Wajah Kristus

Wajah Kristus

Baca: 2 Korintus 4:4-15

Sebab Allah . . . membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. —2 Korintus 4:6

Sebagai penulis, sebagian besar masalah yang saya bahas adalah seputar penderitaan. Saya terus-menerus kembali ke pertanyaan-pertanyaan yang sama, seolah mengorek kembali luka lama yang tidak kunjung sembuh. Saya menerima kabar dari para pembaca buku saya dan kisah-kisah penderitaan yang mereka hadapi menunjukkan bahwa apa yang saya pertanyakan itu benar-benar terjadi. Saya teringat kepada seorang pembina kaum muda yang menelepon saya setelah istri dan bayinya terjangkit penyakit AIDS dari transfusi darah. Ia bertanya, “Bagaimana mungkin aku berkhotbah kepada pemuda-pemudi yang kulayani tentang Allah yang Mahakasih?” Saya telah belajar untuk tidak lagi berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan “mengapa”, seperti: Mengapa harus istri pembina itu yang menerima sekantong darah yang telah terkontaminasi? Mengapa angin topan menghantam satu kota dan meluputkan kota lainnya? Mengapa ada doa memohon kesembuhan jasmani yang tidak dijawab? Namun demikian, ada satu pertanyaan yang dahulu pernah mengusik saya tetapi kini tidak lagi, yaitu “Apakah Allah peduli?” Saya hanya tahu satu jawaban atas pertanyaan itu, dan jawabannya adalah Yesus. Kita melihat Allah pada wajah Yesus Kristus. Jika kamu bertanya-tanya bagaimana perasaan Allah terhadap penderitaan manusia di atas planet ini, pandanglah wajah Yesus Kristus. “Apakah Allah peduli?” Kematian Anak-Nya untuk menggantikan kita telah menjawab pertanyaan tersebut. Kelak segala kesakitan, duka, penderitaan, dan kematian akan ditaklukkan untuk selama-lamanya. “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!‘, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). —Philip Yancey Selebar tangan Yesus yang terentang di kayu salib, demikianlah besarnya kasih Allah kepada kita.

Berserah Penuh

Berserah Penuh

Baca: Roma 12:1-8

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. —Roma 12:1

Ketika saya bermain bola basket di perguruan tinggi, saya secara sadar mengambil keputusan pada awal setiap musim pertandingan untuk berlatih dan mengabdikan diri secara total kepada pelatih saya, yaitu melakukan apa pun yang ia minta untuk saya lakukan. Bayangkan jika saya mengatakan kepada pelatih, “Pak, saya mau bermain. Saya akan menggiring dan menembakbola, tetapi jangan meminta saya berlari, bertahan, menjaga lawan, atau bekerja keras!” Sikap itu tentu tidak bisa diterima dan tidak akan memberikan manfaat bagi tim kami.

Setiap atlet yang sukses harus memiliki kepercayaan penuh kepada pelatihnya dan mau melakukan apa pun yang diminta oleh sang pelatih demi kebaikan tim mereka.

Di dalam Kristus, kita harus menjadi “persembahan yang hidup” bagi Allah (Rm. 12:1). Kita berkata kepada Juruselamat dan Tuhan kita: “Aku percaya kepada-Mu. Apa pun yang Engkau kehendaki untuk kulakukan, aku bersedia melakukannya.” Kemudian Dia mengubah kita dengan memperbarui pikiran kita untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan hati-Nya.

Syukurlah Allah tidak pernah memanggil kita untuk melakukan sesuatu tanpa terlebih dahulu memperlengkapi kita. Rasul Paulus mengingatkan kita, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita” (ay.6).

Ketika tahu bahwa kita dapat mempercayakan hidup kita kepada Allah, kita pun sanggup berserah penuh kepada-Nya. Kita yakin karena kita tahu bahwa Allah Pencipta kita akan selalu menolong kita untuk melakukan semua yang dikehendaki-Nya. —Dave Branon

Bapa Surgawi, tak seorang pun layak menerima pengorbanan dan pengabdian kami selain Engkau saja. Tolonglah kami untuk menyadari sukacita yang dialami ketika kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada-Mu.

Tak ada risiko saat kita berserah penuh kepada Allah.

