Membangun Komunitas

Membangun Komunitas

Orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. —Efesus 3:6

Henri Nouwen berkata, “‘Komunitas’ adalah tempat di mana orang yang paling tidak kita inginkan kehadirannya selalu tinggal bersama kita.” Kita sering menempatkan diri di tengah orang-orang yang paling kita inginkan kehadirannya bersama kita. Bersama mereka, kita membuat perkumpulan eksklusif, dan itu bukan komunitas. Setiap orang bisa membuat perkumpulan, tetapi dibutuhkan kasih karunia, visi yang sama, dan kerja keras untuk membentuk komunitas.

Gereja Kristen adalah institusi pertama dalam sejarah yang menyatukan secara setara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, pria dan wanita, budak dan orang merdeka. Rasul Paulus menyebut itu sebagai “rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah”. Paulus mengatakan bahwa dengan membentuk komunitas yang terdiri dari anggota-anggota yang beragam, kita memiliki kesempatan untuk memikat perhatian dunia ini dan juga dunia supernatural (Ef. 3:9-10).

Sayangnya, dalam banyak hal, gereja telah gagal melakukan tugas itu. Walaupun demikian, gereja merupakan satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi yang mempersatukan berbagai generasi: bayi yang masih digendong ibunya, anak-anak yang berceloteh dan tertawa sesuka hati, orang dewasa yang bertanggung jawab dan yang tahu bagaimana bersikap sepatutnya di setiap saat, dan mereka yang mungkin tertidur ketika pengkhotbah berbicara panjang lebar.

Jika kita menginginkan pengalaman komunitas yang Allah tawarkan kepada kita, kita bisa menemukannya dalam jemaat yang terdiri dari orang-orang yang “tidak seperti kita”. —Philip Yancey

Tuhan, ingatkanlah kami bahwa gereja adalah karya-Mu, dan Engkau mengumpulkan kami semua untuk menggenapi kehendak-Mu yang mulia. Tolong kami untuk meneruskan kasih-Mu kepada orang lain.

Orang yang tinggal dalam komunitas yang kecil sesungguhnya tinggal dalam dunia yang jauh lebih besar. —G. K. Chesterton

Segala Sesuatu Ada Masanya

Segala Sesuatu Ada Masanya

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1

Saat dalam penerbangan baru-baru ini, saya melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang duduk beberapa baris di depan saya. Sementara anaknya yang balita asyik bermain sendiri, sang ibu menatap mata bayinya yang baru lahir, tersenyum padanya, dan membelai pipinya. Sang bayi menatap balik ibunya dengan mata terbelalak penuh keheranan. Saya menikmati momen tersebut dengan sedikit sedih, karena teringat pada anak-anak saya sendiri pada usia tersebut dan masa-masa yang telah lalu.

Namun, saya merenungkan perkataan Raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah tentang “apapun di bawah langit” (3:1). Dengan menyebutkan serangkaian peristiwa yang bertolak belakang, ia menekankan bahwa “untuk segala sesuatu ada masanya” (ay.1): “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (ay.2). Mungkin pada ayat-ayat itu, Raja Salomo merasa putus asa dengan apa yang dilihatnya sebagai siklus hidup yang sia-sia. Namun, ia juga mengakui adanya campur tangan Allah dalam setiap masa, bahwa pekerjaan kita adalah “pemberian Allah” (ay.13) dan bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14).

Mungkin kita mengingat masa-masa tertentu dalam hidup kita dengan penuh kerinduan, seperti saya yang teringat anak-anak saya ketika mereka masih bayi. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan berjanji menyertai kita dalam setiap masa kehidupan kita (Yes. 41:10). Kita dapat mengandalkan kehadiran-Nya dan mendapati bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk hidup bersama dengan-Nya. —Sheridan Voysey

Tuhan Allah, Engkau memimpinku melewati masa demi masa. Dalam suka maupun duka, aku tahu Engkau selalu bersamaku. Tolonglah aku melayani seseorang dengan kasih-Mu hari ini.

Allah memberi kita masa demi masa dalam hidup kita.

Lebih Besar dari Semua

Lebih Besar dari Semua

Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, Tuhan berpakaian, berikat pinggang kekuatan. —Mazmur 93:1

Air terjun Iguazu di perbatasan Brazil dan Argentina merupakan rangkaian spektakuler dari 275 air terjun yang terbentang sepanjang 2,7 KM di Sungai Iguazu. Pada dinding di sisi yang berada di wilayah Brazil terpahat teks Mazmur 93:4, “Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat Tuhan di tempat tinggi.” Tepat di bawahnya tertulis kalimat, “Allah selalu lebih besar daripada semua masalah kita.”

