Berdiam Diri

Berdiam Diri

Baca: Mazmur 46 Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! —Mazmur 46:11

Bertahun-tahun lalu, kalau saya merespons surat-surat yang masuk dalam hitungan minggu, itu sudah membuat para penulis surat sangat bahagia. Kemudian hadir mesin faks, dan mereka yang mengirimkan pesan akan senang jika menerima jawaban dari saya dalam beberapa hari. Saat ini, dengan adanya e-mail, SMS, ataupun telepon seluler, mereka berharap saya segera merespons di hari itu juga! “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Dalam ayat dari Mazmur 46 yang sudah sering kita dengar itu, saya mendapatkan dua perintah yang sama pentingnya. Yang pertama, bahwa kita harus berdiam diri, sesuatu yang kedengarannya hampir mustahil di tengah kehidupan modern seperti sekarang ini. Di dunia yang hiruk-pikuk dan selalu sibuk ini, mengambil waktu teduh sebentar saja bukan hal yang mudah kita lakukan. Berdiam diri akan menuntun kita pada hal penting yang kedua: “Ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” Di tengah dunia yang bukannya meninggikan Allah melainkan semakin mengecilkan arti keberadaan- Nya, bagaimana saya dapat mengambil waktu teduh dan mengizinkan Dia memupuk kehidupan rohani saya? “Doa,” tulis Patricia Hampl, “merupakan suatu kebiasaan memperhatikan yang digunakan agar kita dapat melihat segala sesuatu.” Doa memang merupakan suatu kebiasaan memperhatikan. Diamlah dan ketahuilah. Dalam doa, pertama-tama kita mengakui atau “mengetahui” bahwa Allah adalah Allah. Dengan memperhatikan fakta itu, dengan fokus itu, segala sesuatunya menjadi jelas. Dalam doa, kita dapat mengakui kegagalan, kelemahan, dan keterbatasan kita kepada Allah yang akan menolong kerapuhan kita sebagai manusia dengan belas kasih-Nya yang tak terbatas. —Philip Yancey

Ya Tuhan, tolonglah aku untuk berdiam. Segarkanlah jiwaku ketika aku meluangkan waktu bersama-Mu di dalam doa.

Dalam doa, Allah dapat meneduhkan pikiran kita.

Pemandangan dari Atas Gunung

Pemandangan dari Atas Gunung

Baca: Filipi 4:8-13 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas. —Kolose 3:1

Lembah tempat tinggal kami di negara bagian Idaho bisa menjadi sangat dingin pada musim dingin. Awan dan kabut menyelimuti tanah, memerangkap udara beku di bawah lapisan udara yang lebih hangat di atasnya. Namun kamu dapat mencapai bagian di atas lembah tersebut. Ada jalan terdekat yang mengitari sisi dari Shafer Butte, sebuah gunung setinggi 2.200 m yang menjulang dari tengah lembah. Setelah berkendara beberapa menit, kamu mulai keluar dari kabut dan segera merasakan kehangatan dan cerahnya sinar matahari. Kamu dapat melongok ke bawah pada awan-awan yang menutupi lembah dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang hidup juga seperti itu. Keadaan di sekitar kita seakan dilingkupi kabut yang tak dapat ditembus oleh sinar matahari. Namun demikian, iman menjadi jalan bagi kita untuk mencapai bagian di atas lembah—sarana kita dalam mencari “perkara yang di atas” (Kol. 3:1). Ketika kita beriman, Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit mengatasi keadaan yang ada, dan kita memperoleh keberanian dan ketenangan untuk menghadapi hari yang akan kita jalani. Rasul Paulus menulis: “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp. 4:11). Kita dapat mengatasi kesesakan dan kemurungan kita. Kita dapat berdiam sejenak dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, karena Kristus telah memberikan kekuatan kepada kita (Flp. 4:13). —David Roper

Ya Tuhan, meskipun aku tidak selalu melihat-Mu atau melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, aku tetap percaya pada kasih-Mu kepadaku. Iman dapat mengatasi ketakutanmu.

