Tidak Sempurna tetapi Dikasihi

Tidak Sempurna tetapi Dikasihi

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8

Di Jepang, produk makanan disiapkan dan dikemas rapi. Tidak hanya harus memiliki rasa yang enak, makanan itu juga harus terlihat indah. Saya sering bertanya-tanya apakah saya membeli makanan atau kemasannya! Karena orang Jepang menekankan pada kualitas yang bagus, produk-produk yang cacat sedikit saja sering dibuang. Namun, beberapa tahun terakhir, produk-produk wakeari makin populer. Wakeari adalah bahasa Jepang dari “ada alasannya”. Produk-produk itu tidak dibuang, tetapi dijual dengan harga murah karena “ada alasannya”—misalnya ada retakan kecil pada keripik beras.

Seorang teman yang tinggal di Jepang mengatakan bahwa wakeari juga menjadi istilah bagi orang-orang yang terlihat tidak sempurna.

Yesus mengasihi semua orang—termasuk para wakeari yang dikucilkan masyarakat. Ketika seorang wanita yang pernah hidup dalam dosa mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah seorang Farisi, ia pun pergi ke sana dan berlutut di belakang Yesus dekat kaki-Nya sambil menangis (Luk. 7:37-38). Orang Farisi menjuluki wanita itu “seorang berdosa” (ay.39), tetapi Yesus menerimanya. Dia berbicara dengan lembut kepada wanita itu dan meyakinkannya bahwa dosa-dosanya telah diampuni (ay.48).

Yesus mengasihi para wakeari, orang-orang yang tidak sempurna—termasuk kamu dan saya. Dan pernyataan kasih-Nya yang terbesar bagi kita adalah: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Sebagai penerima kasih-Nya, kiranya kita juga menjadi saluran kasih-Nya kepada orang-orang yang tidak sempurna di sekitar kita. Kita melakukannya supaya mereka juga tahu bahwa mereka boleh menerima kasih Allah meskipun mereka tidak sempurna. —Albert Lee

Tuhan, aku tahu diriku tidak sempurna. Tolonglah aku untuk tidak bersikap munafik dan berpura-pura tahu segalanya. Bukalah hatiku untuk menerima dan mengasihi orang lain sehingga mereka pun tahu Engkau peduli kepada mereka.

Kasih Allah sanggup memulihkan kembali hidup orang yang hancur

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/tidak-sempurna-tetapi-dikasihi/

Kesanggupan Berempati

Kesanggupan Berempati

Ingatlah orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga beradadi dalam penjara bersama mereka. —Ibrani 13:3 BIS

Kenakanlah baju R70i Age Suit dan kamu akan segera merasa 40 tahun lebih tua, dengan mengalami gangguan pada penglihatan, kehilangan daya pendengaran, dan berkurangnya mobilitas. Baju Age Suit tersebut dirancang untuk menolong para pengasuh agar dapat lebih memahami pasien mereka. Setelah mencoba baju itu, Geoffrey Fowler, koresponden Wall Street Journal, menulis, “Pengalaman yang tak terlupakan dan sesekali menggelisahkan itu membuka mata kita bukan hanya terhadap usia senja, tetapi juga bagaimana perangkat realitas virtual dapat mengajarkan empati dan membentuk persepsi kita tentang dunia yang ada di sekitar kita.”

Empati adalah kesanggupan untuk memahami dan menyelami perasaan orang lain. Di tengah masa penganiayaan berat terhadap para pengikut Yesus, penulis kitab Ibrani mendorong orang percaya untuk “[mengingat] orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga berada di dalam penjara bersama mereka. Dan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, hendaklah kalian ingat kepada mereka seolah-olah kalian juga diperlakukan demikian” (13:3 BIS).

Itulah yang telah dilakukan Sang Juruselamat bagi kita. Yesus Kristus menjadi manusia, sama seperti kita, “dalam segala hal . . . Dengan pelayanan-Nya itu dosa manusia dapat diampuni. Dan karena Ia sendiri pernah menderita dan dicobai, Ia dapat menolong orang-orang yang terkena cobaan” (2:17-18 BIS).

