Kisah Ruth

Kisah Ruth

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. —Roma 10:13

Ruth tidak bisa menceritakan kisahnya tanpa menangis. Usianya telah lebih dari 80 tahun dan kini ia sulit untuk bepergian ke mana pun. Karena itu mungkin saja ada yang menganggap Ruth tidak terlalu berperan penting dalam gereja kami. Ia bergantung kepada orang lain untuk menjemputnya, dan karena ia tinggal seorang diri, tidak banyak orang yang dipengaruhi oleh hidupnya.

Namun ketika Ruth menceritakan kisah keselamatannya—ia senang menceritakannya—ia menjadi contoh yang sangat jelas dan luar biasa dari anugerah Allah. Suatu malam, saat masih berusia 30-an, Ruth diundang temannya untuk mengikuti sebuah pertemuan. Ruth tidak menyangka akan diajak ke persekutuan dan mendengarkan khotbah. “Kalau saja aku tahu, aku takkan mau pergi,” katanya. Ia sudah punya keyakinannya sendiri dan ia tidak merasa perlu menganut keyakinan yang lain. Namun, Ruth pergi juga ke persekutuan itu, dan malam itu ia mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus.

Sekarang, lebih dari 50 tahun kemudian, Ruth selalu meneteskan air mata tanda sukacita ketika ia menceritakan bagaimana Yesus mengubah hidupnya. Malam itu, ia menjadi anak Allah. Ruth tidak pernah bosan menceritakan kesaksiannya.

Entah kisah hidup kita mirip atau tidak dengan kisah Ruth, yang terpenting adalah kita mau mengambil langkah kecil untuk mempercayai Yesus dan mengimani kematian serta kebangkitan-Nya. Rasul Paulus berkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9).

Itulah yang dilakukan Ruth. Kamu juga dapat melakukannya. Yesus sanggup menebus, mengubah, dan memberi kita hidup yang baru. —Dave Branon

Ketika ditebus oleh Kristus, kita bukan diperbaiki melainkan diciptakan kembali.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/10/kisah-ruth/

Menyibak Misteri

Menyibak Misteri

Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. —Mazmur 119:104

Saya selalu menyukai kelihaian dan wawasan dari Charles Schulz, sang pencipta kartun Peanuts. Salah satu kartunnya yang saya sukai muncul dalam sebuah buku tentang kaum muda di gereja. Kartun itu menggambarkan seorang pemuda yang memegang Alkitab sambil berbicara kepada temannya di telepon. Anak muda itu berkata, “Rasanya aku sudah mengambil langkah pertama untuk menyibak misteri dari Perjanjian Lama . . . Aku mulai membacanya!”

Mazmur 119 melimpah dengan kerinduan penulisnya untuk memahami dan mengalami kuasa firman Allah setiap hari. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (ay.97). Usahanya yang penuh semangat itu menumbuhkan hikmat, pengertian, dan ketaatan kepada Tuhan (ay.98-100).

Alkitab tidak memberikan formula ajaib untuk “menyibak misteri” dari setiap lembarannya. Proses untuk mengenal isinya tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga membutuhkan tanggapan atas apa yang kita baca. Walaupun sejumlah bagian dari Alkitab mungkin masih membingungkan kita, kita dapat menerima segala kebenaran yang kita mengerti dengan jelas, dan kemudian berkata kepada Tuhan: “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta” (ay.103-104).

Firman Allah sedang menanti kita untuk menemukan segala keajaiban yang terkandung di dalamnya. —David C. McCasland

Tuhan, terima kasih untuk Alkitab, karena dengan membacanya kami menerima hikmat dan pengertian untuk mengikuti jalan-Mu hari ini.

Komitmen untuk membaca dan menerapkan firman Allah membuka jalan bagi kita untuk mengalami kasih dan kuasa-Nya setiap hari.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/10/menyibak-misteri-2/

Mengingat-ingat Kesetiaan Allah

Mengingat-ingat Kesetiaan Allah

Ketahuilah, Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu . . . . Janganlah takut dan janganlah patah hati. —Ulangan 1:21

Sebelum saya dan suami menyerahkan hidup kami kepada Kristus, kami sedang terpikir untuk bercerai. Namun setelah berkomitmen untuk mengasihi dan menaati Allah, kami pun memperbarui janji pernikahan kami. Kami meminta bimbingan dari sesama dan mengundang Roh Kudus untuk mengubah kami masing-masing dan sebagai pasangan. Allah Bapa terus menolong kami membangun komunikasi yang sehat. Dia mengajar kami mengasihi dan mempercayai-Nya—dan mengasihi serta mempercayai satu sama lain—apa pun yang akan terjadi.

Namun menjelang usia pernikahan kami ke-25 tahun, adakalanya saya lupa pada semua hal yang telah Allah lakukan di saat dan melalui masa-masa sulit. Terkadang saya bergumul dengan ketakutan yang mencekam tentang hal-hal yang tak saya ketahui. Saya merasa cemas dan tidak lagi mengandalkan Allah yang telah menolong kami di masa lalu.

Di Ulangan 1, Musa menegaskan bahwa Tuhan layak dipercaya. Musa mendorong bangsa Israel untuk terus maju dalam iman agar mereka dapat menikmati warisan mereka (ay.21). Namun, umat Allah menuntut untuk mengetahui secara terperinci apa yang akan mereka hadapi dan apa yang akan mereka terima sebelum mereka mau mempercayakan masa depan mereka kepada Allah (ay.22-33).

Pengikut Kristus memang tidak kebal terhadap ketakutan atau kecemasan. Namun, kekhawatiran akan kesulitan yang belum tentu kita alami dapat membuat kita tidak lagi mengandalkan iman, bahkan merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama. Akan tetapi Roh Kudus dapat menolong kita untuk mengingat-ingat kesetiaan Tuhan di masa lalu. Roh Kudus dapat meyakinkan kita bahwa Allah layak dipercaya di masa lalu, di masa kini, dan untuk selamanya. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih untuk keyakinan bahwa kami tak perlu tahu segala sesuatu yang akan terjadi apabila kami mengenal-Mu. Kami percaya Engkau tak pernah berubah.

Kesetiaan Allah di masa lalu membuktikan Dia layak dipercaya selamanya.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/10/mengingat-ingat-kesetiaan-allah/

Berakar Dalam Allah

Berakar Dalam Allah

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air . . . yang daunnya tetap hijau. —Yeremia 17:8

Ketika sepasang suami istri pindah rumah, mereka menanam pohon wisteria di dekat pagar rumah dan menantikan bunganya yang berwarna lembayung untuk mekar dalam waktu lima tahun. Selama lebih dari dua dekade kemudian mereka menikmati kehadiran pohon itu dan tekun memangkas serta merawatnya. Namun suatu saat pohon wisteria itu tiba-tiba mati, karena tetangga mereka telah menyiramkan cairan pembunuh rumput liar di sisi luar pagar. Pemiliknya menduga bahwa racun pada cairan itu terserap oleh akar-akar pohon dan menyebabkan kematian pohon itu. Namun yang mengejutkan, di tahun berikutnya beberapa tunas pohon muncul kembali dari tanah.

Kita melihat gambaran pohon yang tumbuh subur dan pohon yang mati dalam perkataan Nabi Yeremia. Ia mengaitkan gambaran itu dengan umat Allah yang mempercayai Tuhan atau yang mengabaikan perintah-Nya. Mereka yang mengikut Allah akan menancapkan akarnya ke dalam tanah di tepi aliran air dan kemudian menghasilkan buah (Yer. 17:8). Sebaliknya, orang yang mengikuti keinginan hatinya sendiri bagaikan semak bulus di padang belantara (ay.5-6). Nabi Yeremia menghendaki umat Allah untuk mengandalkan Allah yang hidup dan sejati, sehingga mereka akan menjadi seperti “pohon yang ditanam di tepi air” (ay.8).

Kita tahu Allah Bapa “adalah tukang kebunnya” (Yoh. 15:1 BIS). Kita dapat mengandalkan Dia dan berharap kepada-Nya (Yer. 17:7). Kiranya kita mengikut Dia dengan segenap hati agar kita menghasilkan buah yang kekal. —Amy Boucher Pye

Tuhan yang penuh kasih, aku ingin mengikut-Mu sepenuh hati, baik di musim kering atau di musim panen. Tolong aku untuk mengandalkan-Mu dan berharap kepada-Mu.

Ketika kita mengikut Allah, Dia akan membuat kita bertumbuh.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/10/berakar-dalam-allah/

Allah Memelihara Kita

Allah Memelihara Kita

Petani yang bekerja keras mempunyai banyak makanan. —Amsal 12:11 BIS

Di luar jendela kantor saya, sekelompok tupai berusaha mengubur biji-biji pohon ek di tempat yang aman dan mudah dijangkau sebelum musim dingin tiba. Kegaduhan mereka membuat saya tertawa geli. Sekawanan rusa dapat melintasi pekarangan belakang rumah kami dengan tidak menimbulkan bunyi apa pun. Sebaliknya, seekor tupai dapat menimbulkan bunyi gaduh seakan-akan sedang terjadi keributan besar.

Dua binatang tersebut memang sama sekali berbeda. Rusa tidak perlu menyiapkan perbekalan untuk menghadapi musim dingin. Ketika salju turun, rusa akan makan apa saja yang ditemukannya di sepanjang jalan (termasuk tanaman hias di pekarangan kami). Sebaliknya, tupai akan mati kelaparan jika mengikuti perilaku rusa, karena mereka tidak akan menemukan makanan yang cocok untuk mereka.

Rusa dan tupai menggambarkan beragamnya cara Allah memelihara kita. Allah memampukan kita untuk bekerja dan menabung demi masa depan, dan Dia memenuhi kebutuhan kita di masa-masa sulit. Sebagaimana yang diajarkan kitab Amsal, Allah memberi kita kelimpahan di musim panen supaya kita dapat menyiapkan diri untuk menghadapi musim paceklik (Ams. 12:11). Dan seperti yang dikatakan Mazmur 23, Allah menuntun kita melewati lembah kekelaman hingga kita tiba di padang yang berumput hijau.

Cara lain Allah memelihara kita adalah dengan memerintahkan mereka yang memiliki kelimpahan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkekurangan (Ul. 24:19). Jadi pesan Alkitab kepada kita mengenai persediaan adalah: Bekerjalah selagi mampu, tabunglah yang bisa ditabung, bagilah yang bisa dibagi, dan percayalah bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita. —Julie Ackerman Link

Tuhan, terima kasih Engkau berjanji akan menyediakan segala kebutuhan kami. Tolong kami untuk tidak takut atau khawatir. Kami bersyukur Engkau memperhatikan kami dan mendengar seruan kami minta tolong.

Kebutuhan kita tidak akan pernah menguras persediaan Allah.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/10/allah-memelihara-kita/