Takkan Dicengkeram

Takkan Dicengkeram

Karena tidak mungkin [Yesus] tetap berada dalam kuasa maut itu. —Kisah Para Rasul 2:24

Ketika berenang bersama teman-teman di Teluk Mexico, Caitlyn bertemu seekor hiu yang kemudian mencaplok kedua kakinya dan menarik tubuhnya. Caitlyn melawan dengan meninju hidung hiu tersebut. Ikan pemangsa itu pun melepaskan gigitannya dan akhirnya berenang menjauh. Ikan hiu itu tidak mampu untuk terus menahan Caitlyn dalam cengkeramannya, meskipun gigitan itu menimbulkan banyak luka dan membuat Caitlyn harus dirawat dengan lebih dari seratus jahitan.

Cerita itu mengingatkan saya pada fakta bahwa Yesus telah mengalahkan maut dengan telak dan menghabisi kuasanya yang mengintimidasi dan mengalahkan pengikut-pengikut-Nya. Petrus berkata, “Karena tidak mungkin [Yesus] tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis. 2:24).

Petrus menyampaikan kata-kata tersebut kepada orang banyak di Yerusalem. Mungkin banyak di antara mereka adalah orang yang sama yang pernah berteriak, “Salibkan Dia!” untuk mendakwa Yesus (Mat. 27:22). Akibatnya, para tentara Romawi memakukan Yesus pada kayu salib dan menggantung-Nya di sana sampai mereka yakin bahwa Dia sudah mati. Tubuh Yesus lalu dibawa ke makam tempat Dia dikuburkan selama tiga hari sampai Allah membangkitkan-Nya. Setelah kebangkitan Yesus, Petrus dan murid-murid lainnya berbincang dan makan bersama-Nya, dan setelah empat puluh hari, mereka melihat-Nya naik ke surga (Kis. 1:9).

Kehidupan Yesus di bumi berakhir dengan penderitaan fisik dan siksaan batin, tetapi akhirnya kuasa Allah menaklukkan maut. Karena itu, maut—atau pergumulan apa pun—tak mampu mencengkeram kita selamanya. Suatu hari nanti, semua orang percaya akan mengalami kehidupan kekal yang utuh di dalam hadirat-Nya. Perhatian yang kita pusatkan pada masa depan itulah yang akan menolong kita mengalami kemerdekaan pada masa kini. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan Yesus, kemenangan-Mu atas kematian memberiku pengharapan! Aku memuji-Mu karena Engkau mati dan bangkit supaya aku beroleh hidup kekal.

Cengkeraman maut tidak akan sanggup mengalahkan kuasa Allah.

Yesus yang Sedang Menyamar

Yesus yang Sedang Menyamar

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Ketika seorang teman sedang merawat ibu mertuanya di rumah, ia bertanya kepada mertuanya itu apa yang paling diinginkannya. Mertuanya berkata, “Aku mau kakiku dicuci.” Teman saya mengakui, “Aku sama sekali tidak suka melakukannya! Tiap kali beliau memintaku melakukannya, aku menjadi jengkel. Aku bahkan berdoa agar beliau tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya.”

Namun, suatu hari sikapnya yang bersungut-sungut itu lenyap dalam sekejap. Ketika mengambil wadah dan handuk, lalu berlutut di bawah kaki ibu mertuanya, ia berkata, “Aku mendongak, dan saat itu aku merasa seperti sedang mencuci kaki Tuhan Yesus. Ibu mertuaku adalah Yesus yang sedang menyamar!” Setelah pengalaman itu, teman saya merasa terhormat dapat mencuci kaki ibu mertuanya.

Ketika mendengar cerita yang sangat menyentuh itu, saya terpikir pada perkataan Yesus tentang akhir zaman yang diajarkan-Nya di lereng Bukit Zaitun. Dia bercerita tentang Sang Raja yang menyambut putra dan putri-Nya ke dalam kerajaan-Nya, dengan berkata bahwa ketika mereka mengunjungi orang sakit atau memberi makan orang yang lapar, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kita juga melayani Yesus sendiri ketika kita melawat orang-orang yang berada di penjara atau memberikan pakaian kepada mereka yang membutuhkannya.

Hari ini, dapatkah kamu menggemakan pertanyaan teman saya, yang berpikir ketika bertemu seseorang, “Mungkinkah ia adalah Yesus yang sedang menyamar?” —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, Engkau dapat mengubah pekerjaan yang paling sederhana menjadi sesuatu yang mulia. Tolonglah aku mengasihi sesamaku dalam nama-Mu.

Kita sedang melayani Yesus ketika kita melayani sesama