Mata Air Keselamatan

Mata Air Keselamatan

Baca: Yesaya 12

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. —Yesaya 12:3

Biasanya orang mengebor hingga ke dalam perut bumi guna mengambil contoh bebatuan, menggali sumber minyak, atau mencari air.

Di Yesaya 12, kita belajar bahwa Allah menginginkan umat-Nya, yang sedang tinggal di padang gurun baik secara fisik maupun spiritual, untuk menemukan “mata air keselamatan” dari-Nya. Yesaya menyamakan keselamatan dari Allah dengan mata air yang memancarkan air yang paling menyegarkan. Setelah bertahun-tahun lamanya berpaling dari Allah, bangsa Yehuda ditentukan-Nya untuk mengalami masa pembuangan ketika Dia mengizinkan bangsa-bangsa asing untuk menaklukkan Yehuda dan menyerakkan penduduknya. Namun, Nabi Yesaya berkata bahwa sekelompok sisa dari umat-Nya pada akhirnya akan kembali ke tanah kelahiran mereka sebagai tanda bahwa Allah menyertai mereka (Yes. 11:11-12).

Yesaya 12 merupakan kidung pujian kepada Allah atas kesetiaan-Nya dalam memenuhi segala janji-Nya, terutama janji keselamatan. Yesaya membesarkan hati umat Allah dengan menyampaikan bahwa dari “mata air keselamatan” Allah, mereka akan menerima kesegaran berupa anugerah, kekuatan, dan sukacita Allah (ay.1-3). Semua itu akan menyegarkan dan menguatkan hati mereka dan mendorong mereka untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah (ay.4-6).

Allah rindu setiap dari kita, melalui pengakuan dosa dan pertobatan, menemukan kesegaran sukacita yang terdapat dalam mata air keselamatan-Nya yang kekal. —Marvin Williams

Apa yang akan kamu lakukan untuk mereguk dari mata air Allah agar kamu menerima sukacita, kesegaran, dan kekuatan-Nya?

Mata air keselamatan dari Allah tidak akan pernah kering.

Kebahagiaan Tertinggi

Kebahagiaan Tertinggi

Baca: Yohanes 8:31-38

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. —Yohanes 8:31-32

“Semua orang melakukannya” tampaknya menjadi argumen terbaik saat saya masih muda. Namun argumen semacam itu tak pernah berhasil melunakkan orangtua saya, sekalipun saya telah berusaha keras memperoleh izin untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap tidak aman atau tidak bijaksana.

Saat usia bertambah, kita menambahkan alasan dan pembenaran pada daftar argumen kita untuk melakukan apa yang kita kehendaki: “Takkan ada yang terluka.” “Ini bukan hal yang ilegal.” “Ia yang lebih dahulu melakukannya kepadaku.” “Ia takkan tahu.” Di balik tiap argumen itu, ada keyakinan bahwa apa yang kita inginkan lebih penting daripada apa pun.

Gawatnya, cara berpikir yang sesat itu bisa menjadi dasar keyakinan kita akan Allah. Salah satu kebohongan yang terkadang kita percayai adalah kita, bukan Allah, merupakan pusat dari segala sesuatu. Kita berpikir kita akan bebas dan bahagia hanya apabila kita dapat mengatur segalanya sesuai keinginan kita. Kebohongan itu begitu meyakinkan karena menjanjikan cara yang lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan keinginan kita. Kita berdalih, “Allah itu kasih, jadi Dia ingin aku melakukan apa pun yang membahagiakan diriku.” Namun cara berpikir seperti itu akan menghasilkan sakit hati, bukan kebahagiaan.

Yesus berkata kepada mereka yang percaya kepada-Nya bahwa kebenaran akan benar-benar memerdekakan mereka (Yoh. 8:31-32). Namun Dia juga memperingatkan, “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (ay.34). Sumber kebahagian tertinggi adalah kemerdekaan yang kita alami saat kita menerima kebenaran bahwa Yesus adalah jalan menuju kehidupan yang utuh dan bahagia. —Julie Ackerman Link

Tuhan, kami mengakui kecenderungan kami untuk mencari pembenaran atas segalanya demi mendapatkan kemauan kami. Tuntun kami hari ini agar kami memilih untuk menaati perintah-Mu daripada mengejar hasrat diri sendiri.

Tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan sejati.

Mulai dari Atas

Mulai dari Atas

Baca: Matius 6:5-10

Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada- Nya. —Matius 6:8

Rumah saya terletak di tepi anak sungai pada ngarai di dekat sebuah gunung besar. Setelah salju mencair di musim semi dan hujan turun dengan lebat, aliran anak sungai itu meluap dan lebih menyerupai aliran sungai. Banyak orang pernah tenggelam di anak sungai itu. Suatu hari saya menyusuri anak sungai itu hingga ke sumbernya—padang salju di puncak gunung. Dari sanalah salju yang mencair memulai perjalanannya menuruni gunung dan bergabung dengan aliran air lainnya membentuk anak sungai yang mengalir di bawah rumah saya.

Saat merenungkan tentang doa, saya sempat terpikir bahwa saya sering berdoa dengan salah arah. Saya biasa berdoa mulai dari bawah, dengan menyatakan segala kebutuhan saya sendiri dan membawanya kepada Allah. Saya memberi tahu Allah, seolah-olah Dia belum tahu apa-apa. Saya memohon terus, seakan-akan berharap bahwa itu akan mengubah pikiran Allah yang mungkin enggan mengabulkannya. Namun yang benar adalah saya harus memulainya dari atas, dari sumber aliran berkat itu.

Saat kita membalik arah doa kita, kita akan menyadari bahwa Allah memang selalu peduli pada pergumulan kita—kekasih hati kita yang menderita kanker, keluarga yang hancur, anak remaja yang memberontak—jauh melampaui kepedulian kita. Bapa kita tahu apa yang kita butuhkan (Mat. 6:8).

Anugerah, seperti air, mengalir ke bagian yang paling rendah. Demikian pula belas kasihan. Kita mulai berdoa dengan memandang kepada Allah dan bertanya kepada-Nya apa yang dapat kita perbuat bagi pekerjaan-Nya di bumi. Dengan titik tolak yang baru itu, persepsi kita berubah. Kita melihat karya Sang Pelukis Agung di alam semesta. Kita melihat sesama sebagai individu kekal yang diciptakan sesuai gambar Allah. Wajarlah jika kita bersyukur dan memuji nama-Nya! —Philip Yancey

Ya Tuhan, aku memuji-Mu atas kasih dan perhatian-Mu yang begitu besar kepadaku. Entah apa yang dapat kulakukan tanpa-Mu.

Doa menyalurkan berkat dari Allah bagi kebutuhan kita.

Lonceng Pengingat

Lonceng Pengingat

Baca: Mazmur 37:21-31

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. —Mazmur 37:24

Menara jam di Westminster, dengan loncengnya yang dikenal dengan nama Big Ben, merupakan simbol terkenal di kota London, Inggris. Konon melodi dari dentangan lonceng itu diambil dari nada lagu “I Know That My Redeemer Liveth” (Ku Tahu Penebusku Hidup) dari Messiah karya Handel. Lirik pun ditambahkan dan dipajang di ruang menara jam tersebut:

Tuhan, di sepanjang waktu ini, kiranya Engkau menuntun kami; Maka oleh kuasa-Mu, kami takkan goyah.

Lirik itu mengacu pada Mazmur 37: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (ay.23-24). Perhatikan betapa eratnya keterlibatan Allah dalam pengalaman hidup anak-anak- Nya: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” (ay.23). Ayat 31 menambahkan, “Taurat Allahnya ada di dalam hatinya; langkah-langkahnya tidak goyah.”

Sungguh menakjubkan! Sang Pencipta alam semesta tidak hanya menopang dan menolong kita, tetapi Dia juga sangat mempedulikan setiap saat dalam kehidupan kita. Maka tidak heran apabila dengan penuh keyakinan Rasul Petrus dapat mengundang kita, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr. 5:7). Karena jaminan akan pemeliharaan-Nya terus bergaung di dalam hati kita, kita memperoleh keberanian untuk menghadapi apa saja yang menerpa hidup kita. —Bill Crowder

Bapa yang Mahakasih, terima kasih karena setiap bagian dalam kehidupanku berarti bagi-Mu. Beriku semangat di dalam pergumulanku sehingga aku dapat menempuh jalan yang mencerminkan kasih-Mu yang besar dan memuliakan nama-Mu yang agung.

Tiada tempat yang lebih aman daripada di dalam genggaman Allah.

Saat-Saat Kesepian

Saat-Saat Kesepian

Baca: 2 Timotius 4:9-18

Akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku. —Efesus 1:16

Di antara tumpukan surat yang saya terima setelah masa Natal, saya menemukan sesuatu yang berharga, yakni selembar kartu Natal buatan tangan dengan lukisan yang dibuat di atas karton tebal hasil daur ulang. Sapuan cat air yang sederhana itu melukiskan suasana perbukitan di musim dingin yang dicerahkan oleh pepohonan hijau yang asri. Di bagian tengah bawah, tergores tulisan tangan yang dibingkai gambar buah beri merah, dengan kata-kata: Damai besertamu!

Pelukisnya adalah seorang narapidana sahabat saya. Ketika mengagumi hasil karyanya itu, saya pun tersadar bahwa sudah dua tahun lamanya saya tidak menulis surat untuknya!

Dahulu kala, ada seorang narapidana lain yang pernah dilupakan ketika berada di penjara. “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku,” tulis Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim. 4:11). “Tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku” (ay.16). Paulus tetap dikuatkan sekalipun di dalam penjara, dan ia menulis, “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku” (ay.17). Namun Paulus tentu merasakan pedihnya kesepian karena dilupakan.

Di sisi belakang dari kartu Natal yang indah itu, teman saya menulis, “Kiranya damai, sukacita, pengharapan, dan kasih yang dianugerahkan melalui kelahiran Yesus menyertaimu dan keluargamu.” Ia menutup pesannya dengan tanda tangan, “Saudaramu di dalam Kristus.” Saya memajang kartu itu di dinding sebagai pengingat untuk mendoakannya. Kemudian, saya menulis surat untuknya.

Di sepanjang tahun mendatang, marilah kita mengulurkan tangan kepada saudara-saudari kita yang kesepian. —Tim Gustafson

Siapakah orang-orang kesepian yang terpikirkan oleh saya saat ini? Pendatang baru di komunitas saya? Para narapidana? Pasien di rumah sakit atau di panti jompo? Apa yang dapat saya lakukan, meski kecil, untuk melayani mereka?

Jalinlah persahabatan dan kuatkanlah mereka yang kesepian.

Apakah Dia Mendengarkan?

Apakah Dia Mendengarkan?

Baca: Matius 26:39-42;27:45-46

Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? —Matius 27:46

 

Kerap kali aku merasa seolah Allah tak mendengarkanku.” Katakata itu diucapkan seorang wanita yang berusaha tetap teguh dalam perjalanan imannya bersama Allah sementara ia masih mendampingi suaminya yang kecanduan alkohol. Kata-kata itu juga menggemakan jeritan hati banyak orang percaya. Bertahun-tahun lamanya, wanita itu meminta Allah untuk mengubah suaminya. Namun perubahan itu tidak pernah terjadi.

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita berulang kali meminta Allah untuk memberikan sesuatu yang baik—sesuatu yang dengan mudah memuliakan Allah—tetapi jawabannya tidak juga datang? Kita berpikir, apakah Allah mendengarkan kita atau tidak?

Mari kita memperhatikan kehidupan Yesus, Juruselamat kita. Di taman Getsemani, Dia bergumul berjam-jam dalam doa, mencurahkan isi hati-Nya dan memohon, “Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Mat. 26:39). Namun dengan jelas Bapa menjawab “Tidak.” Demi memberikan keselamatan, Allah mengutus Yesus untuk mati di kayu salib. Meskipun Yesus merasa seolah-olah Bapa-Nya telah meninggalkan Dia, Dia terus berdoa dengan tekun dan sabar karena Dia percaya bahwa Allah mendengarkan.

Ketika kita berdoa, mungkin kita tidak melihat bagaimana cara Allah bekerja atau tidak memahami bagaimana Dia akan mendatangkan kebaikan di tengah semua kesulitan yang ada. Maka, kita harus mempercayai-Nya. Kita harus melepaskan hak kita untuk tahu dan mengizinkan Allah melakukan yang terbaik menurut-Nya.