Napas Hidup

Napas Hidup

Baca: Kejadian 2:4-8

Ketika itulah Tuhan Allah . . . menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. —Kejadian 2:7

Pada suatu pagi yang dingin dan membeku, saat saya dan putri saya berjalan bersama menuju sekolahnya, kami sangat senang melihat hembusan napas kami berubah menjadi uap. Kami tertawa geli melihat bermacam-macam bentuk uap yang dihasilkan dari hembusan napas kami. Saya mensyukuri momen itu, karena saya dapat menikmati kebersamaan dengan putri saya dan merasakan hidup. Hembusan napas kami yang biasanya tidak terlihat itu tampak di udara dingin, dan itu membuat saya memikirkan tentang Sumber dari napas dan hidup kita—Allah Pencipta kita. Dia, yang menciptakan Adam dari debu tanah dan memberinya napas hidup, juga memberikan hidup kepada kita dan setiap makhluk ciptaan-Nya (Kej. 2:7). Segala sesuatu berasal dari-Nya, bahkan napas yang kita hirup tanpa memikirkannya. Karena sekarang kita mempunyai banyak kemudahan dan teknologi, kita mungkin cenderung melupakan asal mula kita dan kenyataan bahwa Allah sebagai sumber hidup kita. Namun ketika kita berhenti sejenak untuk mengingat bahwa Allah adalah Pencipta kita, kita dapat menjadikan ucapan syukur sebagai kebiasaan kita sehari-hari. Kita dapat meminta pertolongan-Nya sambil menyadari dengan rendah hati dan penuh syukur bahwa hidup kita adalah anugerah. Kiranya ucapan syukur kita terus melimpah dan menyentuh hati orang lain, sehingga mereka juga akan bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan kesetiaan-Nya. —Amy Boucher Pye

Bapa Surgawi, Engkau sungguh Allah yang dahsyat dan mengagumkan! Engkau menciptakan kehidupan dengan napas-Mu sendiri. Kami memuji-Mu dan mengagumi-Mu. Terima kasih untuk karya ciptaan-Mu.

Bersyukurlah kepada Allah, Pencipta kita, yang memberi kita napas hidup.

Harta untuk Dibagikan

Harta untuk Dibagikan

Baca: 2 Korintus 4:1-7

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

Pada bulan Maret 1974, para petani di Tiongkok yang sedang menggali sumur menemukan sesuatu yang mengejutkan. Di bawah tanah kering di Tiongkok tengah itu terkubur Tentara Terakota—patung-patung tanah liat seukuran orang dewasa yang berasal dari abad ke-3 SM. Temuan yang luar biasa itu terdiri dari 8.000 tentara, 150 kuda kavaleri, dan 130 kereta yang ditarik oleh 520 kuda. Tentara Terakota itu telah menjadi salah satu lokasi wisata paling populer di Tiongkok, dengan memikat lebih dari satu juta pengunjung setiap tahunnya. Harta menakjubkan yang terkubur selama berabad-abad lamanya itu sekarang telah diperkenalkan kepada dunia. Rasul Paulus menuliskan bahwa para pengikut Kristus mempunyai harta terpendam dalam diri mereka yang harus dibagikan kepada dunia: “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor. 4:7). Harta yang kita punyai di dalam diri kita itu adalah kabar baik tentang Kristus dan kasih-Nya. Harta itu bukanlah untuk disembunyikan tetapi untuk dibagikan sehingga oleh kasih dan anugerah Allah setiap bangsa dapat menjadi keluarga-Nya. Melalui karya Roh Kudus, kiranya hari ini kita dapat membagikan harta tersebut kepada seseorang. —Bill Crowder

Ya Bapa, kabar baik tentang Yesus Kristus itu terlalu indah untuk kusimpan sendiri. Kiranya aku menyatakan Injil melalui hidupku dan membagikannya kepada orang lain sepanjang hidupku bersama-Mu, Tuhan.

Kiranya orang lain tidak hanya mendengar kesaksian kita, tetapi juga melihat bukti nyata dari kesaksian itu dalam hidup kita.

