara seiman yang membutuhkan. Semoga kita bisa berjumpa di lain waktu.

img-20180428-wa0106

img-20180428-wa0101

Terimakasih Sekolah Pondok Domba.

Tuhan Memberkati

Dipakai oleh Allah

Dipakai oleh Allah

Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. —2 Timotius 1:11

Ketika guru sekolah anak saya meminta saya untuk melayani sebagai pendamping dalam sebuah kamp, saya merasa ragu. Bagaimana saya bisa menjadi panutan bagi anak-anak dengan banyaknya kesalahan saya di masa lalu dan saya pun masih bergumul dengan kebiasaan-kebiasaan lama saya yang tidak baik? Allah memang menolong saya untuk mengasihi dan membesarkan anak saya, tetapi saya ragu Dia dapat memakai saya untuk melayani anak lain.

Saya masih sering gagal menyadari bahwa Allah—satu-satunya Pribadi yang sempurna dan yang sanggup mengubah hati dan hidup seseorang—terus mengubah kita seiring berjalannya waktu. Roh Kudus mengingatkan saya bagaimana Paulus menguatkan Timotius untuk menerima pelayanannya, bertekun dalam iman, dan memakai karunia yang telah diterimanya dari Allah (2Tim. 1:6). Timotius bisa berani karena Allah, Sumber kekuatannya, akan menolongnya untuk mengasihi dan menguasai diri sambil ia terus bertumbuh dan melayani mereka yang dipercayakan kepadanya (ay.7).

Kristus menyelamatkan dan memampukan kita untuk memuliakan-Nya dengan hidup kita, bukan karena kita memenuhi syarat tertentu, tetapi karena kita adalah anggota keluarga-Nya yang berharga (ay.9).

Kita dapat bertekun dengan penuh keyakinan ketika kita tahu bahwa kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama. Kristus menyelamatkan dan memberi kita suatu tujuan yang lebih luas daripada pandangan kita yang terbatas tentang dunia. Ketika kita mengikut Yesus hari demi hari, Dia mengubah sekaligusmemakai kita untuk menguatkan sesama dengan membagikan kasih dan kebenaran-Nya ke mana pun Dia mengutus kita. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau meyakinkan kami untuk bergantung kepada-Mu sepenuhnya ketika kami menceritakan tentang Engkau dengan penuh sukacita, keyakinan, dan keberanian kepada orang lain.

Mengenal Sumber kekuatan kita secara pribadi akan memberi kita keyakinan diri dalam menjalani peran kita sebagai hamba Sang Raja.

× WhatsApp Kami