Kasih itu Dewasa

Kasih itu Dewasa

Baca: 1 Korintus 13:1-13 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Korintus 13:11)

Saat kita masih kanak-kanak, orangtua melayani kita. Mulai dari memandikan, mengganti pakaian, sampai menyuapi mereka lakukan. Namun, saat usia makin bertambah, mulailah kita diajari mandiri. Kita dilatih makan sendiri, mandi sendiri, atau mengambil barang sendiri. Setelah kita bisa melakukan banyak hal, kita tidak lagi dilayani, tapi melayani orang lain. Salah satu bukti seseorang tinggal di dalam kasih dan mempraktikkan kasih adalah ia makin dewasa secara pemikiran. Bukan jaminan bertambahnya usia seseorang pasti dibarengi bertambahnya kedewasaan berpikir. Ada beberapa orang Kristen yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, tapi sukanya menuntut ini dan itu kepada gereja, maunya selalu dilayani dan tidak mau melayani, suka mencari perhatian kalau tidak diperhatikan. Kalau seseorang baru menjadi pengikut Kristus, wajar ia dilayani ini dan itu, diajari ini dan itu karena masih bayi rohani. Namun, kalau sudah lama menjadi Kristen tapi masih kekanak-kanakan, itu artinya ia tidak tinggal di dalam kasih. Mari kita perhatikan hidup Kristus, Petrus, Paulus, Timotius, atau Onesiforus. Mereka berhak dilayani, tapi mereka tidak mau dilayani melainkan melayani. Mereka tidak mementingkan diri, tapi mementingkan kebutuhan banyak orang. Mereka dewasa secara pemikiran sehingga mampu melakukan berbagai tindakan yang berguna bagi banyak orang. Makin lama kita menjadi pengikut Kristus, hendaknya kedewasaan kita pun makin bertumbuh karena kasih Kristus tinggal dalam hati dan kita praktikkan terus-menerus.

 

ORANG YANG TINGGAL DAN HIDUP DALAM KASIH MENJADI DEWASA DAN MENINGGALKAN SIFAT KANAK-KANAK

Menilai Menurut Asal-Usul

Menilai Menurut Asal-Usul

Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta. —Hakim-Hakim 11:29

“Dari mana asalmu?” Kami sering mengajukan pertanyaan itu untuk mengenal seseorang lebih dekat. Namun kebanyakan dari kita mungkin tidak merasa nyaman menjawab pertanyaan itu. Adakalanya kita tidak ingin membeberkan terlalu banyak tentang diri kita kepada orang lain.

Di kitab Hakim-Hakim, Yefta mungkin saja tidak ingin menjawab pertanyaan itu sama sekali. Saudara-saudara tiri Yefta mengusirnya dari kampung halamannya di Gilead karena asal-usulnya yang “tidak jelas”. Alasan mereka: “[Yefta] anak dari perempuan lain” (Hak. 11:2). Ayat 1 menegaskan bahwa “ibunya seorang pelacur” (bis).

Namun, Yefta memiliki sifat-sifat alamiah sebagai pemimpin. Ketika sebuah suku hendak berperang melawan Gilead, orang-orang yang dahulu mengusir Yefta tiba-tiba menginginkannya kembali. Kata mereka kepada Yefta, “Mari, jadilah panglima kami” (ay.6). Yefta bertanya, “Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku?” (ay.7). Setelah mendapatkan kepastian bahwa sikap mereka akan berubah, Yefta setuju untuk memimpin mereka. Kitab Suci menuliskan, “Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta” (ay.29). Dengan iman, Yefta memimpin mereka untuk meraih kemenangan besar. Perjanjian Baru memasukkan nama Yefta dalam daftar pahlawan iman (Ibr. 11:32).

Bukankah Allah juga sering memilih orang-orang yang dipandang sebelah mata untuk melakukan pekerjaan-Nya? Allah tidak memandang dari mana kita berasal, bagaimana keadaan kita sekarang, atau apa yang pernah kita lakukan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menanggapi kasih-Nya dengan iman. —Tim Gustafson

Tuhan, kami sangat terhibur saat tahu bahwa Engkau tidak pilih kasih dan membeda-bedakan asal-usul kami. Identitas kami ada di dalam-Mu. Terima kasih karena Engkau telah mengangkat kami menjadi anggota keluarga-Mu.

Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. Matius 19:30

Belajar Mengenal Allah

Belajar Mengenal Allah

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut.” —Yohanes 6: 20

Seumur saya, saya ingin sekali menjadi seorang ibu. Saya sering membayangkan bahwa saya akan menikah, mengandung, dan menggendong bayi saya untuk pertama kalinya. Setelah menikah, saya dan suami bahkan tidak pernah berpikir untuk menunda waktu kehamilan. Namun setiap kali tes kehamilan memberikan hasil yang negatif, kami menyadari bahwa kami bergumul dengan ketidaksuburan. Bulan demi bulan kami berkonsultasi dengan dokter, melakukan tes, dan mendapatkan hasil yang lagi-lagi negatif. Badai seakan telah menerjang kehidupan kami. Menghadapi ketidaksuburan itu bagaikan menelan pil pahit yang membuat saya mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Allah.

Ketika merenungkan kembali perjuangan kami, saya terpikir tentang kisah para murid yang diterjang badai di Yohanes 6. Ketika mereka berjuang keras melawan terjangan ombak di tengah malam yang gelap, tiba-tiba Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air yang bergolak. Dia menenangkan mereka dengan kehadiran-Nya, dan berkata, “Aku ini, jangan takut!” (ay.20).

