Beranjak Dewasa

Beranjak Dewasa

Baca: Efesus 4:1-16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh . . . menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. —Efesus 4:16

Sungguh menghibur saat menonton cucu laki-laki saya yang masih kecil dan teman-temannya bermain T-Ball. Dalam bisbol versi anak kecil ini, para pemain yang masih muda itu sering berlari ke base yang salah atau tidak tahu harus berbuat apa dengan bola yang mereka tangkap. Namun seandainya yang kami tonton itu adalah pertandingan bisbol profesional, kesalahankesalahan seperti itu tentulah tidak lucu. Masalahnya terletak pada kedewasaan. Tidak masalah jika para atlet belia itu masih menemui kesulitan—kadang mereka tidak tahu harus berbuat apa atau tidak sepenuhnya bermain dengan benar. Mereka sedang mencoba dan belajar bermain. Maka kita melatih mereka dengan sabar dan membimbing mereka menuju kedewasaan. Kita akan merayakan kesuksesan mereka ketika di kemudian hari mereka bermain dengan terampil sebagai sebuah tim. Sesuatu yang serupa terjadi dalam kehidupan para pengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa gereja membutuhkan orang-orang yang mau bersikap “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Ef. 4:2). Dan kita membutuhkan bermacam-macam “pelatih” (para pendeta, guru, pembimbing rohani) untuk menolong kita semua melangkah menuju “kesatuan iman” di tengah perjuangan kita mencapai “kedewasaan penuh” (ay.13). Tujuan dari mendengarkan khotbah maupun pengajaran dan menikmati hidup bersama di dalam gereja adalah agar kita bertumbuh semakin dewasa dalam Kristus (ay.15). Masing-masing dari kita sedang menempuh perjalanan ini, dan kita dapat menguatkan satu sama lain di sepanjang jalan menuju kedewasaan dalam Yesus. —Dave Branon

Tuhan, tolonglah aku berjuang mencapai kedewasaan. Terima kasih karena Engkau telah memperlengkapi gereja dengan mereka yang dapat menolong imanku bertumbuh. Tunjukkanlah siapa yang dapat kukuatkan hari ini.

Kebersamaan akan memberi kita sukacita dalam perjalanan iman

Memperhatikan

Memperhatikan

Baca: Ayub 39:34-40:9 “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?” —Ayub 38:4

Ketika membersihkan rumah untuk menyiapkan sebuah acara istimewa, saya merasa kecil hati karena membayangkan para tamu takkan memperhatikan apa yang saya bersihkan, tetapi hanya melihat apa yang lupa saya bersihkan. Saya pun terpikir pada pertanyaan filosofis dan spiritual yang lebih penting: Mengapa manusia lebih cepat melihat apa yang salah daripada yang benar? Kita cenderung lebih ingat pada sikap kasar daripada kebaikan seseorang. Kejahatan tampaknya lebih menarik perhatian daripada tindakan yang murah hati. Dan bencana merebut perhatian kita lebih cepat daripada keindahan alam yang luar biasa di sekeliling kita. Namun, saya menyadari bahwa saya pun bersikap demikian terhadap Allah. Saya cenderung berfokus pada apa yang belum dilakukan-Nya daripada apa yang telah Dia lakukan, pada apa yang belum saya miliki daripada yang sudah saya miliki, pada beragam persoalan yang belum Dia bereskan daripada banyak persoalan yang sudah diselesaikan-Nya. Ketika saya membaca kitab Ayub, saya diingatkan bahwa Tuhan juga sama tidak senangnya seperti saya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kemakmuran, Ayub menderita serangkaian bencana. Tiba-tiba saja semua bencana itu menjadi fokus dari hidup dan percakapannya. Akhirnya, Allah turun tangan dan mengajukan sejumlah pertanyaan sulit kepada Ayub guna mengingatkan Ayub akan kedaulatan-Nya dan segala sesuatu yang belum diketahui dan dilihat oleh Ayub (Ayb. 38-40). Ketika saya mulai berfokus pada sisi yang negatif, kiranya saya mau berhenti sejenak, berkaca pada hidup Ayub, dan memperhatikan segala keajaiban yang sudah dan terus Allah kerjakan. —Julie Ackerman Link

Pikirkan untuk membuat jurnal berisi “ucapan syukur”. Setiap hari, tuliskanlah satu hal yang sudah Allah perbuat bagimu.

Ketika kamu mengingat segala hal yang baik, mengucap syukurlah kepada Allah.

Memasuki Usia Lanjut

Memasuki Usia Lanjut

Baca: Yesaya 46:4-13 Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. —Yesaya 46:4

