Aksi Donor Darah & Cek Kesehatan Gratis

Aksi Donor Darah & Cek Kesehatan Gratis

Dokumentasi Foto : http://bit.ly/2oRIZuQ

Minggu, 09 September 2018

Dalam rangka meningkatkan tahun diakonia, pemuda pemudi GKPS Jemaat Khusus Cijantung kembali menyelenggarakan aksi sosial dalam bentuk donor darah, donor darah ini terbuka untuk umum diantaranya gereja-gereja sekitar yang ikut berpartisipasi dan gereja GKPS Se-Resort Cikoko yang turut berpartisipasi.

Selain aksi donor darah, pemuda berinisiatif untuk melakukan pengecekan kesehatan gratis bagi 100 orang pertama, bagi orangtua sangatlah antusias untuk mengecek kesehatannya, dan banyak yang menyukai aksi ini dari berbagai kalangan.

Acara pun berlangsung lancar antara panitia penyelenggara dengan pihak PMI Pusat yang saling bekerja sama demi terwujudnya kesuksesan aksi ini.

Demikianlah aksi sosial selesai, terimakasih kepada panitia penyelenggara dan petugas PMI yang turut bekerja sama. Kiranya tujuan aksi ini adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Amin

Yang Kita Bawa Pulang

Yang Kita Bawa Pulang

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti. —Mazmur 37:25

John F. Burns bekerja selama 40 tahun meliput peristiwa-peristiwa dunia untuk surat kabar The New York Times. Dalam artikel yang ditulisnya setelah pensiun pada tahun 2015, Burns mengingat kata-kata dari seorang sahabat dekat sekaligus rekan jurnalisnya yang sekarat karena kanker. “Jangan pernah lupa,” kata rekannya, “Yang penting bukanlah seberapa jauh kamu bepergian; tetapi apa yang kamu bawa pulang.”

Mazmur 37 bisa dianggap sebagai daftar Daud tentang apa yang “dibawanya pulang” dari perjalanan hidupnya, sejak menjadi gembala hingga kemudian prajurit dan raja. Mazmur itu merupakan serangkaian sajak yang mengontraskan orang fasik dengan orang benar, dan menguatkan mereka yang percaya kepada Tuhan.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau” (ay.1-2).

“Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya” (ay.23-24).

“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (ay.25).

Apa yang telah Allah ajarkan kepada kita melalui pengalaman-pengalaman hidup kita? Bagaimana kita mengalami kesetiaan dan kasih-Nya? Dalam hal apakah kasih Tuhan telah membentuk hidup kita?

Yang penting bukanlah seberapa jauh kita bepergian, tetapi apa yang kita bawa pulang. —David McCasland

Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau menyertaiku di sepanjang hidupku. Tolong aku untuk selalu mengingat kesetiaan-Mu.

Tahun demi tahun bertambah, kesetiaan Tuhan pun terus berlipat ganda.

Membangun Komunitas

Membangun Komunitas

Orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. —Efesus 3:6

Henri Nouwen berkata, “‘Komunitas’ adalah tempat di mana orang yang paling tidak kita inginkan kehadirannya selalu tinggal bersama kita.” Kita sering menempatkan diri di tengah orang-orang yang paling kita inginkan kehadirannya bersama kita. Bersama mereka, kita membuat perkumpulan eksklusif, dan itu bukan komunitas. Setiap orang bisa membuat perkumpulan, tetapi dibutuhkan kasih karunia, visi yang sama, dan kerja keras untuk membentuk komunitas.

Gereja Kristen adalah institusi pertama dalam sejarah yang menyatukan secara setara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, pria dan wanita, budak dan orang merdeka. Rasul Paulus menyebut itu sebagai “rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah”. Paulus mengatakan bahwa dengan membentuk komunitas yang terdiri dari anggota-anggota yang beragam, kita memiliki kesempatan untuk memikat perhatian dunia ini dan juga dunia supernatural (Ef. 3:9-10).

Sayangnya, dalam banyak hal, gereja telah gagal melakukan tugas itu. Walaupun demikian, gereja merupakan satu-satunya tempat yang pernah saya kunjungi yang mempersatukan berbagai generasi: bayi yang masih digendong ibunya, anak-anak yang berceloteh dan tertawa sesuka hati, orang dewasa yang bertanggung jawab dan yang tahu bagaimana bersikap sepatutnya di setiap saat, dan mereka yang mungkin tertidur ketika pengkhotbah berbicara panjang lebar.

Jika kita menginginkan pengalaman komunitas yang Allah tawarkan kepada kita, kita bisa menemukannya dalam jemaat yang terdiri dari orang-orang yang “tidak seperti kita”. —Philip Yancey

Tuhan, ingatkanlah kami bahwa gereja adalah karya-Mu, dan Engkau mengumpulkan kami semua untuk menggenapi kehendak-Mu yang mulia. Tolong kami untuk meneruskan kasih-Mu kepada orang lain.

Orang yang tinggal dalam komunitas yang kecil sesungguhnya tinggal dalam dunia yang jauh lebih besar. —G. K. Chesterton

Segala Sesuatu Ada Masanya

Segala Sesuatu Ada Masanya

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1

Saat dalam penerbangan baru-baru ini, saya melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang duduk beberapa baris di depan saya. Sementara anaknya yang balita asyik bermain sendiri, sang ibu menatap mata bayinya yang baru lahir, tersenyum padanya, dan membelai pipinya. Sang bayi menatap balik ibunya dengan mata terbelalak penuh keheranan. Saya menikmati momen tersebut dengan sedikit sedih, karena teringat pada anak-anak saya sendiri pada usia tersebut dan masa-masa yang telah lalu.

Namun, saya merenungkan perkataan Raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah tentang “apapun di bawah langit” (3:1). Dengan menyebutkan serangkaian peristiwa yang bertolak belakang, ia menekankan bahwa “untuk segala sesuatu ada masanya” (ay.1): “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (ay.2). Mungkin pada ayat-ayat itu, Raja Salomo merasa putus asa dengan apa yang dilihatnya sebagai siklus hidup yang sia-sia. Namun, ia juga mengakui adanya campur tangan Allah dalam setiap masa, bahwa pekerjaan kita adalah “pemberian Allah” (ay.13) dan bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14).

Mungkin kita mengingat masa-masa tertentu dalam hidup kita dengan penuh kerinduan, seperti saya yang teringat anak-anak saya ketika mereka masih bayi. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan berjanji menyertai kita dalam setiap masa kehidupan kita (Yes. 41:10). Kita dapat mengandalkan kehadiran-Nya dan mendapati bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk hidup bersama dengan-Nya. —Sheridan Voysey

Tuhan Allah, Engkau memimpinku melewati masa demi masa. Dalam suka maupun duka, aku tahu Engkau selalu bersamaku. Tolonglah aku melayani seseorang dengan kasih-Mu hari ini.

Allah memberi kita masa demi masa dalam hidup kita.