Amnesia

Amnesia

Akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi. —Daniel 4:34

Layanan Darurat di Carlsbad, California, berhasil menyelamatkan seorang wanita dengan aksen Australia yang tidak bisa mengingat siapa dirinya. Karena menderita amnesia (hilang ingatan) dan tidak memiliki kartu identitas, wanita itu tidak bisa menyebutkan namanya atau dari mana asalnya. Diperlukan bantuan dokter dan media internasional untuk memulihkan kesehatannya, menceritakan tentang kisahnya, dan menyatukan kembali ia dengan keluarganya.

Nebukadnezar, raja Babel, juga pernah lupa tentang diri dan asal-usulnya. Namun, yang dideritanya adalah “amnesia” rohani. Dengan meninggikan diri atas segala kehebatannya sebagai raja dari kerajaan yang diberikan Allah kepadanya, ia lupa bahwa Allah adalah Raja segala raja, dan segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Allah (Dan. 4:17,28-30).

Allah mendramatisasi pikiran sang raja dengan menempatkannya di tengah padang belantara untuk hidup dengan binatang liar dan merumput seperti lembu (ay.32-33). Akhirnya, setelah tujuh tahun berlalu, Nebukadnezar menengadah ke langit, dan kembalilah ingatan tentang dirinya dan siapa yang telah memberikan kerajaan itu kepadanya. Setelah akal budinya dipulihkan, ia menyatakan, “Aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga” (ay.37).

Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita melihat diri kita sendiri? Dari mana kita berasal? Karena kita mudah untuk lupa diri, adakah yang dapat kita andalkan untuk menolong kita mengingat, selain dari Raja segala raja? —Mart DeHaan

Bapa, kami cenderung lupa dengan jati diri kami, dari mana kami berasal, dan bahwa kami adalah milik-Mu. Tolonglah kami untuk mengingat bahwa di dalam Kristus, kami adalah anak-anak-Mu—dikenal, dikasihi, diberkati, dan diperhatikan—sekarang dan selamanya.

Meski kita sering lupa diri, Bapa Surgawi tak pernah melupakan kita

Tempat Penantian

Tempat Penantian

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia. —Mazmur 37:7

“Menanti ikan menggigit umpan atau menanti angin untuk menerbangkan layang-layang. Atau menanti datangnya akhir minggu . . . Setiap orang sedang menanti,” begitulah dikatakan Dr. Seuss, penulis buku anak yang terkenal.

Begitu banyak waktu dalam hidup ini yang diisi dengan menanti, tetapi Allah tidak pernah terburu-buru. “Allah memiliki waktu-Nya dan penundaan-Nya sendiri,” bunyi sebuah ungkapan kuno yang dapat dipercaya. Karena itulah, kita menanti.

Menanti itu sulit. Kita memain-mainkan jempol tangan, mengayun-ayun kaki, menahan diri untuk tidak menguap, menarik napas panjang, dan mengeluh dalam hati karena rasa frustrasi. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa aku harus hidup dengan orang yang tidak menyenangkan ini, pekerjaan yang membosankan ini, perilaku yang memalukan ini, masalah kesehatan yang tak kunjung berakhir ini? Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?

Allah menjawab, “Tunggu, dan lihatlah apa yang akan Kulakukan.”

Menanti adalah salah satu guru terbaik dalam hidup ini karena melalui penantian, kita belajar nilai dari penantian itu sendiri, yakni menanti saat-saat Allah bekerja di dalam diri kita dan bagi kebaikan kita. Dalam penantian itulah kita menumbuhkan ketahanan, yaitu kesanggupan untuk mempercayai kasih dan kebaikan Allah, sekalipun apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita (Mzm. 70:6).

Namun, menanti bukanlah sikap menyerah yang terpaksa dan membosankan. Kita dapat “bergirang dan bersukacita karena [Tuhan]” sambil kita menanti (70:5). Kita menanti dalam pengharapan, dengan mengetahui bahwa Allah akan membebaskan kita pada waktunya—di kehidupan sekarang atau di kehidupan yang akan datang. Allah tidak pernah tergesa-gesa, dan Dia selalu tepat waktu. —David H. Roper

Tuhan, terima kasih untuk kehadiran-Mu yang penuh kasih. Tolong kami untuk menggunakan sebaik-baiknya masa penantian kami dengan mempercayai dan melayani-Mu.

Allah selalu menyertai kita dalam penantian kita.

Rahasia dari Damai Sejahtrra

Rahasia dari Damai Sejahtrra

Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. —2 Tesalonika 3:16

Grace adalah wanita yang sangat istimewa. Satu kata terlintas dalam benak 16saya saat memikirkan tentang dirinya: damai sejahtera. Ekspresi yang tenang dan teduh pada wajahnya sangat jarang berubah sepanjang enam bulan saya mengenalnya, walaupun suaminya didiagnosis mengidap penyakit langka dan kemudian dirawat di rumah sakit.

Saat saya bertanya kepada Grace apa rahasia dari damai sejahteranya, ia menjawab, “Itu bukan sebuah rahasia, tetapi seorang Pribadi. Yesus hidup di dalamku. Tidak ada alasan lain yang bisa menjelaskan ketenangan yang saya alami di tengah pergumulan ini.”