Bagaimana kabar Mama hari ini?” tanya saya seperti biasa. Sambil menunjuk pada sendi-sendinya yang sakit dan nyeri, Mama yang sudah berusia 84 tahun berbisik, “Susah sekali menjalani usia tua!” Lalu lanjutnya dengan sungguh-sungguh, “Tetapi Allah baik kepadaku.” “Memasuki usia lanjut menjadi kejutan terbesar yang pernah saya alami dalam hidup,” demikian tulis Billy Graham dalam bukunya, Nearing Home (Menjelang Pulang), “Sekarang saya sudah berusia lanjut, dan percayalah, menjalaninya tidaklah mudah.” Namun Graham juga menulis, “Meski Alkitab tidak menutupi masalah-masalah yang kita hadapi dengan bertambahnya usia, Alkitab juga tidak menggambarkan usia lanjut sebagai suatu masa yang penuh kehinaan atau suatu beban yang harus ditanggung dengan rasa sesal.” Lalu Graham menyebutkan sejumlah pertanyaan yang mau tidak mau harus ia hadapi ketika usianya bertambah lanjut, salah satunya, “Bagaimana caranya agar kita tidak saja belajar mengatasi semua ketakutan, pergumulan, dan bertambahnya keterbatasan yang kita hadapi, tetapi juga benar-benar menguatkan iman kita di tengah segala kesulitan itu?” Dalam Yesaya 46 kita memperoleh jaminan dari Allah: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (ay.4). Kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini. Kita juga tidak tahu apa yang akan kita hadapi seiring dengan pertambahan usia kita. Namun ada satu hal yang pasti: Allah akan memelihara kita seumur hidup kita. —Lawrence Darmani

Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Lihat Mazmur 90:12)

Jangan takut memasuki usia lanjut; Allah selalu menyertaimu!

Go Fever

Go Fever

Baca: Bilangan 14:39-45 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia. —Mazmur 37:7

Pada 28 Januari 1986, setelah lima kali ditunda karena cuaca buruk, pesawat angkasa luar Challenger meluncur ke langit diiringi bunyi gemuruh sekaligus nyala api. Namun, 73 detik kemudian, kegagalan sistem membuat pesawat tersebut meledak dan ketujuh awaknya tewas seketika. Bencana itu diakibatkan oleh sebuah segel berbentuk cincin yang diketahui memang rentan. Para pengamat antariksa menyebut kesalahan fatal tersebut sebagai “go fever”— kecenderungan untuk mengabaikan tindakan pencegahan yang sangat penting karena terburu-buru ingin mencapai tujuan yang besar. Natur manusiawi kita yang ambisius tak henti-hentinya menggoda kita untuk membuat keputusan yang tidak bijaksana. Namun kita juga sangat rentan terhadap rasa takut yang bisa menjadikan kita terlalu berhati-hati. Bangsa Israel kuno menunjukkan kedua ciri itu. Ketika 12 pengintai pulang dari mengintai Tanah Perjanjian, 10 dari mereka melihat yang ada hanya hambatan (Bil. 13:26-33). “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita,” kata mereka (ay.31). Setelah terjadi pemberontakan terhadap Tuhan yang menyebabkan kematian 10 pengintai itu, orang Israel tiba-tiba bertindak “go fever”. Kata mereka, “Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan Tuhan itu” (14:40). Tanpa restu Allah, penyerbuan yang tidak tepat waktunya itu gagal total (ay.41-45). Ketika kita mengalihkan pandangan kita dari Tuhan, ada dua sikap berlawanan yang mungkin kita ambil. Entah kita akan terburu-buru bertindak tanpa restu Allah, atau sebaliknya, nyali kita menciut dan kita mengeluh karena ketakutan. Berfokus pada Tuhan akan memberikan keberanian yang diimbangi oleh hikmat dari-Nya. —Tim Gustafson

Sebelum mengambil keputusan yang cepat, pikirkanlah mengapa kamu perlu cepat-cepat memutuskan. Pertimbangkan apakah keputusan itu akan menghormati Allah dan apa konsekuensinya bagi orang lain. Jika kamu takut mengambil keputusan, pikirkan mengapa demikian. Yang terutama, berdoalah!

Kesabaran sesaat bisa mencegah bencana besar.

Memandang ke Depan

Memandang ke Depan

Baca: Lukas 2:21-35 [Simeon] seorang yang benar dan saleh . . . Roh Kudus ada di atasnya. —Lukas 2:25

Ketika Rembrandt, pelukis kenamaan asal Belanda, meninggal dunia secara mendadak pada usia 63 tahun, sebuah lukisannya yang belum selesai ditemukan pada penyangga kanvasnya. Lukisan itu memusatkan perhatiannya pada raut wajah Simeon yang sedang menggendong bayi Yesus ketika Dia dibawa orangtua-Nya ke Bait Allah di Yerusalem, genap 40 hari setelah kelahiran-Nya. Namun demikian, latar belakang dan detail lainnya pada lukisan itu belumlah diselesaikan oleh Rembrandt. Sejumlah pakar seni meyakini bahwa Rembrandt tahu akhir hidupnya sudah dekat dan—seperti Simeon—siap untuk “pergi dalam damai sejahtera” (Luk. 2:29). Roh Kudus ada dalam hidup Simeon (ay.25), maka bukanlah suatu kebetulan jika ia berada di Bait Allah ketika Maria dan Yusuf menyerahkan putra sulung mereka kepada Allah. Simeon yang telah lama menantikan Mesias yang dijanjikan itu kemudian menggendong Anak itu dan memuji Allah, dengan berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (ay.29-32). Simeon tidak mendambakan kembalinya kejayaan Israel seperti dahulu kala, melainkan sedang menantikan Mesias yang dijanjikan akan menyelamatkan segala bangsa. Seperti Simeon, kita juga dapat menantikan masa depan yang penuh pengharapan, karena kita tahu kelak kita akan bertemu dengan Tuhan. —David McCasland

Ya Bapa, kiranya kami dapat menjadi seperti Simeon, yang selalu menantikan kedatangan Yesus, Tuhan kami. Amin, datanglah, Tuhan Yesus! —Wahyu 22:20