Kristus Tuhan, yang menjadi sama seperti kita, memanggil kita untuk berempati kepada orang lain “seolah-olah [kita] juga . . . bersama mereka” di saat mereka membutuhkan pertolongan.—David McCasland

Tuhan Yesus, kami mengagumi kerelaan-Mu untuk menjadi manusia seperti kami demi menyelamatkan kami. Mampukan kami untuk berempati kepada sesama kami yang membutuhkan pertolongan hari ini.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk berempati kepada orang lain seolah-olah kita berada dalam keadaan yang sama dengan mereka.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/kesanggupan-berempati/

Tahu Lebih Baik

Tahu Lebih Baik

Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya. —2 Raja-Raja 22:11

Setelah membawa pulang anak angkat kami dari luar negeri, saya begitu ingin melimpahinya dengan kasih sayang. Saya ingin menyediakan apa yang belum pernah dinikmatinya, terutama makanan sehat untuk gizinya. Namun, meskipun kami sudah mengusahakan yang terbaik, termasuk berkonsultasi dengan ahli gizi, pertumbuhan tubuhnya sangat lambat. Setelah hampir tiga tahun, baru kami tahu bahwa ia mengidap alergi akut terhadap sejumlah bahan makanan. Setelah menghapus bahan-bahan itu dari menunya, putra saya pun bertambah tinggi 12,5 cm hanya dalam waktu beberapa bulan. Meski menyesal karena lama tidak menyadari bahwa saya telah memberinya makanan yang menghambat pertumbuhan, kini saya senang atas kesehatannya yang berkembang pesat!

Saya menduga Raja Yosia merasakan hal yang sama saat mengetahui bahwa kitab Taurat yang hilang di Bait Allah selama bertahun-tahun kini telah ditemukan. Sama seperti saya menyesal karena tanpa sengaja telah menghambat pertumbuhan putra saya, Yosia menyesal telah mengabaikan kehendak Allah yang terbaik bagi umat-Nya (2Raj. 22:11). Meskipun dipuji karena melakukan apa yang benar di mata Tuhan (ay.2), setelah menemukan kitab Taurat itu Yosia jadi tahu lebih baik bagaimana menghormati Allah. Dengan pengetahuan barunya itu, ia memimpin bangsa Israel beribadah kembali kepada Allah seperti yang dahulu diperintahkan-Nya kepada mereka (23:22-23).

Ketika melalui Alkitab kita belajar bagaimana menghormati Allah, kita mungkin menyesali saat-saat kita pernah melalaikan kehendak-Nya bagi kita. Namun, kiranya kita terhibur karena Allah menyembuhkan dan memulihkan kita, serta membimbing kita dengan penuh kasih sehingga kita tahu lebih baik tentang kehendak-Nya. —Kirsten Holmberg

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menunjukkan padaku cara menjalani hidup yang menyenangkan-Mu. Ampuni aku atas hal-hal yang kulalaikan di masa lalu. Tolonglah aku untuk menghormati dan menaati-Mu mulai saat ini.

Allah senang memberi kita awal yang baru.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/tahu-lebih-baik/

Tuhan Tahu

Tuhan Tahu

Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. —Matius 6:4

Denise bertemu seorang wanita muda yang sedang bersedih di gerejanya, hatinya tersentuh dan ia pun mencari tahu bagaimana ia dapat menolong wanita itu. Setiap minggu, Denise menyediakan waktu untuk mendengarkan dan mendoakan wanita itu. Denise menjadi mentor baginya. Akan tetapi, beberapa pemimpin gereja tidak mengetahui upaya Denise dan memutuskan untuk menugasi seorang pengurus gereja menjadi mentor bagi wanita itu. Mereka berkomentar bahwa tidak ada seorang pun yang melayani wanita itu.

Meskipun Denise tidak mengharapkan imbalan apa pun, ia mengaku merasa sedikit kecewa. “Seolah-olah saya tidak melakukan apa pun,” kata Denise kepada saya.

Namun suatu hari, wanita muda itu mengatakan kepada Denise betapa ia sangat berterima kasih atas penghiburan yang Denise berikan. Mendengar itu, Denise pun merasa dikuatkan. Seolah-olah Allah sedang berkata kepadanya, “Aku tahu kamu setia mendampinginya.” Setelah itu, Denise masih rutin bertemu dengan wanita muda itu.

Kadang-kadang, kita merasa tidak dihargai ketika upaya kita tidak diakui oleh orang lain. Namun, Alkitab mengingatkan kita bahwa Allah tahu apa yang sedang kita kerjakan. Dia melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Allah pun senang ketika kita melayani sesama demi Dia dan bukan demi pujian dari orang lain.

Mungkin itulah alasan Yesus memberi kita teladan dengan memerintahkan kita untuk memberi “dengan tersembunyi”, sehingga “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:4). Kita tidak perlu mencari pengakuan dan pujian dari orang lain; kita dapat meyakini bahwa Allah tahu apa yang kita perbuat ketika kita setia melayani Dia dan sesama. —Leslie Koh

Tuhan, ampunilah aku pada saat-saat aku mendambakan pengakuan dan pujian dari orang lain. Tolonglah aku untuk melayani hanya demi kemuliaan-Mu.

