Tidak Sempurna tetapi Dikasihi

Tidak Sempurna tetapi Dikasihi

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8

Di Jepang, produk makanan disiapkan dan dikemas rapi. Tidak hanya harus memiliki rasa yang enak, makanan itu juga harus terlihat indah. Saya sering bertanya-tanya apakah saya membeli makanan atau kemasannya! Karena orang Jepang menekankan pada kualitas yang bagus, produk-produk yang cacat sedikit saja sering dibuang. Namun, beberapa tahun terakhir, produk-produk wakeari makin populer. Wakeari adalah bahasa Jepang dari “ada alasannya”. Produk-produk itu tidak dibuang, tetapi dijual dengan harga murah karena “ada alasannya”—misalnya ada retakan kecil pada keripik beras.

Seorang teman yang tinggal di Jepang mengatakan bahwa wakeari juga menjadi istilah bagi orang-orang yang terlihat tidak sempurna.

Yesus mengasihi semua orang—termasuk para wakeari yang dikucilkan masyarakat. Ketika seorang wanita yang pernah hidup dalam dosa mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah seorang Farisi, ia pun pergi ke sana dan berlutut di belakang Yesus dekat kaki-Nya sambil menangis (Luk. 7:37-38). Orang Farisi menjuluki wanita itu “seorang berdosa” (ay.39), tetapi Yesus menerimanya. Dia berbicara dengan lembut kepada wanita itu dan meyakinkannya bahwa dosa-dosanya telah diampuni (ay.48).

Yesus mengasihi para wakeari, orang-orang yang tidak sempurna—termasuk kamu dan saya. Dan pernyataan kasih-Nya yang terbesar bagi kita adalah: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Sebagai penerima kasih-Nya, kiranya kita juga menjadi saluran kasih-Nya kepada orang-orang yang tidak sempurna di sekitar kita. Kita melakukannya supaya mereka juga tahu bahwa mereka boleh menerima kasih Allah meskipun mereka tidak sempurna. —Albert Lee

Tuhan, aku tahu diriku tidak sempurna. Tolonglah aku untuk tidak bersikap munafik dan berpura-pura tahu segalanya. Bukalah hatiku untuk menerima dan mengasihi orang lain sehingga mereka pun tahu Engkau peduli kepada mereka.

Kasih Allah sanggup memulihkan kembali hidup orang yang hancur

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/tidak-sempurna-tetapi-dikasihi/

Kesanggupan Berempati

Kesanggupan Berempati

Ingatlah orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga beradadi dalam penjara bersama mereka. —Ibrani 13:3 BIS

Kenakanlah baju R70i Age Suit dan kamu akan segera merasa 40 tahun lebih tua, dengan mengalami gangguan pada penglihatan, kehilangan daya pendengaran, dan berkurangnya mobilitas. Baju Age Suit tersebut dirancang untuk menolong para pengasuh agar dapat lebih memahami pasien mereka. Setelah mencoba baju itu, Geoffrey Fowler, koresponden Wall Street Journal, menulis, “Pengalaman yang tak terlupakan dan sesekali menggelisahkan itu membuka mata kita bukan hanya terhadap usia senja, tetapi juga bagaimana perangkat realitas virtual dapat mengajarkan empati dan membentuk persepsi kita tentang dunia yang ada di sekitar kita.”

Empati adalah kesanggupan untuk memahami dan menyelami perasaan orang lain. Di tengah masa penganiayaan berat terhadap para pengikut Yesus, penulis kitab Ibrani mendorong orang percaya untuk “[mengingat] orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga berada di dalam penjara bersama mereka. Dan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, hendaklah kalian ingat kepada mereka seolah-olah kalian juga diperlakukan demikian” (13:3 BIS).

Itulah yang telah dilakukan Sang Juruselamat bagi kita. Yesus Kristus menjadi manusia, sama seperti kita, “dalam segala hal . . . Dengan pelayanan-Nya itu dosa manusia dapat diampuni. Dan karena Ia sendiri pernah menderita dan dicobai, Ia dapat menolong orang-orang yang terkena cobaan” (2:17-18 BIS).

Kristus Tuhan, yang menjadi sama seperti kita, memanggil kita untuk berempati kepada orang lain “seolah-olah [kita] juga . . . bersama mereka” di saat mereka membutuhkan pertolongan.—David McCasland

Tuhan Yesus, kami mengagumi kerelaan-Mu untuk menjadi manusia seperti kami demi menyelamatkan kami. Mampukan kami untuk berempati kepada sesama kami yang membutuhkan pertolongan hari ini.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk berempati kepada orang lain seolah-olah kita berada dalam keadaan yang sama dengan mereka.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/kesanggupan-berempati/

Tahu Lebih Baik

Tahu Lebih Baik

Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya. —2 Raja-Raja 22:11

Setelah membawa pulang anak angkat kami dari luar negeri, saya begitu ingin melimpahinya dengan kasih sayang. Saya ingin menyediakan apa yang belum pernah dinikmatinya, terutama makanan sehat untuk gizinya. Namun, meskipun kami sudah mengusahakan yang terbaik, termasuk berkonsultasi dengan ahli gizi, pertumbuhan tubuhnya sangat lambat. Setelah hampir tiga tahun, baru kami tahu bahwa ia mengidap alergi akut terhadap sejumlah bahan makanan. Setelah menghapus bahan-bahan itu dari menunya, putra saya pun bertambah tinggi 12,5 cm hanya dalam waktu beberapa bulan. Meski menyesal karena lama tidak menyadari bahwa saya telah memberinya makanan yang menghambat pertumbuhan, kini saya senang atas kesehatannya yang berkembang pesat!

Saya menduga Raja Yosia merasakan hal yang sama saat mengetahui bahwa kitab Taurat yang hilang di Bait Allah selama bertahun-tahun kini telah ditemukan. Sama seperti saya menyesal karena tanpa sengaja telah menghambat pertumbuhan putra saya, Yosia menyesal telah mengabaikan kehendak Allah yang terbaik bagi umat-Nya (2Raj. 22:11). Meskipun dipuji karena melakukan apa yang benar di mata Tuhan (ay.2), setelah menemukan kitab Taurat itu Yosia jadi tahu lebih baik bagaimana menghormati Allah. Dengan pengetahuan barunya itu, ia memimpin bangsa Israel beribadah kembali kepada Allah seperti yang dahulu diperintahkan-Nya kepada mereka (23:22-23).

Ketika melalui Alkitab kita belajar bagaimana menghormati Allah, kita mungkin menyesali saat-saat kita pernah melalaikan kehendak-Nya bagi kita. Namun, kiranya kita terhibur karena Allah menyembuhkan dan memulihkan kita, serta membimbing kita dengan penuh kasih sehingga kita tahu lebih baik tentang kehendak-Nya. —Kirsten Holmberg

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menunjukkan padaku cara menjalani hidup yang menyenangkan-Mu. Ampuni aku atas hal-hal yang kulalaikan di masa lalu. Tolonglah aku untuk menghormati dan menaati-Mu mulai saat ini.

Allah senang memberi kita awal yang baru.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/tahu-lebih-baik/

× WhatsApp Kami