Kita harus menyerahkan apa yang tidak kita ketahui kepada Allah yang Mahatahu. Dia senantiasa mendengarkan dan bekerja menurut cara-Nya. —Dave Branon

Tuhan, kami tidak perlu tahu mengapa doa-doa kami terkadang tak terjawab. Tolong kami untuk menantikan waktu-Mu, karena Engkau baik.

Ketika kita berlutut untuk berdoa, Allah menyendengkan telinga-Nya untuk mendengarkan kita.

Segala Kebaikan-Nya

Segala Kebaikan-Nya

Baca: Mazmur 103

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2

Perjalanan hidup kita sering menjadi sulit karena perhatian kita begitu tersita pada apa yang kita pikir kita butuhkan saat ini sehingga kita lupa pada apa yang sesungguhnya sudah kita miliki. Saya diingatkan akan hal itu ketika paduan suara di gereja kami menyanyikan sebuah pujian yang indah dari Mazmur 103. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (ay.2). Bagi kita, Tuhan itu maha pengampun, penyembuh, penebus, penyedia, pemuas, dan pembaru (ay.4-5). Bagaimana mungkin kita melupakan semua itu? Namun kenyataannya, itulah yang sering kita lakukan ketika pengalaman hidup seharihari membuat perhatian kita tersita oleh berbagai kebutuhan yang mendesak, kegagalan yang berulang, dan keadaan yang tidak lagi dapat kita kendalikan.

Penulis mazmur ini mengajak kita untuk mengingat, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih. . . . Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia” (ay. 8,10-11).

Dalam perjalanan iman kita, kita merendahkan diri datang kepada Yesus Kristus karena ketidaklayakan kita. Kita merasa sama sekali tidak berhak menerima anugerah-Nya dan dibuat takjub oleh kasih-Nya yang berlimpah. Itu semua mengingatkan kita akan segala kebaikan-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku” (ay.1). —David McCasland

Bapa Surgawi, kami berdiam diri sejenak untuk mengingat-ingat segala yang kami miliki di dalam Engkau. Beri kami mata untuk melihat berkat pemeliharaan-Mu dan tolong kami untuk mengingat setiap kebaikan yang telah Engkau berikan kepada kami.

Kasih terbukti ketika Allah menjadi manusia.

Hadiah Terbaik

Hadiah Terbaik

Baca: Roma 11:33-12:2

[Persembahkan] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1

Minggu-minggu setelah Natal merupakan waktu-waktu paling sibuk di Amerika Serikat bagi bagian pengembalian barang. Itulah saatnya orang menukarkan hadiah yang tidak mereka inginkan dengan barang yang benar-benar mereka inginkan. Namun kamu mungkin mengenal beberapa orang yang tampaknya selalu memberikan hadiah yang terbaik. Bagaimana caranya mereka tahu persis apa yang tepat dan memang diinginkan orang lain? Kuncinya tidak terletak pada nilai uang yang dikeluarkan, tetapi pada sikap yang mau mendengarkan orang lain dan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang mereka sukai dan hargai.

Prinsip itu berlaku untuk keluarga dan teman, tetapi bagaimana dengan Allah? Adakah sesuatu yang berarti atau berharga yang dapat kita berikan kepada Allah? Adakah yang tidak Dia miliki?

Nyanyian pujian kepada Allah tentang keagungan hikmat, pengetahuan, dan kemuliaan-Nya dalam Roma 11:33-36 dilanjutkan dengan panggilan untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (12:1). Alih-alih dibentuk menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah “oleh pembaharuan budi [kita]” (ay.2).

Hadiah terbaik apakah yang dapat kita berikan kepada Allah hari ini? Dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan kasih, kita dapat mempersembahkan diri kita kepada Allah—segenap hati, pikiran, dan kehendak kita. Itulah yang Tuhan rindu terima dari setiap orang. —David McCasland

Tuhanku, aku ini milikmu. Aku ingin mempersembahkan diriku kepada-Mu— hati, pikiran, dan kehendakku—untuk melayani-Mu dengan rela dan bersyukur atas semua yang telah Engkau lakukan bagiku.

Hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada Allah adalah diri kita sendiri.