Empat Cara untuk Memandang

Empat Cara untuk Memandang

Baca: Mazmur 77:1-16

Aku hendak menyebut-nyebut segala perkerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. —Mazmur 77:13

Ketika ibadah baru akan dimulai, Joan teringat pada sejumlah pergumulan besar menyangkut anak-anaknya. Saking lelahnya, ia ingin “mengundurkan diri” saja sebagai ibu. Lalu sang pengkhotbah mulai berbicara dan membangkitkan semangat jemaat yang merasa ingin menyerah. Ada empat pemikiran yang didengar Joan pagi itu yang mendorongnya terus maju: Pandang ke atas dan berdoalah. Asaf berdoa sepanjang malam dan mengungkapkan perasaannya bahwa Allah telah melupakan dan mengabaikannya (Mzm. 77:10-11). Kita dapat menyatakan segalanya kepada Allah dan jujur tentang perasaan kita. Kita bisa meminta apa saja kepada-Nya. Jawaban-Nya mungkin tidak langsung diberikan atau tidak dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi Dia tidak akan menegur kita karena meminta kepada-Nya. Pandang ke belakang dan ingatlah karya Allah di masa lalu untukmu dan orang lain. Asaf tidak hanya berbicara kepada Allah tentang deritanya; ia juga mengingat-ingat kuasa dan karya ajaib Allah baginya dan bagi umat-Nya. Ia menulis: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12). Pandang ke depan. Pikirkan kebaikan yang mungkin akan dihasilkan oleh situasi tersebut. Apa yang bisa kamu pelajari? Apakah yang mungkin hendak Allah lakukan? Karena jalan Allah itu sempurna, apakah yang bisa kamu pastikan akan dilakukan oleh-Nya? (ay.14) Pandang kembali. Lihatlah keadaanmu sekarang dengan mata iman. Ingatkan dirimu sendiri bahwa Allah itu ajaib dan dapat dipercaya (ay.15). Kiranya ide-ide di atas menolong kita mempunyai cara pandang yang benar dan menguatkan iman kita di dalam Yesus. —Anne Cetas

Tuhan, aku sulit untuk tidak melihat masalahku. Tolong aku agar tidak kecewa dan menjadi lesu, tetapi melihat Engkau hadir di tengah-tengah masalahku.

Masalah merupakan kesempatan kita untuk menemukan solusi Allah.

Seruan Iman

Seruan Iman

Baca: Habakuk 3:16-19

Sekalipun pohon ara tidak berbunga . . . aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN. —Habakuk 3:17-18

Kabar itu membuat mati rasa. Air mata yang mengalir deras tak lagi dapat ditahannya. Benaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan ketakutan nyaris menenggelamkan dirinya. Hidupnya yang selama ini baik-baik saja, tiba-tiba porak-poranda dan berubah selamanya tanpa pemberitahuan. Tragedi dapat terjadi dalam berbagai bentuk—kepergian orang terkasih, penyakit, kehilangan harta, atau kehilangan mata pencaharian. Tragedi dapat menimpa siapa pun dan kapan pun. Meskipun Nabi Habakuk mengetahui bahwa tragedi akan terjadi, rasa takut tetap menyergap hatinya. Di saat Habakuk menantikan waktunya bangsa Babel akan menyerang kerajaan Yehuda, hatinya gentar, bibirnya menggigil, dan kakinya pun gemetar (Hab. 3:16). Ketakutan adalah emosi yang wajar di saat tragedi melanda, tetapi ketakutan tidak harus melumpuhkan kita. Pada saat kita tidak mengerti tentang pencobaan yang sedang kita alami, kita dapat mengingat kembali bagaimana Allah telah bekerja di masa lalu (ay. 3-15). Itulah yang dilakukan Habakuk. Mengingat karya Allah memang tidak mengenyahkan rasa takutnya, tetapi ia memperoleh keberanian untuk terus melangkah dengan memilih untuk terus memuliakan Tuhan (ay.18). Allah kita telah membuktikan kesetiaan-Nya. Dari tahun ke tahun, Dia selalu menyertai kita. Karena karakter-Nya yang tidak berubah, ketika kita takut, kita dapat terus menyerukan iman kita dengan mantap, “Allah Tuhanku itu kekuatanku!” (ay.19). —Poh Fang Chia

Ya Tuhan, ketika duniaku seakan dijungkirbalikkan, tolonglah aku untuk mempercayai-Mu. Selama ini Engkau selalu setia kepadaku.

Kita dapat belajar mempercayai Allah pada saat kita mengalami pencobaan.

Kesendirian dan Pelayanan

Kesendirian dan Pelayanan

Baca: Lukas 9:1-2, 10-17

Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. —Lukas 9:11

Komedian Fred Allen pernah berkata, “Selebriti adalah seseorang yang bekerja keras sepanjang hidupnya agar menjadi terkenal, lalu memakai kacamata hitam agar tak dikenali.” Popularitas sering mengakibatkan hilangnya privasi sekaligus memunculkan hebohnya perhatian yang tak berkesudahan. Saat Yesus memulai pelayanan-Nya untuk mengajar dan menyembuhkan orang banyak, Dia makin dikenal luas dan dikerumuni orang-orang yang mencari pertolongan. Orang banyak mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Namun Yesus menyadari pentingnya memiliki waktu pribadi secara teratur bersama Allah Bapa agar kekuatan dan perspektif-Nya terus terjaga. Setelah dua belas murid Yesus kembali dari misi sukses “untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,” Dia membawa mereka ke sebuah kota untuk menyepi dan beristirahat (Luk. 9:2,10). Namun, orang banyak segera menemukan mereka dan Yesus menerima orang-orang itu. Dia “berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan” (ay.11). Alih-alih menyuruh mereka mencari makanan, Yesus menyediakan makanan untuk 5.000 orang! (ay. 12-17). Yesus tidak kebal terhadap tekanan dari orang-orang yang ingin tahu dan sedang terluka. Namun Dia menjaga keseimbangan antara pelayanan dan persekutuan pribadi-Nya dengan meluangkan waktu untuk beristirahat dan berdoa secara khusus kepada Bapa-Nya (Luk. 5:16). Kiranya kita bisa mengikuti teladan Tuhan itu ketika kita melayani orang lain dalam nama-Nya. —David McCasland

Baca: Lukas 9:1-2, 10-17 Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. —Lukas 9:11

Komedian Fred Allen pernah berkata, “Selebriti adalah seseorang yang bekerja keras sepanjang hidupnya agar menjadi terkenal, lalu memakai kacamata hitam agar tak dikenali.” Popularitas sering mengakibatkan hilangnya privasi sekaligus memunculkan hebohnya perhatian yang tak berkesudahan. Saat Yesus memulai pelayanan-Nya untuk mengajar dan menyembuhkan orang banyak, Dia makin dikenal luas dan dikerumuni orang-orang yang mencari pertolongan. Orang banyak mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Namun Yesus menyadari pentingnya memiliki waktu pribadi secara teratur bersama Allah Bapa agar kekuatan dan perspektif-Nya terus terjaga. Setelah dua belas murid Yesus kembali dari misi sukses “untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,” Dia membawa mereka ke sebuah kota untuk menyepi dan beristirahat (Luk. 9:2,10). Namun, orang banyak segera menemukan mereka dan Yesus menerima orang-orang itu. Dia “berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan” (ay.11). Alih-alih menyuruh mereka mencari makanan, Yesus menyediakan makanan untuk 5.000 orang! (ay. 12-17). Yesus tidak kebal terhadap tekanan dari orang-orang yang ingin tahu dan sedang terluka. Namun Dia menjaga keseimbangan antara pelayanan dan persekutuan pribadi-Nya dengan meluangkan waktu untuk beristirahat dan berdoa secara khusus kepada Bapa-Nya (Luk. 5:16). Kiranya kita bisa mengikuti teladan Tuhan itu ketika kita melayani orang lain dalam nama-Nya. —David McCasland

Bapa terkasih, sebagaimana Yesus, Anak-Mu dan Juruselamat kami, menghormati-Mu dalam persekutuan pribadi dan pelayanan-Nya kepada orang lain, kiranya kami mengikuti teladan-Nya dalam kehidupan kami.

