Baca: Hagai 1

“Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4)

Sebelum Hagai tampil sebagai nabi, puluhan ribu orang Yehuda menunda pembangunan Bait Suci setelah kembali dari pembuangan di Babel selama beberapa belas tahun. Selain karena ada serangan musuh, pembangunan itu tertunda karena mereka lebih sibuk membangun rumah mereka sendiri. Hagai pun tampil memberitakan firman Tuhan demi mengingatkan mereka. Dua kali Tuhan berkata, “Perhatikan keadaanmu!” (ay. 5, 7), hendak menekankan bahwa pembangunan Bait Suci adalah untuk perbaikan keadaan umat itu sendiri. Dia menjanjikan berkat dan kepuasan jika umat-Nya tak mengabaikan Bait-Nya (ay. 6). Membangun Bait Suci, dalam pengertian yang lebih luas bukanlah pelayanan atau hal-hal gerejawi semata. Dalam Perjanjian Baru, diri kita disebut sebagai tempat tinggal Roh Kudus (1Kor. 6:19). Ya, tubuh kita adalah bait atau rumah bagi Roh Kudus. Sudahkah kita terus membangunnya, menjadikannya tempat tinggal kesukaan Tuhan? Apakah kita menjaga kekudusan pikiran dan hati serta mengendalikan hawa nafsu, dan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada-Nya? Ataukah kita telah melalaikannya, hidup secara sembrono sehingga tubuh kita menjadi “reruntuhan”? Baiklah kita kembali kepada firman Tuhan. Mari kita berbalik dan memohon penyertaan Tuhan untuk melanjutkan kembali karya-Nya dalam hidup kita. Kita kembali berpegang pada kehendak- Nya sehingga kita dapat menjalani hidup yang berkenan kepada- Nya dan mendatangkan damai sejahtera.

 

MENJADIKAN KRISTUS SEBAGAI TUHAN DALAM HATI  ADALAH PROSES YANG BERKELANJUTAN, BUKAN HANYA SATU KALI

 

Sumber : http://www.renunganharian.net/2017/95-september/2270-membangun-bait-suci.html