Allah melihat segala sesuatu yang kita perbuat bagi-Nya.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/11/tuhan-tahu/

Batal Kirim

Batal Kirim

Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat harihari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapanucapan yang menipu. —1 Petrus 3:10

Pernahkah kamu mengirim e-mail dan tiba-tiba menyadari bahwa e-mail tersebut terkirim ke orang yang salah atau di dalamnya berisi kata-kata yang kasar dan menyakitkan? Andai saja kamu dapat menekan sebuah tombol dan menghentikan pengirimannya. Nah, sekarang kamu dapat melakukannya. Beberapa perusahaan menawarkan fitur yang memberikan sejumlah waktu singkat bagimu untuk membatalkan e-mail yang sempat kamu kirimkan. Jika dalam waktu itu kamu tidak menekan fitur tersebut, e-mail yang kamu kirimkan akan menjadi seperti ucapan yang sudah keluar dan tidak dapat ditarik kembali. Fitur “batal kirim” itu seharusnya mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ucapan kita dan bukan digunakan sebagai jalan keluar dari semua masalah.

Dalam surat pertamanya, Rasul Petrus mengatakan kepada para pengikut Tuhan Yesus, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati. . . . Sebab: ‘Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya’” (1Ptr. 3:9-11).

Daud sang pemazmur menuliskan, “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku” (Mzm. 141:3). Doa itu sangat baik kita ucapkan di awal hari dan setiap kali kita berniat menyerang balik orang lain dengan perkataan kita.

Tuhan, awasilah perkataan kami hari ini agar kami tidak menyakiti orang lain lewat apa yang kami ucapkan. —David McCasland

Bapa, ajarlah kami terlebih dulu menjaga hati kami agar kami dapat menjaga lidah kami. Tolonglah apabila kami mengatakan hal-hal yang kami sesali, kami mau meminta maaf dengan rendah hati dan memohon pengampunan.

Hidup dan mati dikuasai lidah. —Amsal 18:21

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/batal-kirim/

Penawaran Terbaik

Penawaran Terbaik

Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? —Pengkhotbah 5:10

Seberapakah yang dianggap cukup itu? Pertanyaan sederhana itu kita ajukan pada hari yang ditetapkan oleh banyak negara maju sebagai hari terbaik untuk berbelanja. Di Amerika Serikat, sehari setelah perayaan Thanksgiving (Pengucapan Syukur), hari itu dikenal sebagai Black Friday, hari di mana banyak toko buka lebih awal dan menawarkan diskon besar-besaran. Tradisi itu bermula di Amerika Serikat dan telah menyebar ke negara-negara lain. Memang ada pembeli yang memiliki dana terbatas dan mereka berusaha membeli barang-barang dengan harga yang terjangkau bagi mereka. Namun sayangnya, ada sebagian pembeli yang didorong oleh keserakahan, dan kekerasan kadang terjadi selagi mereka saling berebut.

Hikmat dari seorang penulis di Perjanjian Lama yang dikenal sebagai “Pengkhotbah” (Pkh. 1:1) memberikan sebuah penangkal untuk gejala konsumerisme yang mungkin kita temui di toko-toko—dan juga yang ada di dalam hati kita. Ia menunjukkan bahwa siapa pun yang mencintai uang tidak akan pernah merasa cukup dan akan dikendalikan oleh harta mereka. Lebih dari itu, mereka akan mati tanpa membawa apa-apa: “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi” (5:14). Rasul Paulus menggemakan ucapan Pengkhotbah ketika mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang, dan kita harus berjuang untuk hidup saleh “disertai rasa cukup” (1Tim. 6:6-10).

Baik kita berkecukupan atau tidak, kita semua bisa menempuh cara-cara yang tidak sehat untuk mengisi kekosongan hati yang sebenarnya hanya bisa dipuaskan oleh Allah. Namun ketika kita memohon kepada Tuhan untuk memberi kita kedamaian dan kepuasan, Dia akan mengisi hati kita dengan kebaikan dan kasih-Nya. —Amy Boucher Pye

Engkau telah menjadikan kami untuk diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai menemukan kediamannya di dalam-Mu. —Agustinus, Pengakuan-Pengakuan

Kepuasan sejati tidak bergantung pada apa pun yang ada di dunia ini.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/penawaran-terbaik/

Lomba Mengucap Syukur

Lomba Mengucap Syukur

Segala sesuatu yang kamu lakukan . . . lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. —Kolose 3:17

Di setiap musim gugur, kami mengadakan perayaan Thanksgiving yang seru di kampus Universitas Cornerstone. Mahasiswa kami sangat menyukainya! Tahun lalu sekelompok mahasiswa melakukan permainan dengan menantang satu sama lain untuk berlomba mengucapkan syukur dalam waktu kurang dari tiga detik tanpa boleh mengulang apa yang sudah dikatakan oleh rekan-rekannya. Yang ragu dan terlalu lama memberikan jawaban harus keluar dari permainan.

Ada banyak hal yang bisa dikeluhkan para mahasiswa—ujian, tenggat tugas, peraturan, dan sejumlah keluhan lain yang biasa terjadi di kampus. Namun para mahasiswa itu telah memilih untuk mengucap syukur. Dan menurut saya, setelah melakukan permainan itu, mereka semua akan merasa lebih baik daripada jika mereka memilih untuk mengeluh.

Meskipun selalu ada hal-hal yang bisa kita keluhkan, tetapi jika kita melihat dengan cermat, pastilah ada berkat-berkat yang bisa disyukuri. Ketika Paulus menjelaskan tentang hidup baru kita di dalam Kristus, “rasa syukur” adalah satu-satunya karakter yang disebutkan lebih dari satu kali. Sikap yang bersyukur disebutkan sebanyak tiga kali. “Bersyukurlah,” kata Paulus di Kolose 3:15. Bernyanyilah dengan “mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (ay.16). Dan apa pun yang kamu lakukan, pastikan untuk “mengucap syukur . . . kepada Allah Bapa” (ay.17). Perintah Paulus untuk mengucap syukur sangatlah mengagumkan apabila kita mengingat bahwa ia menulis surat tersebut dari dalam penjara!

Hari ini, marilah memilih untuk mengucap syukur. —Joe Stowell

Tuhan, berilah aku sukacita dari mengucap syukur! Tolonglah aku untuk menemukan berkat-berkat tersembunyi dalam hal-hal yang sering kukeluhkan dan membiasakan diri untuk mengucap syukur kepada-Mu dan sesama kami.

Pilihlah untuk mengucap syukur.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/lomba-mengucap-syukur/

Ketenaran dan Kerendahan Diri

Ketenaran dan Kerendahan Diri

Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. —Filipi 2:8

Banyak dari kita terobsesi dengan ketenaran—baik menjadikan diri sendiri terkenal atau dengan mengikuti seluk-beluk kehidupan orang-orang yang terkenal. Terkenal lewat promosi buku dan film di seluruh dunia, tampil di acara-acara televisi, sampai diikuti terobsesi dengan ketenaran—baik menjadikan diri jutaan pengikut di media sosial.

Dalam suatu studi baru-baru ini di Amerika Serikat, para peneliti menyusun urutan nama-nama orang terkenal dengan menggunakan algoritma khusus untuk menjelajahi dunia maya. Yesus menempati urutan tertinggi sebagai orang paling terkenal dalam sejarah.

Namun Yesus tidak pernah mengejar status sebagai orang terkenal. Selama berada di bumi, Dia tidak pernah mencari ketenaran (Mat. 9:30; Yoh. 6:15)—walaupun memang nama-Nya menjadi tenar seiring dengan kabar tentang Dia yang dengan cepat tersebar ke seluruh daerah Galilea (Mrk. 1:28; Luk. 4:37).

Ke mana pun Yesus pergi, orang banyak segera mengerubungi-Nya. Mukjizat yang Dia lakukan menarik orang kepada-Nya. Akan tetapi, ketika mereka berusaha dengan paksa menjadikan-Nya sebagai raja, Dia pun menyingkir dengan diam-diam (Yoh. 6:15). Dalam tujuan yang sejalan dengan maksud Bapa-Nya, Yesus berulang kali berserah pada kehendak dan waktu Bapa (Yoh. 4:34; 8:29; 12:23). “Ia telah merendahkan diri-Nya dantaat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).

Ketenaran tidak pernah menjadi tujuan Yesus. Tujuan-Nya sangat sederhana. Sebagai Anak Allah, dengan taat Dia merendahkan diri-Nya dan dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya sebagai korban untuk penebusan dosa kita. —Cindy Hess Kasper

Engkau layak dipuji, ya Tuhan, di atas segalanya. Engkau telah ditinggikan dan diberikan nama di atas segala nama. Suatu hari setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Engkaulah Tuhan.

Yesus datang bukan untuk menjadi tenar, tetapi dengan kerendahan hati rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai korban penebus dosa kita.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/ketenaran-dan-kerendahan-diri/

Rindu Pulang

Rindu Pulang

Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. —Ibrani 11:16

Istri saya memasuki kamar dan melihat saya sedang melongokkan kepala ke dalam lemari pada jam kuno berukuran besar yang ada di situ. Ia bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” “Bau jam ini seperti bau rumah orangtuaku,” jawab saya dengan malu-malu, sembari menutup pintu lemari pada jam itu. “Rasanya seperti pulang ke rumahku sendiri.”

Penciuman memang dapat membangkitkan kenangan-kenangan yang kuat. Kami telah memindahkan jam kuno tersebut dari rumah orangtua saya kira-kira dua puluh tahun yang lalu, tetapi aroma kayu di bagian dalam jam itu masih membuat saya terkenang kembali pada masa kecil saya.

Penulis kitab Ibrani menceritakan tentang orang-orang yang merindukan rumah mereka dengan cara yang berbeda. Alih-alih melihat ke belakang, mereka justru memandang ke depan dengan iman pada rumah mereka di surga. Walaupun apa yang mereka harapkan itu sepertinya masih jauh dari jangkauan, mereka percaya bahwa Allah setia dalam memenuhi janji-Nya untuk membawa mereka ke suatu tempat di mana mereka akan bersama-sama dengan Dia selamanya (Ibr. 11:13-16).

Filipi 3:20 mengingatkan bahwa “kewargaan kita adalah di dalam sorga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Dengan memandang ke depan untuk melihat Yesus dan menerima semua yang telah Allah janjikan kepada kita melalui Dia, kita dimampukan untuk tetap berfokus pada tujuan kita. Masa lalu atau masa kini tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan apa yang menanti di hadapan kita! —James Banks

Yesus, terima kasih karena Engkau setia menggenapi janji-janji-Mu. Tolonglah aku untuk selalu memandang ke depan dan berharap kepada-Mu.

Rumah yang terbaik dari semuanya adalah rumah kita di surga.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/rindu-pulang/

Bagaimana Dengan Kamu?

Bagaimana Dengan Kamu?

Hidup dan mati dikuasai lidah. —Amsal 18:21

Emily mendengarkan perbincangan di antara teman-temannya tentang tradisi Hari Thanksgiving yang mereka lakukan bersama keluarga. “Kami bergiliran menceritakan apa yang membuat kami bersyukur kepada Allah,” kata Gary.

Seorang teman lainnya bercerita tentang kebiasaan makan dan berdoa bersama yang dilakukan keluarganya. Ia mengenang saat-saat bersama ayahnya sebelum meninggal: “Meskipun Ayah menderita demensia, doa ucapan syukurnya kepada Allah begitu jelas.” Randy berkata, “Keluargaku selalu punya waktu khusus untuk bernyanyi bersama pada masa liburan itu. Nenekku bisa terus-terusan bernyanyi!” Kesedihan dan kecemburuan mulai menghinggapi Emily saat ia memikirkan keluarganya sendiri. Emily mengeluh: “Tradisi keluarga kami hanyalah makan kalkun, menonton televisi, dan tak pernah berbicara tentang Tuhan atau mengucap syukur.”

Seketika Emily merasa tidak nyaman dengan sikapnya itu. Kamu adalah bagian dari keluarga itu. Apa yang akan kamu lakukan secara berbeda untuk mengubah kondisi itu? tanya Emily pada dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk mengatakan secara pribadi pada setiap anggota keluarganya bahwa ia bersyukur kepada Tuhan karena memiliki mereka sebagai adik, keponakan, atau saudara. Ketika hari itu tiba, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas mereka satu per satu, dan mereka semua merasakan begitu dikasihi. Hal itu tidak mudah karena percakapan itu tidak lazim terjadi di keluarganya, tetapi Emily mengalami sukacita ketika membagikan kasihnya pada setiap anggota keluarganya.

“Pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu,” tulis Paulus, “supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia [penguatan]” (Ef. 4:29). Ucapan syukur kita bisa mengingatkan orang lain akan betapa berharganya mereka bagi kita dan bagi Allah. —Anne Cetas

Ya Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku bisa menguatkan orang lain lewat perkataanku.

Jiwa manusia dipenuhi dengan pengharapan ketika menerima sepatah kata yang menguatkan.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2016/11/bagaimana-dengan-kamu/