Pengaruh Jangka Panjang

Pengaruh Jangka Panjang

Baca: Mazmur 100

Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya . . . tetap turun-temurun. —Mazmur 100:5

Beberapa tahun lalu, saya dan istri pernah tinggal di sebuah penginapan yang menyediakan sarapan di daerah terpencil bernama Yorkshire Dales di Inggris. Di sana juga tinggal empat pasangan lain yang semuanya orang Inggris dan tidak pernah kami kenal sebelumnya. Saat duduk di ruang tamu sembari menikmati kopi setelah makan malam, obrolan kami mengarah pada pekerjaan. Pada saat itu saya masih melayani sebagai presiden dari Moody Bible Institute di Chicago, dan saya mengira tak ada seorang pun dari mereka yang tahu tentanginstitut itu maupun pendirinya, D. L. Moody. Setelah menyebutkan nama sekolah itu, sayaterkejut melihat respons mereka yang begitu cepat. “Moody dan Sankey . . . Moody yang terkenal itu?” Tamu lainnya menambahkan, “Di rumah kami ada sebuah buku himne yang ditulis Sankey dan keluarga kami sering berkumpul untuk menyanyikan pujian dari buku itu dengan iringan piano.” Saya takjub! Penginjil Dwight Moody dan musikus yang mengiringinya, Ira Sankey, pernah mengadakan sejumlah kebaktian kebangunan rohani di Kepulauan Britania lebih dari 120 tahun yang lalu, dan pengaruh mereka masih terasa sampai kini. Malam itu, saya meninggalkan ruangan tersebut sambil memikirkan tentang pengaruh jangka panjang yang bisa diberikan hidup kita bagi Allah—pengaruh doa seorang ibu terhadap anak-anaknya, dorongan semangat yang diberikan seorang rekan kerja, dukungan dan tantangan yang diberikan seorang guru atau pelatih, atau teguran penuh kasih dari seorang teman. Sungguh istimewa untuk mengambil bagian dalam janji indah yang menyatakan bahwa “kasih setia-Nya . . . tetap turun-temurun” (Mzm. 100:5). —Joe Stowell

Tuhan, tolong kami mengingat bahwa meski hidup ini singkat, apa yang kami lakukan bagi-Mu sekarang dapat berdampak panjang setelah kami berpulang kepada-Mu. Pimpin aku hari ini untuk memberikan hidupku bagi sesama.

Hanya karya bagi Kristus yang bernilai kekal.

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. —Roma 11:36

Apakah Anda ingin makin memiliki sikap hati yang bersyukur? George Herbert, penyair Inggris dari abad ke-17, mendorong para pembacanya untuk mencapai tujuan itu melalui puisinya “Gratefulness” (Ucapan Syukur): “Walau begitu banyak yang telah Engkau berikan padaku, berilah satu hal lagi: hati yang bersyukur.”

Herbert menyadari bahwa satu-satunya hal yang ia perlukan agar dapat bersyukur hanyalah kesadaran akan berkat-berkat Allah yang telah diterimanya.

Roma 11:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sumber segala berkat: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” “Segala sesuatu” mencakup semua pemberian, baik pemberian yang luar biasa maupun yang biasa kita terima dalam hidup kita sehari-hari. Setiap hal yang kita terima dalam hidup ini berasal langsung dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17), dan Allah rela memberikan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.

Untuk menumbuhkan kesadaran saya akan berkat-berkat Allah di dalam hidup saya, saya belajar untuk mengembangkan sikap hati yang menyadari sumber dari seluruh sukacita yang saya alami setiap hari, khususnya berkat-berkat yang sering saya pandang enteng atau yang saya anggap biasa-biasa saja. Berkat-berkat seperti itu termasuk, misalnya, cuaca yang cerah untuk lari pagi, pertemuan yang santai dengan teman-teman, persediaan makanan yang cukup untuk keluarga saya, keindahan alam yang terlihat dari jendela rumah, bahkan hingga aroma kopi yang baru diseduh.

Apa saja berkat yang telah dilimpahkan Allah bagi Anda? Buka mata Anda untuk melihat berkat-berkat tersebut dan Anda akan dimampukan untuk menumbuhkan sikap hati yang bersyukur. —lisa samra

Sediakan waktu beberapa menit untuk bersyukur kepada Allah atas apa pun yang muncul di benak Anda saat ini. Cobalah melakukan hal itu sepanjang hari ini.