Ketika kita mengalihkan perhatian dari hiruk-pikuk kehidupan, kita akan bisa mendengar suara Allah.

Menjauhkan Diri dan Menjadi Kuat

Menjauhkan Diri dan Menjadi Kuat

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! —1 Korintus 6:20

Tindakan mendengarkan secara aktif itu mengingatkan saya pada ketaatan segera yang diperintahkan Kitab Suci dalam menghadapi godaan seksual. Dalam 1 Korintus 6:18, Paulus menulis kepada anggota jemaat yang tergoda oleh para pelacur bakti di kuil penyembahan berhala dan memerintahkan mereka untuk menjauhi percabulan. Memang adakalanya kita harus berdiri teguh dan bertahan menghadapi situasi yang menantang iman (Gal. 5:1; Ef. 6:11), tetapi di sini Alkitab menyerukan taktik bertahan kita yang terbaik: “Menjauhlah!

Tindakan yang langsung dilakukan akan melindungi kita dari sikap kompromi. Kompromi-kompromi kecil dapat membawa kita pada kekalahan yang telak. Pikiran yang tak terkendali, lirikan mata ke situs-situs di dunia maya yang tidak sepatutnya diakses, main mata dengan orang yang bukan suami atau istri Anda—hal-hal tersebut dapat menyeret kita pada kejatuhan dan menjauhkan kita dari Allah.

Ketika kita menjauhi godaan, Allah pun menyediakan pertolongan-Nya. Melalui kematian-Nya yang menebus kita dari dosa, Yesus memberikan pengharapan, pengampunan, dan permulaan yang baru bagi kita—terlepas dari apa pun yang pernah kita lakukan. Ketika kita merasa lemah dan berlari kepada Yesus, Dia akan melepaskan kita dan memampukan kita hidup dengan kekuatan-Nya. —James Banks

Tuhan Yesus, karena kasih-Mu, Engkau memberikan diri-Mu untuk disalibkan bagi kami. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dalam ketaatan akan kehendak-Mu.

Hanya Allah yang dapat memenuhi kebutuhan kita yang terdalam dan memuaskan dahaga jiwa kita.

Tertulis di Hati Kita

Tertulis di Hati Kita

Baca: Ulangan 6:1-12

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan. —Ulangan 6:6

Di lingkungan saya, ada banyak sekali ungkapan religius dalam bentuk tertulis, baik pada berbagai plakat, dinding, tiang pintu, angkutan kota, maupun sebagai nama usaha resmi. Tulisan Oleh Anugerah Allahterpampang di sebuah mobil angkutan; Toko Buku Berkat Allah tertulis pada papan nama suatu badan usaha. Suatu hari saya tersenyum saat melihat tulisan berikut ini pada sebuah mobil Mercedes Benz: Jaga Jarak—Mobil ini Dijaga Malaikat!

Namun, tulisan religius, baik yang terukir di hiasan dinding, perhiasan, ataupun kaos oblong, bukanlah indikator yang pasti dalam menggambarkan kasih seseorang kepada Allah. Yang terpenting bukanlah kata-kata yang terbaca, melainkan kebenaran di dalam hati yang mengungkapkan hasrat kita untuk mau diubah oleh Allah.

