Waktu Pribadi Bersama Allah

Waktu Pribadi Bersama Allah

Baca: Matius 14:13-23

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. —Matius 14:23

Pagi itu suasana di kelas sekolah Minggu tempat saya melayani sangat ramai. Sekitar 12 anak kecil terus berceloteh dan bermain di ruangan. Karena banyaknya kegiatan yang berlangsung, ruangan kami menjadi panas. Saya pun membuka pintu ruangan dan mengganjalnya. Seorang anak laki-laki melihat itu sebagai kesempatan untuk kabur. Ia pun berjingkat keluar dari ruangan, mengira tidak ada yang memperhatikannya. Setelah membuntutinya, saya pun tidak heran menemukan bahwa ia mencari ayahnya dan langsung memeluknya.

Anak kecil tersebut melakukan apa yang perlu kita lakukan ketika hidup menjadi begitu sibuk dan membuat kita kewalahan—ia menyelip keluar agar bisa bersama ayahnya. Tuhan Yesus mencari kesempatan agar bisa menghabiskan waktu bersama Bapa Surgawi-Nya di dalam doa. Ada yang berpendapat bahwa mungkin itulah cara-Nya mengatasi berbagai tuntutan yang telah menguras tenaga-Nya sebagai manusia. Menurut Injil Matius, Yesus sedang pergi ke suatu tempat terpencil ketika orang banyak mengikuti Dia. Melihat kebutuhan mereka, Yesus melakukan mukjizat dengan menyembuhkan mereka dan memberi mereka makan. Namun setelah itu Dia “naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri” (Mat. 14:23).

Tuhan Yesus berulang-ulang menolong banyak orang, tetapi Dia tidak membiarkan diri-Nya menjadi kepayahan dan tergopoh-gopoh. Dia selalu memupuk hubungan-Nya dengan Allah melalui doa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan menyediakan waktu pribadi bersama Allah untuk mengalami kekuatan dan kepuasan sejati dari-Nya? —Jennifer Benson Schuldt

Dari mana kamu menemukan kepuasan yang lebih besar—dari usaha kamu memenuhi segala tuntutan hidup ini atau dari hubungan kamu dengan Sang Pencipta?

Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui!

Cincin Meterai

Cincin Meterai

Baca: Hagai 2:16-24

Aku . . . akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman Tuhan. —Hagai 2:24

Ketika pertama kalinya berkenalan dengan seorang teman dari luar negeri, saya tertarik pada logatnya yang sangat bagus dan sebuah cincin yang terdapat pada jari kelingkingnya. Belakangan saya mengetahui bahwa cincin itu bukan sekadar perhiasan. Sebuah lambang yang terukir pada cincin itu menunjukkan tempatnya dalam silsilah keluarganya.

Cincin teman saya itu mirip dengan cincin meterai—bisa jadi seperti yang disebutkan dalam kitab Hagai. Dalam kitab Perjanjian Lama yang singkat itu, Nabi Hagai menyerukan kepada umat Allah untuk membangun kembali bait Allah. Mereka pernah dibuang dan sekarang sudah kembali ke tanah air mereka, tetapi ketika mereka mulai membangun kembali, pertentangan dari para musuh membuat proyek itu terhenti. Pesan dari Hagai meliputi janji Allah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, yang menyatakan bahwa ia telah dipilih dan dijadikan seperti cincin meterai.

Pada zaman kuno, cincin meterai digunakan sebagai pengenal identitas seseorang. Untuk menandai sesuatu, mereka tidak membubuhkan nama sebagai tanda tangan, tetapi mencetak cincin mereka yang telah dibubuhkan ke lilin panas atau tanah liat yang lembek. Sebagai anak-anak Allah, kita juga menandai kehadiran kita di dunia ini dengan menyebarkan Injil, membagikan anugerah-Nya kepada sesama, dan bekerja meringankan beban orang lain.

Setiap dari kita memiliki cap tersendiri yang memperlihatkan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah dan menunjukkan paduan unik dari karunia, kegemaran, dan hikmat yang kita miliki. Kita menerima panggilan dan hak istimewa untuk berperan sebagai cincin meterai Allah di tengah dunia ini. —Amy Boucher Pye

Ya Allah Bapaku, hari ini, tolonglah aku mengenali identitasku yang sejati sebagai ahli waris-Mu. (Lihat Lukas 15).

Kita adalah ahli waris dan duta Allah yang dipanggil untuk membagikan kasih-Nya kepada dunia.

Diikat dalam Kasih

Diikat dalam Kasih

Baca: Roma 8:31-39

Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 106:1

Pada bulan Juni 2015, pemerintah kota Paris membuang gembok-gembok seberat 45 ton dari terali jembatan pejalan kaki Pont des Arts. Para pasangan kekasih yang mengikat cinta di sana menuliskan huruf awal nama mereka pada sebuah gembok, mengaitkan gembok itu pada terali jembatan, menguncinya, lalu melemparkan kuncinya ke sungai Seine.

Setelah ribuan pasangan melakukan hal tersebut, jembatan itu tidak dapat lagi menahan beban “cinta” yang begitu berat. Karena khawatir jembatan itu akan runtuh, akhirnya pemerintah kota Paris memutuskan untuk membuang “gembok-gembok cinta” tersebut.

Gembok-gembok tersebut dimaksudkan untuk melambangkan cinta yang abadi, tetapi cinta manusia tidak selalu bisa bertahan lama. Kawan yang paling akrab sekalipun bisa saling menyinggung perasaan dan tidak dapat menyelesaikan perbedaan mereka. Sesama anggota keluarga bisa berselisih paham dan menolak untuk saling memaafkan. Hati suami-istri bisa terpisah begitu jauh, sampai-sampai mereka tidak ingat lagi alasan mereka menikah. Cinta manusia memang bisa berubah-ubah.

Namun demikian, ada satu kasih yang tetap dan bertahan selamanya, yaitu kasih Allah. “Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”, seperti diungkapkan oleh Mazmur 106:1. Janji-janji tentang kasih Allah yang abadi dan tak berkesudahan itu terdapat di seluruh Kitab Suci. Dan bukti terbesar dari kasih itu adalah kematian Anak-Nya, sehingga mereka yang beriman kepada-Nya akan hidup selama-lamanya. Tiada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Rm. 8:38-39).

Sebagai saudara-saudari seiman, kita diikat dalam kasih Allah untuk selama-lamanya. —Cindy Hess Kasper

Ya Bapa, aku bersyukur atas kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Aku diikat selamanya dalam kasih-Mu oleh Roh Kudus yang hidup di dalamku.

Kematian dan kebangkitan Kristus adalah bukti kasih Allah kepada saya.

Kesaksian Sederhana

Kesaksian Sederhana

Baca: 2 Petrus 1:12-21

Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. —2 Petrus 1:16

Tawa keras tiba-tiba keluar dari kamar rumah sakit tempat ayah saya dirawat. Di kamar itu berkumpul dua pengemudi truk berusia lanjut, seorang mantan penyanyi lagu country, seorang perajin, dua wanita dari peternakan, dan saya sendiri.

. . . lalu orang itu bangun dan memukul kepalaku dengan botol,” kata sang perajin saat mengakhiri ceritanya tentang perkelahian yang dialaminya di sebuah bar.

Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar kisah pedih yang sekarang terdengar lucu itu. Ayah pun ikut tertawa, meski ia sulit bernapas dengan baik karena kanker yang menggerogoti paru-parunya. Sambil terengah-engah, ia mengingatkan setiap orang di situ bahwa saya adalah seorang pengkhotbah, sehingga mereka harus berhati-hati dalam berbicara. Kami semua sempat terdiam, sebelum kembali tertawa lepas karena cerita lucu tadi.

Tiba-tiba saja, kira-kira 40 menit sejak kedatangan mereka, perajin teman Ayah itu mengucapkan sesuatu dengan serius sambil memandang ayah saya. “Howard, sekarang aku tak lagi minum-minum dan berkelahi di bar. Itu adalah kisah masa lalu. Sekarang aku mempunyai tujuan lain dalam hidupku. Aku ingin menceritakan padamu tentang Juruselamatku.”

Ia pun menceritakan kesaksiannya, walau sempat diprotes oleh ayah. Saya belum pernah mendengar penyampaian berita Injil seindah dan selembut itu. Ayah menyimak dan memperhatikan kesaksian temannya itu. Beberapa tahun kemudian, ayah saya mau menyerahkan hidupnya dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Suatu kesaksian sederhana dari seorang teman lama yang hidup dengan sederhana itu kembali mengingatkan saya bahwa sederhana tidak berarti bodoh atau lugu, melainkan lugas dan apa adanya.

Sama seperti Tuhan Yesus dan keselamatan dari-Nya. —Randy Kilgore

Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. —Matius 28:19

Natal Tuntunan & HUT Pemuda GKPS ke-63

Natal Tuntunan & HUT Pemuda GKPS ke-63

Dokumentasi Foto : http://bit.ly/2EsGUw2

Untuk pertama kalinya Natal Tuntunan & HUT Pemuda GKPS di cijantung diadakan pada pagi hari, namun tidak menyulut api semangat para jemaat terkhususnya pemuda untuk datang dan menikmati ibadah.

capture1

Ibadah Natal Tuntunan berlangsung dengan kondusif, kotbah dibawakan oleh cavik. Dengan mengingatkan kita kembali tentang Damai, bahwa kita manusia agar bisa merasakan bahagia dalam kehidupan, haruslah berdamai dengan sesama dan terutama berdamai dengan diri kita sendiri..

capture2

Setelah ibadah selesai, dilanjutkan dengan merayakan HUT Pemuda.. Acara dibuka dengan bernyanyi riang berdama, membuat kelompok dan bermain games "Eatbulaga".. Games berlangsung begitu ceria dan semangat oleh para pemuda/pemudi..

Tak hanya games, acara tiup lilin bersama juga disambut dengan antusias.. Kini pemuda gkps telah berumur 63 tahun, umur yang tak muda haruslah menjadikan motivasi pemuda gkps untuk semakin memberikan yang terbaik, baik dalam pelayanan maupun menjadi wadah kreativitas..

capture3

Acara ditutup dengan Tukar kado, kembali disambut antusias pemuda/i.. Semoga Pemuda GKPS Cijantung kedepannya semakin kompak dan semangat dalam melayani, menjadi penerus gereja yang memenangkan hati Tuhan.. Tuhan memberkati..