Pohon yang Bermakna

Pohon yang Bermakna

Baca: Kolose 1:15-20 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. —1 Petrus 2:24

Salah satu sajak Kristen paling awal dalam sastra Inggris diberi judul “The Dream of the Rood” (Mimpi Si Salib). Kata rood berasal dari kata dalam bahasa Inggris kuno yang berarti batang atau tiang dan itu mengacu pada salib tempat Kristus disalibkan. Dalam sajak kuno itu, kisah penyaliban Yesus diceritakan kembali dari sudut pandang si kayu salib. Awalnya ketika pohon sumbernya tahu bahwa kayunya akan digunakan untuk membunuh Anak Allah, ia menolak dipakai untuk maksud tersebut. Namun akhirnya Kristus melibatkan pohon itu untuk menyediakan penebusan bagi semua orang yang percaya. Di taman Eden, ada sebatang pohon yang menjadi sumber dari buah terlarang yang dinikmati oleh nenek moyang pertama kita, yang membuat dosa memasuki kehidupan umat manusia. Dan ketika Sang Anak Allah mencurahkan darah-Nya sebagai pengorbanan terbesar untuk menebus dosa seluruh umat manusia, Dia dipakukan pada kayu salib demi kita. Kristus “telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib” (1Ptr. 2:24). Salib merupakan titik balik bagi semua orang yang percaya kepada Kristus untuk mendapatkan keselamatannya. Sejak penyaliban Kristus, salib telah menjadi simbol luar biasa dari kematian Sang Anak Allah demi kebebasan kita dari dosa dan kematian. Salib menjadi bukti yang begitu indah dan tak terkatakan tentang kasih Allah bagi kita. —Dennis Fisher

Tuhan, kiranya hatiku memuji-Mu setiap kali aku melihat salib, karena oleh kasih-Mu Engkau telah menyerahkan diri-Mu bagiku.

Kristus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi keselamatan kita.

Pembangunan Kembali

Pembangunan Kembali

Baca: Nehemia 2:11-18

Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela. —Nehemia 2:17

Ketika Edward Klee kembali ke Berlin setelah pergi selama bertahun-tahun, kota yang ia ingat dan cintai dahulu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah berubah drastis, begitu juga dengan dirinya. Dalam tulisannya di majalah Hemispheres, Klee mengatakan, “Pulang ke kota yang pernah kamu cintai terasa seperti untung-untungan . . . . Hasilnya bisa saja mengecewakan.” Kembali ke tempat-tempat yang pernah mengisi masa lalu kita dapat menimbulkan perasaan sedih dan kehilangan. Diri kita tidak lagi sama seperti dahulu, dan tempat yang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita pun tidak lagi sama seperti dahulu. Nehemia telah diasingkan dari tanah Israel selama bertahun-tahun ketika mengetahui tentang keadaan orang-orang sebangsanya yang menyedihkan dan kota Yerusalem yang hancur lebur. Nehemia mendapat izin dari Artahsasta, raja Persia, untuk pulang ke Yerusalem dan membangun kembali tembok kota itu. Setelah melakukan pengintaian di malam hari untuk memeriksa situasi di sana (Neh. 2:13-15), Nehemia berkata kepada penduduk kota, “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela” (ay.17). Nehemia tidak pulang untuk bernostalgia melainkan untuk membangun kembali kotanya. Itulah pelajaran yang berharga bagi kita ketika melihat kembali bagian-bagian rusak dari masa lalu kita yang perlu diperbaiki. Iman kita kepada Kristus dan kuasa-Nya akan memampukan kita untuk memandang ke depan, bergerak maju, dan membangun kembali. —David McCasland

Tuhan, terima kasih atas karya yang sedang Engkau lakukan di dalam dan melalui diriku.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi Allah sedang mengubah kita untuk masa depan.