KEBIASAAN

KEBIASAAN

Baca: Ibrani 10:19-39

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat. (Ibrani 10:25)

Saya pernah mendengar bagaimana para biksu Shaolin bisa memegang panci yang berisi air mendidih dengan tangan telanjang tanpa merasa kesakitan. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Ternyata rahasianya adalah mereka membiasakan tangan mereka untuk memegang panci panas. Awalnya tangan mereka melepuh. Tapi seiring semakin sering mereka melakukannya, saraf di tangan mereka pun mati, sehingga akhirnya setelah berkali-kali melakukannya tangan mereka seperti kebal terhadap panas. Tubuh manusia memang memiliki mekanisme mengingat sesuatu yang dilakukan berulang kali dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika kita membiasakan diri melakukan suatu kebiasaan baik maka lama kelamaan kita akan terbiasa melakukannya. Begitu pula dengan kebiasaan buruk, seperti yang dikatakan Ibrani 10:25a: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang.… Pada awalnya mereka mungkin tidak bermaksud menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Tapi karena mereka membiasakan diri melakukannya, hari demi hari, minggu demi minggu, sampai bulan dan akhirnya tahun, akhirnya mereka pun benar-benar menghilang dari komunitas rohaninya. Memulai suatu kebiasaan (baik ataupun buruk) tentu membutuhkan waktu dan usaha. Tapi ketika itu sudah mendarah daging barulah kita merasakan manfaat atau kerugiannya. Karena itu tentukanlah kebiasaan apa yang akan kita kembangkan dalam diri kita hari ini. Apakah kebiasaan baik atau kebiasaan buruk?

 

SETIAP KEBIASAAN DIMULAI DARI SATU TINDAKAN YANG BERULANG KALI. LAKUKANLAH TINDAKAN BAIK SEHINGGA TERBENTUK KEBIASAAN BAIK.

    Sumber : http://renunganharian.net/2017/93-juli/2236-kebiasaan.html
GANTI YANG BARU

GANTI YANG BARU

Baca: Matius 18:12-14

“Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Matius 18:14)

Saat ini gawai memainkan peranan penting dalam kehidupan kita. Berbagai pekerjaan dan aktivitas menuntut kecepatan dan kecanggihan sehingga banyak orang tergantung pada gawai. Jika gawai rusak, banyak pekerjaan dan aktivitas menjadi kacau. Orang tak sabar jika harus menunggu perbaikan selama berhari-hari. Solusinya? Di-lem biru saja—lempar yang lama, beli yang baru! Untuk urusan gawai atau barang lain, kita bisa dengan mudah menyingkirkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Tetapi prinsip dunia yang demikian tidak boleh mewarnai kehidupan kita dalam bergereja. Sekalipun kita menemukan kehidupan saudara seiman yang tampak rusak, penuh dosa, dan menunjukkan kebobrokan moral, kita tidak dapat bersikap acuh tak acuh dengan “membuang” mereka begitu saja. Dalam perumpamaan gembala yang baik, Yesus secara tersirat mengajarkan bahwa Allah peduli kepada kaum berdosa. Ia tidak bersegera menjatuhkan hukuman kepada mereka yang berbuat dosa atau ingkar terhadap-Nya, melainkan berinisiatif untuk mencari dan membawa mereka pulang. Bukan berarti Dia memaklumi dosa, tetapi Allah merindukan umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya. Pertobatan seorang yang berdosa membuat Allah sangat bersukacita. Sebagai penerima anugerah pengampunan dosa dari Allah, semestinya kita menyatakan kasih Allah kepada sesama. Alih-alih menolak dan menjauhi, kita harus menyatakan kasih dengan menegur, menasihati, dan membimbing saudara yang terpeleset ke dalam dosa supaya mereka kembali ke jalan Tuhan.

 

KITA YANG TELAH MENGALAMI PENGAMPUNAN ALLAH TIDAK MEMILIKI ALASAN UNTUK MENOLAK ORANG YANG BERDOSA

  Sumber : http://renunganharian.net/2017/93-juli/2235-ganti-yang-baru.html
BUKANKAH ENGKAU KRISTUS?

BUKANKAH ENGKAU KRISTUS?

Baca: Lukas 23:33-43

... “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Lukas 23:39)

Charles Templeton memutuskan menjadi ateis karena ia melihat sebuah gambar dalam majalah Life. Gambar itu menampilkan seorang perempuan di Afrika Utara, yang tengah menggendong bayinya yang sudah mati karena kekeringan hebat. Perempuan itu menatap langit dengan tatapan kosong, seakan-akan memohon hujan kepada Tuhan. Saat Templeton melihat gambar itu, ia berkata, “Jika Tuhan adalah Pencipta yang penuh kasih dan kepedulian, mengapa Dia tidak mencurahkan hujan kepada perempuan itu dan bayinya?” Manusia sering kali memakai standarnya sendiri untuk menentukan sesuatu, tak terkecuali menentukan Tuhan. Dalam segala keterbatasannya, manusia dapat terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa menggali fakta lebih jauh. Penjahat yang disalibkan di samping Yesus juga mengatakan hal yang serupa. Ia mengatakan, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Dengan kata lain, penjahat ini memaksa Yesus menggunakan standarnya untuk menentukan tindakan yang sepatutnya dilakukan seorang Juruselamat. Templeton dan penjahat di kayu salib itu sama-sama memaksakan standar mereka tentang tindakan yang seharusnya dilakukan Tuhan. Kita pun tanpa disadari sering menggunakan frasa “Jika... maka...” ini kepada Tuhan. Kita berkata dalam hati kita, “Jika Engkau Tuhan, seharusnya Engkau menyembuhkan penyakitku, memberikan kekayaan, menyelesaikan masalahku....” Kita perlu menyadari dan mengingat baik-baik bahwa Tuhan memiliki rancangan yang berbeda dengan rancangan manusia (Yes. 55:8-9).