Seperti para murid Yesus, saya dan suami tidak tahu apa yang terjadi di tengah badai kehidupan kami. Namun, kami memperoleh penghiburan saat kami belajar semakin mengenal Allah sebagai Pribadi yang selalu setia dan benar. Meskipun kami tidak juga memiliki anak yang kami dambakan, kami belajar bahwa di dalam seluruh pergumulan kami, kami dapat mengalami kuasa kehadiran-Nya yang meneduhkan jiwa. Karena Allah bekerja dalam hidup kita dengan penuh kuasa, kita tidak perlu lagi merasa cemas. —Karen Wolfe

Tuhan, terima kasih karena kehadiran-Mu maka aku tidak perlu menghadapi badai hidup ini seorang diri. Terima kasih atas kehadiran-Mu yang meneduhkan jiwa dan kuasa-Mu yang menguatkanku dalam menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.

Kita dapat mengalami kehadiran Allah yang penuh kuasa bahkan di tengah badai kehidupan yang menerjang kita.

Hanya Sedetik

Hanya Sedetik

Tuhan, . . . betapa pendek hidupku. —Mazmur 39:5 BIS

Para ilmuwan cukup cerewet jika menyangkut soal waktu. Pada akhir 2016, para ilmuwan di Goddard Space Flight Center di Maryland, Amerika Serikat, menambahkan satu detik pada tahun itu. Jadi, jika kamu merasa tahun itu berjalan sedikit lebih lama dari biasanya, kamu tidak salah.

Mengapa mereka melakukan penambahan waktu itu? Karena rotasi bumi melambat dari waktu ke waktu, tahun demi tahun pun berjalan sedikit lebih lama. Ketika para ilmuwan melacak keberadaan benda-benda buatan manusia yang diluncurkan ke luar angkasa, mereka harus memastikan pengukurannya sangat akurat hingga hitungan milidetik. Itu dilakukan “untuk memastikan bahwa program yang kami buat untuk menghindari terjadinya tabrakan benar-benar akurat,” tutur salah seorang ilmuwan.

Tambahan atau pengurangan sedetik seperti itu rasanya tidak terlalu berpengaruh bagi sebagian besar dari kita. Namun, menurut Kitab Suci, waktu yang kita miliki dan bagaimana kita menggunakannya sangatlah penting. Misalnya, Paulus mengingatkan kita di 1 Korintus 7:29 bahwa waktu itu singkat. Waktu yang kita miliki untuk melakukan pekerjaan Allah sangat terbatas, karena itu kita harus memanfaatkannya dengan bijak. Paulus mendorong kita untuk menggunakan “sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada . . . , karena masa ini adalah masa yang jahat” (Ef. 5:16 bis).

Itu tidak berarti bahwa kita harus menghitung detik demi detik yang berlalu seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan itu. Namun jika kita menyadari betapa pendeknya masa hidup kita (Mzm. 39:5 bis), kita dapat diingatkan kembali tentang pentingnya menggunakan waktu yang ada dengan bijaksana. —Dave Branon

Tuhan, terima kasih atas setiap waktu yang Engkau berikan kepada kami. Kiranya kami senantiasa menghormati-Mu dengan menggunakan waktu-waktu pemberian-Mu secara bijaksana untuk menghormati dan memuliakan-Mu.

Jangan sekadar menghabiskan waktu, tetapi manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya

Alasan Kita Bernyanyi

Alasan Kita Bernyanyi

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib. —Mazmur 98:1

Ketika saya berumur tiga belas tahun, sekolah saya mewajibkan semua siswa untuk mengikuti empat kelas eksplorasi, di antaranya tentang mengelola rumah tangga, seni, paduan suara, dan pertukangan kayu. Pada hari pertama saya mengikuti kelas paduan suara, pengajarnya memanggil satu demi satu siswa untuk mendekat ke piano dan mendengarkan suara mereka. Ia kemudian akan menempatkan mereka di salah satu bagian ruangan yang sesuai dengan rentang vokal mereka. Saat tiba giliran saya, saya berulang-ulang menyanyikan nada-nada yang dimainkan di piano, tetapi tidak juga diarahkan ke salah satu bagian di ruangan itu. Setelah mendengarkan suara saya, sang pengajar justru mengirim saya ke kantor konseling siswa agar saya diarahkan untuk mengambil kelas eksplorasi yang lain. Sejak saat itu, saya merasa tidak pantas sama sekali untuk bernyanyi karena suara saya yang sumbang.

Saya menyimpan pemikiran itu lebih dari sepuluh tahun lamanya sampai kemudian saya membaca Mazmur 98. Pemazmur mengawali tulisannya dengan ajakan untuk bernyanyi bagi Tuhan (Mzm. 98:1). Ajakan itu sama sekali tidak bergantung pada kualitas suara kita. Kita diajak untuk bernyanyi karena Allah “telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (ay.1). Allah senang mendengar nyanyian syukur dan pujian dari anak-anak-Nya.

Pemazmur menunjukkan dua alasan indah untuk memuji Allah dengan penuh sukacita melalui nyanyian dan perilaku kita: karya penyelamatan-Nya dalam hidup kita dan kesetiaan-Nya yang terus-menerus ditunjukkan-Nya kepada kita. Dalam paduan suara Allah, selalu ada tempat bagi setiap dari kita untuk bernyanyi dan memuji segala perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. —Kirsten Holmberg

Tuhan, Engkau telah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dalam hidupku. Sekalipun suaraku tidak seindah orang lain, aku mau ikut menaikkan pujian untuk mensyukuri perbuatan-perbuatan ajaib yang telah Engkau lakukan.

Allah senang mendengar nyanyian anak-anak-Nya.