Rahasia dari damai sejahtera terletak pada hubungan kita dengan Yesus Kristus. Dialah damai sejahtera kita. Ketika Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat kita, dan saat kita diubah menjadi semakin serupa dengan-Nya, damai sejahtera itu menjadi nyata. Hal-hal seperti penyakit, kesulitan keuangan, atau bahaya lainnya mungkin saja kita alami, tetapi damai sejahtera meyakinkan kita bahwa Allah memegang hidup kita di tangan-Nya (Dan. 5:23). Kita percaya bahwa Dia bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.

Pernahkah kamu mengalami damai sejahtera yang melampaui akal dan pemahaman manusia itu? Apakah kamu memiliki keyakinan iman bahwa Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu? Saya berharap agar hari ini kita semua mengumandangkan kata-kata yang pernah ditulis Rasul Paulus: “Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya.” Dan kiranya kita merasakan damai sejahtera itu “terus-menerus, dalam segala hal” (2Tes. 3:16). —Keila Ochoa

Tuhan terkasih, berilah kami damai sejahtera-Mu di setiap waktu dan dalam setiap keadaan.

Mempercayai Yesus berarti menerima damai sejahtera

Allah Melihat Setiap Detail

Allah Melihat Setiap Detail

Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. —Mazmur 145:9

Saat anak anjing Labrador saya yang berwarna cokelat berumur tiga bulan, saya membawanya ke dokter hewan untuk diperiksa kesehatannya dan divaksin. Ketika dokter hewan kami memeriksa tubuh anak anjing itu dengan saksama, ia memperhatikan sebuah bercak kecil berwarna putih di telapak kaki kiri belakang anjing itu. Dokter itu tersenyum dan berkata kepada si anjing, “Di sinilah Allah memegangmu saat Dia mencelupkanmu ke dalam pewarna cokelat.”

Saya tidak dapat menahan tawa. Namun, dokter itu tanpa sadar telah menegaskan satu hal yang penting tentang perhatian Allah yang mendalam dan personal pada ciptaan-Nya.

Dalam Matius 10:30, Yesus mengatakan, “Rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Begitu agung dan luar biasanya Allah hingga Dia sanggup memperhatikan setiap bagian dari hidup kita secara tak terhingga, bahkan sampai detail terkecil dalam hidup kita. Tidak ada yang begitu kecil hingga lolos dari perhatian Allah, dan tidak ada masalah yang terlalu sepele untuk dibawa ke hadapan-Nya. Demikian mendalamnya perhatian-Nya atas kita.

Allah tidak hanya menciptakan kita, tetapi juga menopang dan memelihara kita setiap saat. Alangkah baiknya ketika kita memahami bahwa Allah memperhatikan setiap detail dari kehidupan kita, bahkan terhadap hal-hal yang biasanya luput dari perhatian kita. Kita sungguh terhibur saat mengetahui bahwa Bapa Surgawi kita yang Mahabijaksana dan penuh perhatian menopang kita—bersama semua karya ciptaan lainnya—dengan tangan kasih-Nya yang perkasa. —James Banks

Tuhan yang penuh kasih, aku memuji-Mu karena keajaiban ciptaan-Mu. Tolong aku untuk memancarkan belas kasihan-Mu dengan memelihara apa yang telah Engkau ciptakan.

Allah memperhatikan setiap kebutuhan kita.

Kemana Saja

Kemana Saja

Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun. —Yeremia 2:2

Saat membuka foto-foto lama dari hari pernikahan saya, saya berhenti di selembar foto saya bersama suami ketika kami baru resmi menjadi suami-istri. Kesetiaan saya kepadanya terlihat jelas dari ekspresi wajah saya. Rasanya saat itu saya siap pergi ke mana saja bersamanya.

Hampir empat dekade berlalu, pernikahan kami diteguhkan oleh ikatan cinta dan komitmen yang telah memampukan kami melewati suka dan duka. Tahun demi tahun, saya memperbarui kesetiaan saya untuk pergi ke mana saja bersamanya.

Di Yeremia 2:2, Allah merindukan umat Israel yang dikasihi-Nya, meski mereka telah menyeleweng, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku.” Kata kasih dalam bahasa Ibrani mengandung makna kesetiaan dan komitmen yang tertinggi. Awalnya, Israel pernah menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan seperti itu kepada Allah, tetapi lama-kelamaan mereka berpaling dari Allah.

Meski ada perasaan yang menggebu-gebu di awal komitmen, sikap berpuas diri bisa menumpulkan kasih kita. Berkurangnya semangat juga bisa menyeret kita kepada penyelewengan. Kita sadar pentingnya berjuang melawan kemunduran seperti itu dalam pernikahan. Namun, bagaimana dengan bara api kasih kita kepada Allah? Apakah kesetiaan kita masih sama seperti saat pertama kali kita beriman kepada-Nya?

Dengan setia, Allah memperkenankan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya (3:14-15). Hari ini kita dapat memperbarui janji kita untuk setia mengikut-Nya—ke mana saja. —Elisa Morgan

Ya Tuhanku, tolonglah aku menepati janji-janji yang telah kubuat di hadapan-Mu. Aku rela mengikut-Mu ke mana saja.

Kamu tidak perlu tahu ke mana kamu akan pergi jika kamu tahu Allah yang memimpinmu.