Ketika Anda memikirkan segala hal yang baik, bersyukurlah kepada Allah

Kuasa Doa

Kuasa Doa

Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada Tuhan, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu. —1 Samuel 7:8

Suatu hari, ketika mengkhawatirkan keadaan dari seseorang yang dekat dengan saya, saya dikuatkan oleh sepenggal kisah Samuel di dalam Perjanjian Lama. Samuel adalah pemimpin Israel yang bijaksana. Setelah membaca tentang Samuel yang mendoakan umat Allah yang sedang menghadapi masalah, saya menguatkan tekad untuk berdoa bagi orang yang saya kasihi itu.

Bangsa Israel menghadapi ancaman dari bangsa Filistin yang pernah mengalahkan Israel ketika umat Allah tidak mempercayai Allah (lihat 1 Samuel 4). Setelah bertobat dari dosa-dosanya, Israel mendengar bahwa Filistin akan menyerang lagi. Namun, kali ini Israel meminta Samuel untuk terus mendoakan mereka (7:8), dan Tuhan menjawab doa itu dengan mengacaukan para musuh sehingga mereka terpukul kalah (ay.10). Meskipun Filistin mungkin lebih hebat dari bangsa Israel, Tuhan jauh lebih kuat dari kedua bangsa itu.

Ketika kita terbeban saat melihat tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang kita kasihi dan mengkhawatirkan situasi mereka yang sepertinya tidak akan berubah, bisa saja kita berpikir bahwa Tuhan tidak akan bertindak. Namun, janganlah kita menganggap rendah kuasa doa, karena Allah kita yang Maha Pengasih mendengar setiap permohonan kita. Kita tidak tahu bagaimana Allah akan bertindak dalam menanggapi permohonan kita. Namun, kita tahu bahwa sebagai Bapa kita, Allah rindu kita mengalami kasih-Nya dan mempercayai kesetiaan-Nya.

Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini? —Amy Boucher Pye

Allah Bapa, aku mengagumi cara-Mu mendengar dan menjawab doa-doaku. Kuatkanlah imanku agar aku senantiasa mempercayai kebaikan dan kasih-Mu.

Allah mendengarkan saat kita berdoa

Mengupayakan Kesatuan

Mengupayakan Kesatuan

Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tapi Kristus itu semua dan di dalam segala sesuatu. -Kolose 3:11

Tumbuh besar di era 1950-an, saya tidak pernah mempertanyakan rasisme dan praktik pemisahan golongan yang mewarnai kehidupan sehari-hari di kota tempat saya tinggal. Di berbagai sekolah, restoran, transportasi umum, dan lingkungan tempat tinggal, orang-orang yang warna kulitnya berbeda memang praktik.

Sikap saya berubah pada tahun 1968 saat mulai mengikuti Pelatihan Dasar Angkatan Darat Amerika Serikat. Kompi saya beranggotakan para pemuda dari berbagai latar belakang. Kami belajar untuk saling membantu dan menerima satu sama lain, bekerja sama, dan menyelesaikan misi kami.

Saat Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose pada abad pertama, ia menyadari keragaman dalam jemaat itu. Ia mengingatkan mereka, "Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu" (Kol 3:11 ). Kepada orang yang sangat mudah terpecah belah, baik oleh perbedaan yang sepele maupun yang serius, Paulus mendorong mereka untuk melakukan "belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (ay.12). Dan yang lebih utama segala hal yang mulia itu, ia mengatakan kepada mereka untuk pelengkap kasih "sebagai pengikat yang mempersatukan dan penting" (ay.14).

Menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam hidup kita mungkin terasa seperti upaya yang tak pernah usai. Namun, itu panggilanku bagi kita. Yang menyatukan kita sebagai umat percaya adalah kasih kita kepada-Nya. Dengan dasar pengertian kita membangun pengertian, damai sejahtera, dan kesatuan sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Di tengah segala keragaman kita, marilah mengupayakan kesatuan yang semakin erat dalam diri Kristus. -David C. McCasland

Kasih Kristus menciptakan kesatuan dalam keragaman.

Apa Isinya?

Apa Isinya?

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

“Apakah kamu mau lihat apa isinya?” tanya teman saya Emily. Saya baru saja memuji boneka kain yang sedang dipeluk putrinya yang masih kecil. Saya memang sangat ingin tahu apa isi boneka itu. Teman saya membalik boneka itu dan membuka ritsleting tersembunyi yang dijahit pada punggung boneka tersebut. Dari dalam tubuh boneka itu, Emily dengan lembut mengeluarkan sebuah harta terpendam: boneka kain yang pernah disayang dan disukainya selama bertahun-tahun di masa kanak-kanaknya, lebih dari dua puluh tahun lalu. Boneka “luar” itu hanya sekadar bungkus jika tanpa boneka “dalam” yang menopang dan memberikan bentuk pada boneka “luar” itu.

Paulus menggambarkan kebenaran tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus sebagai sebuah harta, yang tersimpan dalam diri umat Allah yang rapuh sebagai manusia. Harta itu memampukan mereka yang percaya kepada-Nya untuk menanggung penderitaan yang sangat berat dan untuk terus melayani dengan setia. Saat mereka mempercayai Tuhan, terang-Nya—hidup-Nya—bersinar cemerlang melalui “kerapuhan” mereka sebagai manusia. Paulus menguatkan kita semua agar “tidak tawar hati” (2Kor. 4:16) karena Allah senantiasa menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Seperti boneka “dalam” tadi, harta rohani yang ada di dalam diri kita memberikan tujuan dan kekuatan yang pasti bagi hidup kita. Ketika kekuatan Allah bersinar melalui diri kita, orang lain akan tergerak untuk bertanya, “Apa yang kau miliki di dalam dirimu?” Pada saat itulah kita dapat membuka isi hati kita dan menyatakan kepada mereka janji hidup baru dari keselamatan yang diberikan Kristus. —Kirsten Holmberg

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menyelamatkanku. Pancarkanlah terang-Mu melalui hidupku yang rapuh agar orang lain juga rindu untuk mengenal-Mu.

Injil kebenaran bersinar melalui kerapuhan diri umat Allah.

Hati Sebagai Hamba

Hati Sebagai Hamba

Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. —Lukas 22:27

Hari itu pekerjaan di kantor sangat melelahkan. Namun saat sampai di rumah, tiba waktunya bagi saya untuk memulai “pekerjaan lain”: menjadi ayah yang baik. Sambutan dari istri dan anak saya segera berubah menjadi, “Pa, mau makan malam apa?” “Pa, boleh ambilkan aku minum?” “Pa, main bola yuk?”

Sebenarnya saya hanya ingin duduk santai. Dan meskipun sebagian dari diri saya benar-benar ingin bersikap sebagai ayah yang baik, saya tidak merasabersemangat untuk melayani kebutuhan keluarga saya. Saat itulah saya melihat sesuatu: sepucuk kartu ucapan terima kasih yang diterima istri saya dari salah seorang jemaat gereja. Kartu itu menggambarkan semangkuk air, handuk, dan sandal kotor. Di bagian bawah gambar itu terdapat kata-kata dari Lukas 22:27, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Pernyataan tentang misi Yesus—yakni untuk melayani orang-orang yang hendak dicari dan diselamatkan-Nya (Luk. 19:10)—benar-benar saya butuhkan saat itu. Jika Yesus saja bersedia melakukan pekerjaan yang paling hina bagi para pengikut-Nya—seperti membasuh kaki murid-murid-Nya yang sudah pasti kotor (Yoh. 13:1-17)—tentulah saya dapat mengambilkan minum untuk anak saya tanpa berkeluh kesah. Pada saat itu, saya diingatkan bahwa permintaan keluarga saya untuk melayani mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kesempatanuntuk mencerminkan hati sebagai hamba yang dimiliki Yesus dan juga kasih-Nya kepada mereka. Ketika kita diminta untuk berbuat sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus, Pribadi yang melayani dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. —Adam Holz

Tuhan, terkadang sulit bagi kami untuk melayani kebutuhan orang lain. Tolong kami untuk menjadi semakin seperti Engkau, mau menyatakan kasih-Mu dalam banyaknya kesempatan yang kami punya untuk melayani orang-orang di sekitar kami setiap hari.

Kasih Allah yang kita terima memampukan kita untuk melayani sesama.