Hidup Bersyukur

Hidup Bersyukur

Baca: Mazmur 23

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku. —Mazmur 23:6

Karena ingin bertumbuh semakin matang dalam kehidupan rohani dan semakin giat mengucap syukur, Sue membuat stoples yang diberinya label Hidup Bersyukur. Setiap malam ia menuliskan satu hal yang disyukurinya dari Allah pada secarik kertas kecil dan memasukkannya ke dalam stoples itu. Adakalanya dalam satu hari ia dapat menuliskan banyak ucapan syukur, tetapi di hari-hari yang berat, ia bergumul untuk menemukan satu hal yang membuatnya bersyukur. Pada akhir tahun, ia mengeluarkan semua kertas dari dalam stoples tersebut dan membaca lagi semua tulisannya. Ia pun kembali bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya. Allah telah memberinya hal-hal sederhana seperti indahnya matahari saat terbenam atau senja yang sejuk untuk berjalan-jalan di taman, dan di saat-saat lain Dia telah memberikan kekuatan untuk menangani situasi yang sulit atau telah menjawab doanya.

Penemuan Sue mengingatkan saya pada apa yang dikatakan pemazmur Daud tentang pengalamannya (Mzm. 23). Allah menyegarkannya dengan “padang yang berumput hijau” dan “air yang tenang” (ay.2-3). Dia memberikan tuntunan, perlindungan, dan penghiburan (ay.3-4). Daud menyimpulkan: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku” (ay.6).

Tahun ini, saya akan membuat stoples Hidup Bersyukur. Mungkin kamu juga ingin membuatnya. Menurut saya, kita akan melihat begitu banyak alasan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah—antara lain sahabat dan keluarga yang dikaruniakan-Nya kepada kita serta segala kebutuhan jiwa raga dan rohani kita yang dipenuhi-Nya. Kita akan melihat bahwa kebaikan dan kemurahan Allah mengikuti kita seumur hidup kita. —Anne Cetas

Tuhanku, Engkau telah memberkatiku begitu banyak dan tak terhingga. Terima kasih, ya Tuhan, untuk kasih-Mu kepadaku.

Ketika kamu memikirkan segala sesuatu yang baik, bersyukurlah kepada Allah.

Waktu Pribadi Bersama Allah

Waktu Pribadi Bersama Allah

Baca: Matius 14:13-23

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. —Matius 14:23

Pagi itu suasana di kelas sekolah Minggu tempat saya melayani sangat ramai. Sekitar 12 anak kecil terus berceloteh dan bermain di ruangan. Karena banyaknya kegiatan yang berlangsung, ruangan kami menjadi panas. Saya pun membuka pintu ruangan dan mengganjalnya. Seorang anak laki-laki melihat itu sebagai kesempatan untuk kabur. Ia pun berjingkat keluar dari ruangan, mengira tidak ada yang memperhatikannya. Setelah membuntutinya, saya pun tidak heran menemukan bahwa ia mencari ayahnya dan langsung memeluknya.

Anak kecil tersebut melakukan apa yang perlu kita lakukan ketika hidup menjadi begitu sibuk dan membuat kita kewalahan—ia menyelip keluar agar bisa bersama ayahnya. Tuhan Yesus mencari kesempatan agar bisa menghabiskan waktu bersama Bapa Surgawi-Nya di dalam doa. Ada yang berpendapat bahwa mungkin itulah cara-Nya mengatasi berbagai tuntutan yang telah menguras tenaga-Nya sebagai manusia. Menurut Injil Matius, Yesus sedang pergi ke suatu tempat terpencil ketika orang banyak mengikuti Dia. Melihat kebutuhan mereka, Yesus melakukan mukjizat dengan menyembuhkan mereka dan memberi mereka makan. Namun setelah itu Dia “naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri” (Mat. 14:23).

Tuhan Yesus berulang-ulang menolong banyak orang, tetapi Dia tidak membiarkan diri-Nya menjadi kepayahan dan tergopoh-gopoh. Dia selalu memupuk hubungan-Nya dengan Allah melalui doa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan menyediakan waktu pribadi bersama Allah untuk mengalami kekuatan dan kepuasan sejati dari-Nya? —Jennifer Benson Schuldt

Dari mana kamu menemukan kepuasan yang lebih besar—dari usaha kamu memenuhi segala tuntutan hidup ini atau dari hubungan kamu dengan Sang Pencipta?

Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui!