Mahkota Raja

Mahkota Raja

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. —Matius 27:29

Kami duduk mengelilingi sebuah meja dan setiap dari kami menancapkan tusuk gigi pada lembaran gabus di depan kami. Pada saat makan malam, di minggu-minggu menjelang Paskah, kami bersama-sama membuat mahkota duri. Setiap tusuk gigi melambangkan perbuatan kami di hari itu yang kami sesali dan yang telah ditanggung Kristus lewat pengorbanan-Nya. Malam demi malam, aktivitas tersebut menyadarkan kami betapa kami sungguh bersalah atas dosa-dosa kami dan betapa kami membutuhkan Juruselamat. Kami pun menyadari kembali bahwa Tuhan Yesus telah membebaskan kami melalui kematian-Nya di kayu salib.

Mahkota duri yang dikenakan di atas kepada Yesus merupakan bagian dari permainan kejam yang dilakukan para tentara Romawi sebelum Yesus disalibkan. Mereka juga mengenakan jubah kerajaan kepada-Nya dan memberi-Nya tongkat sebagai simbol tongkat seorang raja, yang kemudian mereka pakai untuk memukul-Nya. Mereka mencemooh Yesus dengan menyebut-Nya sebagai “Raja orang Yahudi” (Mat. 27:29), tanpa menyadari bahwa tindakan mereka akan terus diingat hingga ribuan tahun kemudian. Yesus bukanlah raja biasa. Dialah Raja segala raja yang memberikan kepada kita hidup kekal melalui kematian dan juga kebangkitan-Nya.

Pada hari Paskah tahun itu, kami merayakan anugerah pengampunan dan hidup baru dari Allah dengan mengganti tusuk gigi yang kami tancapkan sebelumnya dengan bunga. Kami sungguh bersukacita karena menyadari bahwa Allah telah menghapus dosa-dosa kami dan memberikan kami kemerdekaan serta hidup yang kekal di dalam Dia! —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, hatiku pedih mengingat rasa sakit dan derita yang Engkau terima demi diriku. Aku bersyukur atas anugerah kasih-Mu yang telah membebaskanku.

Mahkota duri telah diubah Allah menjadi mahkota kehidupan.

Jalan Kesengsaraan

Jalan Kesengsaraan

Kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. —Ibrani 10:10

Sepanjang Minggu Suci, kita mengenang hari-hari terakhir yang dijalani Yesus sebelum penyaliban-Nya. Jalan yang dilalui Yesus di antara jalanan kota Yerusalem untuk tiba di tempat penyaliban itu kini dikenal sebagai Via Dolorosa atau jalan kesengsaraan.

Namun, penulis kitab Ibrani melihat jalan yang ditempuh Yesus itu lebih dari sekadar jalan kesengsaraan. Jalan penderitaan yang ditanggung Yesus dengan rela hingga ke Golgota telah membuka “jalan yang baru dan yang hidup” bagi kita untuk datang kepada Allah (Ibr. 10:20).

Selama berabad-abad, orang Yahudi telah mencari cara untuk datang kepada Allah dengan mengorbankan binatang dan berusaha menaati hukum Taurat. Namun, di dalam hukum Taurat itu “hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang,” karena “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (ay.1,4).

Perjalanan Yesus menapaki Via Dolorosa membawa-Nya kepada kematian dan kebangkitan. Karena pengorbanan-Nya, kita dapat dikuduskan ketika kita mempercayai-Nya untuk mengampuni dosa-dosa kita. Meskipun kita tidak dapat menaati hukum Taurat dengan sempurna, kita dapat mendekat kepada Allah tanpa rasa takut, dengan sepenuhnya yakin bahwa kita disambut dan dikasihi oleh-Nya (ay.10,22).

Jalan kesengsaraan yang dilalui Kristus telah membuka bagi kita jalan yang baru dan yang hidup bagi kita kepada Allah. —Amy Peterson

Yesus, terima kasih karena Engkau telah menapaki jalan sengsara dan memungkinkan kami untuk dipersatukan kembali dengan Allah.

Pengorbanan Kristus memuaskan tuntutan keadilan Allah sekaligus cukup untuk menebus kita dari hukuman dosa