Penulis Mazmur 93, yang menuliskan mazmurnya pada masa pemerintahan raja-raja, mengetahui bahwa Allah adalah Raja di atas segala raja. “Tuhan adalah Raja,” tulisnya. “Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada” (ay.1-2). Setinggi apa pun air bah atau gelombang ombak, Tuhan tetaplah lebih besar dari segalanya.

Deru air terjun memang dashyat, tetapi kamu tidak akan menyukainya apabila kamu berada di dalam air dan terseret menuju ke air terjun. Mungkin itulah gambaran situasi yang kamu hadapi saat ini. Masalah kesehatan, keuangan, atau relasi semakin membebanimu, dan kamu merasa hampir terjatuh dalam pusaran air terjun itu. Dalam situasi seperti itu, orang Kristen memiliki satu Pribadi yang dapat menolongnya. Dialah Tuhan, “yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20) karena Dia jauh lebih besar dari semua masalah kita. —C. P. Hia

Tuhan, aku tahu Engkau penuh kuasa dan jauh lebih besar daripada persoalan apa pun yang kuhadapi. Aku mempercayai-Mu untuk menolongku melewati semua itu.

Jangan pernah mengukur kuasa Allah yang tak terbatas dengan pengharapan kita yang terbatas.

Menghapus Cap

Menghapus Cap

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8

Sebuah gereja di kota saya memiliki kartu sambutan pengunjung dengan tulisan unik yang menunjukkan kasih dan anugerah Allah bagi setiap orang. Kartu itu menyatakan, “Baik kamu . . . orang baik, orang berdosa, pecundang, pemenang”—dilanjutkan dengan banyak istilah lain yang suka digunakan untuk menggambarkan orang yang bermasalah—“pemabuk, orang munafik, penipu, penakut, orang aneh . . . Kami senang menyambutmu!” Salah seorang pendetanya mengatakan kepada saya, “Kami membacakan isi kartu tersebut dengan suara lantang bersama-sama dalam kebaktian tiap Minggu.”

Berapa sering kita diberi cap oleh seseorang dan membiarkan cap itu membentuk gambaran diri kita? Dan betapa mudahnya juga bagi kita untuk memberikan cap pada diri orang lain. Namun, anugerah Allah menghapus semua cap itu karena anugerah itu berakar pada kasih-Nya, bukan pada persepsi kita sendiri. Entah kita memandang diri kita hebat atau buruk, mampu atau tidak mampu, kita dapat menerima hidup kekal yang dikaruniakan Allah. Rasul Paulus mengingatkan para pengikut Yesus di Roma, pada “waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm. 5:6).

Allah tidak menuntut kita untuk berubah dengan kekuatan kita sendiri. Sebaliknya Dia mengundang kita supaya datang apa adanya untuk menemukan pengharapan, pemulihan, dan kebebasan di dalam Dia. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ay.8). Tuhan siap dan bersedia menerima kita apa adanya. —David McCasland

Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih-Mu yang ajaib di dalam Yesus Kristus.

Pengampunan Allah mengangkat orang yang dicap pecundang dan merendahkan orang yang tinggi hati.

Sama Seperti Ayah

Sama Seperti Ayah

Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. —Yohanes 5:19

Bukankah menggemaskan saat melihat seorang anak meniru gerak-gerik orangtuanya? Sering kita melihat anak kecil duduk di kursi mobil dengan memegang setir khayalannya sambil mengamati terus gerakan ayahnya yang sedang mengemudi.

Saya ingat melakukan hal yang sama semasa kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ayah saya—dan saya yakin ayah merasa lebih senang lagi melihat saya meniru setiap tindakannya.

Saya pikir Allah Bapa tentu merasakan sukacita yang sama ketika Dia melihat Anak-Nya yang terkasih melakukan persis sama dengan apa yang dilakukan-Nya—mencari jiwa yang terhilang, menolong yang membutuhkan, dan menyembuhkan yang sakit. Yesus berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19).

Kita juga dipanggil untuk melakukan yang sama—menjadi “penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan [hidup] di dalam kasih” (Ef. 5:1-2). Sambil terus bertumbuh semakin menyerupai Yesus, kiranya kita selalu mengasihi seperti Bapa mengasihi, mengampuni seperti Dia mengampuni, peduli seperti Dia mempedulikan, dan menjalani hidup yang menyenangkan-Nya. Sungguh menyenangkan untuk meniru tindakan-Nya oleh kuasa Roh, dan upah kita adalah kasih sayang dan senyum lembut dari Bapa yang penuh kasih. —Leslie Koh

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menunjukkan jalan kepada Bapa. Tolong kami untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu dan Bapa setiap hari.

Allah Bapa memberi kita Roh Kudus untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya.