TERLALU PANIK?

TERLALU PANIK?

Sumber: http://sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/31/

DOKSOLOGI

DOKSOLOGI

BIJI MAHONI

BIJI MAHONI

Bacaan   : Efesus 4:17-32

Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan anugerah Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15)

Biji mahoni rasanya pahit, tetapi bisa untuk obat nyamuk. Cara membuatnya mudah. Biji mahoni dijemur, lalu digerus menjadi bubuk. Bubuk itu dibungkus kantong kain, dan dimasukkan ke bak air. Bak air pun akan terbebas dari jentik nyamuk. Saya mempraktikkannya, dan berhasil.

Biji mahoni yang pahit ada gunanya. Namun, jika kita menyimpan kepahitan dalam hati, banyak masalah akan muncul. Firman Tuhan memerintahkan kita membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan (ay. 31). Kita pun hendaknya jangan menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar tidak tumbuh akar yang pahit dalam diri kita.

Mengapa seseorang bisa mengalami kepahitan? Salah satu penyebabnya adalah tidak mau membereskan masalah. Contohnya, saya bertengkar dengan si A, tetapi tak kunjung membereskannya. Kami malah saling mendiamkan. Saya selalu menyikapi secara negatif segala tindakan dan perkataannya.

Banyak tanaman pahit berguna karena bisa dijadikan obat, tetapi hati yang pahit menjadi racun yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Untuk mengatasinya, kita harus menuruti firman Tuhan yang memerintahkan kita untuk ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni (ay. 32). Kita perlu belajar mengenal Kristus. Hati Kristus penuh dengan kasih, Dia tidak pernah menyimpan kepahitan, dan perkataan-Nya, sekalipun kadang-kadang keras, senantiasa membangun. Kiranya kita melakukan hal yang sama.

SALING MENGAMPUNI MEMBEBASKAN KITA DARI SEGALA BENTUK KEPAHITAN.

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/29

HAMBATAN MENTAL

HAMBATAN MENTAL

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/28

JANGAN MENAHAN KEBAIKAN

JANGAN MENAHAN KEBAIKAN

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/27

KUASA DOA

KUASA DOA

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/26

BERKAT MENGAMPUNI

BERKAT MENGAMPUNI

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/25

ALLAH MAHATAHU

ALLAH MAHATAHU

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/08/24/

MENGANDALKAN TUHAN

MENGANDALKAN TUHAN

Baca: 1 Samuel 13:23-14:23

“… sebab kalau demikian TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita. Itulah tandanya bagi kita.” (1 Samuel 14:10b)

Sebagai orang percaya, kita mengakui kalau Tuhan selalu menyertai kita. Tetapi apakah kita selalu mengandalkan Tuhan dalam segala kegiatan kita? Dalam kenyataannya kita sering mengandalkan kekuatan sendiri atau orang lain. Apalagi kalau segala sesuatu lancar, Tuhan dipinggirkan bahkan dilupakan. Ketika kesulitan atau jalan buntu, barulah Tuhan dipanggil sambil meminta pertolongan. Saul adalah raja yang diurapi Tuhan. Akan tetapi Saul tidak melibatkan Tuhan dalam peperangan. Ia terlalu mengandalkan pasukannya. Beda dengan Yonatan, anak Saul. Yonatan menunjukkan bahwa masih ada iman di istana. Di tengah-tengah kisah raja Saul yang egois, haus kekuasaan, dan tidak memedulikan Tuhan, Yonatan tampil sebagai seorang beriman yang tidak mengandalkan banyaknya jumlah tentara, tetapi mengandalkan pimpinan Tuhan. Ia menunjukkan keberanian untuk menyerang tentara Filistin, tetapi ia juga meminta petunjuk dari Tuhan. Ia memberikan instruksi yang jelas kepada ajudannya bahwa hanya jika Tuhan berkenan kepada rencananya maka ia akan melanjutkan rencana itu. Pertanyaannya, di manakah Yonatan-Yonatan masa kini, yang beriman dan mengandalkan Tuhan dalam menyaksikan kuasa-Nya kepada dunia? Teladanilah Yonatan. Iman tidak hanya dikatakan saja, tetapi harus diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memegahkan diri. Merasa pandai, hebat, dan terlalu mengandalkan diri. Merasa bisa tanpa Tuhan. Fakta akan membuktikan bahwa tanpa campur tangan Tuhan, usaha kita akan sia-sia. Kalau tidak percaya? Buktikan!

 

ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN BAGI MEREKA YANG MENGASIHI DIA

  Sumber : http://www.renunganharian.net/2017/94-agustus/2260-mengandalkan-tuhan.html
SAAT BERTUKAR PERAN

SAAT BERTUKAR PERAN

Baca: Filipi 2:19-3:1a

Sebab ia nyaris mati karena pekerjaan Kristus dan ia mempertaruhkan nyawanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku. (Filipi 2:30)

Saat Sari berumur 14 tahun, ibunya terkena strok. Sejak itulah terjadi pertukaran peran. Saat ibu sehat, ibu yang mengurusi Sari dan adiknya, mengurusi urusan rumah tangga. Kini Sarilah yang melakukan peran itu. Sebelum berangkat sekolah, ia memandikan adik, menyiapkan sarapan, dan mengurusi ibu. Pulang sekolah, ia mengerjakan tugas rumah tangga, sorenya ia belajar. Saat teman-temannya asyik bermain, Sari mengurusi ibunya. “Aku bersyukur bisa melayani ibu,” kata Sari. Saat seseorang mengasihi, pasti orang itu rela berkorban. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus bercerita tentang Eprafroditus. Eprafroditus sangat mendukung pelayanan Paulus. Ia melayani sampai sakit dan nyaris mati (ay. 27). Betapa besar kasihnya kepada tubuh Kristus. Kita patut menghormati orang-orang yang melayani dengan sepenuh hati baik di keluarga, di gereja, maupun di masyarakat. Mereka rela mengorbankan begitu banyak kepentingan pribadi demi mengasihi seseorang atau banyak orang. Hidup kita saat ini bisa jauh lebih baik atau lebih nyaman karena kasih dan pengorbanan orang lain. Rela berkorban demi kebaikan orang lain adalah salah satu ciri hidup murid Yesus. Jika saat ini kita hanya berfokus pada diri sendiri dan hanya ingin terus-menerus dilayani, apakah beda kita dengan orang dunia? Kristus sudah memberikan teladan tentang pengorbanan; begitu juga banyak orang Kristen di sekitar kita. Pengorbanan apakah yang sudah saya lakukan untuk orang-orang yang mengasihi saya

 

SAAT KITA MENGASIHI KRISTUS PASTI KITA RELA BERKORBAN UNTUK KRISTUS

    Sumber : http://www.renunganharian.net/2017/94-agustus/2259-saat-bertukar-peran.html