 

KITA PERLU MENYESUAIKAN DIRI DENGAN STANDAR TUHAN, BUKAN MEMAKSAKAN STANDAR KITA KEPADA-NYA

  Sumber : http://renunganharian.net/2017/93-juli/2234-bukankah-engkau-kristus.html
BERBELA RASA

BERBELA RASA

Baca: Amos 5:14-17

Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. (Amos 5:14)

Definisi baik dan indah dapat berlainan menurut orang yang berbeda. Misalnya, ada yang suka mengoleksi foto pemandangan yang elok. Sebaliknya, ada pula orang yang mengoleksi foto pemandangan yang rusak karena bencana alam atau peperangan. Mereka sama-sama mencari foto yang baik dan indah, tetapi berdasarkan definisi masing-masing. Dalam nas hari ini, Allah menegaskan sebuah dimensi lain tentang arti mencari Dia. Mencari Allah berarti juga mencari yang baik dan membenci yang jahat. Mencari yang baik berarti melakukan segala sesuatu yang menyenangkan Allah dan bersukacita dalam melakukannya. Apa yang menyenangkan Allah? Amos menyebutkan sikap membela orang yang terpinggirkan. Amos juga menunjuk pada penegakan keadilan dalam kehidupan umat. Membenci kejahatan berarti bukan hanya menjauhi atau tidak melakukan kejahatan, melainkan melawannya agar tidak bercokol lagi dalam kehidupan umat manusia. Nas ini menyoroti dimensi yang lebih dalam dari keberpihakan umat Allah kepada orang yang terpinggirkan. Mencari yang baik dan membenci yang jahat menandakan keberpihakan dan sikap bela rasa pada mereka yang tertindas. Di mana pun kita ditempatkan, apakah terjun ke bidang politik, mencurahkan waktu luang bagi pelayanan gereja, atau aktivitas lainnya, yang penting kita terpanggil untuk berbela rasa dengan sesama yang terpinggirkan. Kita turut mengambil bagian dalam memerangi ketidakadilan dan peduli terhadap penderitaan sesama.

 

LEBAH DIPUJI BUKAN HANYA KARENA IA BEKERJA, MELAINKAN KARENA IA BEKERJA BAGI SESAMANYA

  Sumber : http://renunganharian.net/2017/93-juli/2233-berbela-rasa.html
PERSAHABATAN YANG INDAH

PERSAHABATAN YANG INDAH

Baca: Yohanes 14:15-26

Roh Kebenaran . . . menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. —Yohanes 14:17

Seorang wanita tua di panti wreda tidak berbicara kepada siapa pun atau meminta apa pun. Tampaknya ia hanya sekadarnya hidup dengan duduk di atas kursi goyang tuanya yang sudah berderit. Ia tidak memiliki banyak pengunjung, jadi seorang suster muda akan sering masuk ke kamarnya pada jam istirahatnya. Tanpa mengajukan banyak pertanyaan untuk berusaha membuat wanita tua itu bicara, suster muda itu hanya menarik kursi lain dan duduk bergoyang bersama wanita tua itu. Setelah beberapa bulan berlalu, wanita tua itu pun berkata kepada susternya, “Terima kasih telah duduk bergoyang denganku.” Ia bersyukur untuk pendampingan tersebut.

Sebelum kembali ke surga, Yesus berjanji untuk mengirimkan Pribadi yang akan setia menyertai murid-murid-Nya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka sendirian tetapi akan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai mereka (Yoh. 14:17). Janji itu masih berlaku bagi orang yang percaya kepada Yesus hari ini. Yesus berkata bahwa Allah Tritunggal “diam bersama-sama” dengan kita (ay.23).

Tuhan adalah pendamping kita yang dekat dan setia di sepanjang hidup ini. Dia akan membimbing kita dalam pergumulan kita yang terdalam, mengampuni dosa kita, mendengar setiap doa kita yang tak terucapkan, dan menanggung beban yang tidak sanggup kita pikul.

Kita bisa menikmati penyertaan-Nya yang indah itu hari ini.

Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memberi kami Roh-Mu yang selalu setia menyertai kami.

Hati orang Kristen adalah tempat berdiamnya Roh Kudus.

Sumber : http://www.warungsatekamu.org/2017/07/persahabatan-yang-indah/