Saya teringat pada suatu program yang disponsori oleh lembaga pelayanan lokal yang membagikan kartu-kartu dengan ayat-ayat Alkitab tercantum di kedua sisi kartu tersebut guna menolong jemaat menghafal firman Tuhan. Praktik itu sesuai dengan instruksi Musa kepada bangsa Israel ketika ia memerintahkan mereka untuk menuliskan perintah Allah “pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ul. 6:9). Kita harus memperhatikan firman Tuhan (ay.6), mengajarkannya berulangulang kepada anak-anak kita, dan membicarakannya “apabila [kita] sedang dalam perjalanan, apabila [kita] berbaring dan apabila [kita] bangun” (ay.7).

Kiranya kita memiliki iman yang nyata dan komitmen yang sungguh, sehingga kita bisa mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita (ay.5). —Lawrence Darmani

Bapa, kiranya firman-Mu lebih dari sekadar ucapan yang indah untuk kami. Kiranya firman-Mu tertulis dalam hati kami sehingga kami rela mengasihi-Mu dan sesama.

Ketika firman Tuhan bersemayam di hati kita, kehendak-Nya akan menjadi kehendak kita.

Pilihan Seorang Janda

Pilihan Seorang Janda

Baca: Mazmur 34:16-23

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati. —Mazmur 34:19

Ketika seorang sahabat secara mendadak kehilangan suaminya karena serangan jantung, kami turut berduka bersamanya. Sebagai konselor, ia telah menghibur dan menolong banyak orang. Namun sekarang, setelah 40 tahun pernikahannya, ia menghadapi kenyataan yang tentu tidak dikehendakinya, yaitu pulang setiap hari ke sebuah rumah yang kosong.

Di tengah masa dukanya, sahabat kami itu bersandar kepada Pribadi yang “dekat kepada orang-orang yang patah hati.” Saat Allah menyertainya melewati penderitaannya, ia mengatakan kepada kami bahwa ia memilih untuk “menyandang sebutan janda dengan bangga”, karena ia merasa itulah sebutan yang telah Allah berikan kepadanya.

Kedukaan memang bersifat pribadi, dan orang lain mungkin berduka dengan cara yang berbeda dari sahabat saya. Respons yang diberikannya tidaklah mengurangi kesedihannya atau membuat rumahnya tidak sepi lagi. Namun kita diingatkan bahwa di tengah duka yang paling dalam sekalipun, Allah Mahakuasa yang penuh kasih itu dapat dipercaya.

Bapa kita di surga pernah terpisah sangat jauh dari Anak-Nya. Saat di atas salib, Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Namun, Dia tabah menderita dan terpisah di salib demi menanggung dosa kita karena Dia mengasihi kita!

Allah mengerti! Dan karena “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Mzm. 34:19), kita pun menerima penghiburan yang kita butuhkan. Dia dekat dengan kita. —Dave Branon

Ya Bapa, saat kesedihan melanda karena kematian seseorang yang kami kasihi, tolong kami untuk bersandar pada-Mu dan mempercayai kasih dan kebaikan-Mu. Terima kasih karena Engkau dekat dengan kami yang patah hati.

Allah turut merasakan kesedihan kita.

Mudahnya Tidak Bersyukur

Mudahnya Tidak Bersyukur

Baca: Ibrani 12:18-29

Karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur. —Ibrani 12:28

Krek, krik. Krek, krik . . .

Bunyi alat penyeka kaca depan mobil yang bergerak naik turun membersihkan terpaan air hujan yang lebat hanya menambah kekesalan hati saya. Saya masih mencoba menyesuaikan diri untuk mengendarai sebuah mobil bekas yang saya beli belum lama ini. Yang saya kendarai adalah mobil tua jenis station wagonyang sudah berjarak tempuh 128.000 KM dan tanpa kantong udara yang dapat melindungi anak-anak saya.

Untuk membeli mobil bekas itu, dan agar memiliki sedikit uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang sangat mendesak, saya harus menjual “harta” terakhir kami, yaitu sebuah mobil station wagon Volvo keluaran tahun 1992 dengan kantong udara untuk melindungi anakanak. Dengan terjualnya mobil itu, kami pun tidak punya apa-apa lagi. Rumah dan tabungan kami semuanya habis untuk membiayai pengobatan penyakit yang hampir merenggut nyawa.

“Tuhan!” teriak saya, “Sekarang aku bahkan tak bisa melindungi anak-anakku karena mobil ini tak punya kantong udara. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, tebak apa yang akan kulakukan . . .”

Krek krik. Krek krik. (Glek.)

Tiba-tiba saja saya merasa malu. Selama dua tahun sebelumnya, Allah telah menyelamatkan istri dan putra saya dari penyakit yang hampir merenggut nyawa mereka, tetapi sekarang saya mengeluh tentang “harta” saya yang telah hilang. Saya pun menyadari betapa mudahnya untuk tidak bersyukur kepada Allah. Bapa yang penuh kasih, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri supaya saya selamat, sudah pernah menyelamatkan nyawa anak saya dengan cara-Nya yang ajaib.

“Ampuni aku, Bapa,” doa saya. Sudah, anak-Ku. —Randy Kilgore

Ya Tuhan, saat pencobaan melanda, betapa mudahnya kami melupakan perlindungan dan penyertaan-Mu. Terpujilah Engkau, ya Bapa, untuk kesabaran dan kasih-Mu yang tak bersyarat dan tak berkesudahan.

Sukacita tumbuh subur di dalam hati yang penuh ucapan syukur.

Bunga Es

Bunga Es

Baca: 1 Korintus 12:4-14

Ada bermacam-macam karunia dari Roh Allah, tetapi semuanya diberi oleh Roh yang satu. —1 Korintus 12:4 BIS

Ketika masih berusia lima belas tahun, Wilson Bentley terpikat oleh keindahan dari serpihan salju. Dengan menggunakan mikroskop tua pemberian ibunya, ia mengamati serpihan salju itu dengan rasa kagum dan membuat ratusan sketsa dari beragam bentuknya yang luar biasa. Namun serpihan salju itu terlalu cepat meleleh sebelum detailnya dapat terlihat jelas. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1885, Bentley mendapat ide untuk menempelkan kamera bellows di mikroskopnya. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya ia berhasil memotret serpihan salju pertamanya. Sepanjang hidupnya, Bentley memotret 5.000 serpihan salju dan masing-masing memiliki bentuk yang berbeda. Ia menamainya “keajaiban mungil yang indah” dan “bunga es”.

Tidak ada serpihan salju yang sama persis bentuknya, tetapi semuanya berasal dari satu sumber yang sama. Demikian juga dengan para pengikut Kristus. Kita semua berasal dari Pencipta dan Penebus yang sama, tetapi setiap kita berbeda. Dalam rencana-Nya yang mulia, Allah telah memilih untuk menyatukan beragam jenis orang, dan Dia memberi kita bermacam-macam karunia. Dalam menggambarkan beragam karunia yang dimiliki orang percaya, Paulus menuliskan: “Ada bermacam-macam karunia dari Roh Allah, tetapi semuanya diberi oleh Roh yang satu. Ada bermacam-macam pekerjaan untuk melayani Tuhan, tetapi Tuhan yang dilayani itu, Tuhan yang satu juga! Ada berbagai-bagai cara mengerjakan pekerjaan Tuhan, tetapi yang memberikan kekuatan untuk itu kepada setiap orang adalah Allah yang satu juga”(1Kor. 12:4-6 BIS).

Bersyukurlah kepada Allah atas kontribusi tersendiri yang dapat kamu berikan dalam menolong dan melayani sesama. —Dennis Fisher

Ya Tuhan, terima kasih untuk keunikan yang Engkau berikan kepadaku. Tolong aku setia menggunakan karunia itu untuk melayani-Mu dan sesama.

Setiap orang merupakan hasil karya unik dari rancangan Allah yang penuh kasih.