PENYAKIT NABI YUNUS

PENYAKIT NABI YUNUS

Yunus 4:1-4

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia, ... tetapi Firman Tuhan: “Layakkah engkau marah?” (Yunus 4:1,4)

Tiap orang yang mengabdikan sepenuh hidupnya di ladang pelayanan Tuhan, entah itu di gereja, lembaga pelayanan pendamping gereja (para-church), atau lembaga sosial Kristen, haruslah selalu waspada akan bahaya “penyakit nabi Yunus”.Apakah itu? Kecintaan dan rasa memiliki pada lembaga pelayanan yang diperjuangkan mati-matian, bisa menggeser pengabdian yang sesungguhnya kepada Tuhan, Sang empunya pelayanan itu sendiri. Ia lebih membela kepentingan organisasi atau lembaga pelayanan di mana ia mengabdi, ketimbang menaati kehendak Tuhan. Tak jarang terjadi pertengkaran sengit bahkan sampai ke meja hijau, bukan demi mempertahankan misi yang Allah perintahkan tetapi demi membela organisasi, golongan, suku, ras dan kepentingan ego sendiri.Itulah yang dialami nabi Yunus. Ia marah karena Allah memutuskan untuk mengampuni orang Niniwe, yang menjadi musuh Israel. Ia mengabdikan hidup sepenuhnya bagi kejayaan Israel yang dicintainya. Ia lebih khawatir akan keamanan lahiriah Israel, ketimbang mewujudkan misi utama Tuhan yang sejati, ketika memilih Israel sebagai umat-Nya. Yaitu: Israel dipilih dan ditebus dari perbudakan di Mesir, agar menjadi umat Allah untuk mewartakan rahmat dan belas kasihan Allah, untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Yunus sibuk 'melayani', namun kehilangan esensi yang sesungguhnya akan panggilan Allah. Bukan kehendak Allah yang ingin diwujudkannya, tetapi kehendaknya sendiri. Wahai para hamba Tuhan, aktivis gereja dan lembaga pelayanan, mari kita waspada! Jangan tertular “penyakit nabi Yunus”.

 

ABDILAH ALLAH SANG EMPUNYA PELAYANAN DAN JANGAN PADA WADAH PELAYANANNYA

Sumber : http://renunganharian.net/2017/92-juni/2204-penyakit-nabi-yunus.html

KUALITAS MENDERITA

KUALITAS MENDERITA

Baca: 2 Timotius 2:1-7  

Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. (2 Timotius 2:1, TB)

Sebagai orang Kristen kita sering tidak bisa terhindar dari berbagai bentuk penderitaan oleh karena iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Ini bukanlah kesusahan apalagi kemalangan, melainkan kasih karunia yang Tuhan beri. Walau kadang pada kenyataannya, ada saja orang percaya yang merasa keadaan “ikut menderita bersama Kristus” adalah suatu kenyataan yang begitu berat dan ingin dihindari. Lumrah, siapa sih yang mau menderita?Rasul Paulus telah menganggap Timotius sebagai anak rohaninya sendiri. Karena itu ia merasa perlu untuk mengingatkan dan meneguhkan Timotius akan panggilannya sebagai pengikut Kristus dan pelayan di jemaat. Nasehat untuk tetap berusaha menjadi kuat oleh karena kasih karunia yang diterima di dalam Kristus Yesus, meskipun menghadapi berbagai penderitaan. Hal ini diikuti dengan pengajaran adanya kualitas pribadi sebagai orang yang menderita karena nama Kristus. Untuk itu, Paulus mengangkat tiga profesi menjadi contoh, yaitu prajurit, olahragawan dan petani. Nilai yang Paulus angkat dari ketiga profesi itu adalah adanya kemampuan untuk fokus pada tujuan, taat pada peraturan, daya juang yang tinggi, gigih dan pantang menyerah, kesabaran yang tinggi, ketabahan dan kuatnya pengharapan akan hasil akhir yang baik, semangat kerja keras, dan kesetiaan sampai akhir.Penderitaan oleh karena iman adalah hal yang lumrah. Itulah konsekuensi iman. Penderitaan itu harusnya membuat kita bertambah kuat dan teguh, bukan lembek dan cengeng.

MENDERITA KARENA KESALAHAN DAN DOSA HARUS DIHINDARI, MENDERITA KARENA NAMA KRISTUS ADALAH KONSEKUENSI IMAN

Sumber : http://renunganharian.net/2017/92-juni/2203-kualitas-menderita.html

PERINTAH SULIT

PERINTAH SULIT

Matius 5:38-48

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)

Jimmy Mizen (16 tahun) dibunuh dengan keji oleh Jake Fahri pada 2008 di London. Ibu Jimmy berkata, “Saya hanya ingin berkata pada orangtua anak itu, saya merasa kasihan pada mereka. Saya tidak marah, hanya kasihan. Kami punya kenangan yang indah tentang Jimmy, dan mereka punya kenangan buruk tentang anak mereka. Orang terus bertanya mengapa saya tidak marah, tetapi saya berkata kemarahan itulah yang membunuh anak saya. Kalau saya marah, saya akan menjadi seperti anak itu. Terlalu banyak kemarahan di dunia ini.”Harus diakui, perintah “mengasihi musuh” sangat sulit, bahkan hampir mustahil dilakukan. Namun, perintah Tuhan itu tidak bisa ditawar. Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengajar orang banyak untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (ay. 44). Rasul Paulus pun menegaskan agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan kebaikan bagi semua orang (Rm. 12:17).Kita harus mengampuni orang lain sebab kita sudah diampuni oleh-Nya. Ketika kita tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain, dendam dan kemarahan itu akan menyiksa dan mendera hidup kita sendiri. Ketika kita bisa mengampuni, barulah kita terlepas dari siksaan itu.Kita belajar mengasihi orang yang sudah merugikan, mencelakakan, menyakiti kita—orang-orang yang sepertinya tidak mungkin dikasihi—dengan mendoakannya. Kita berusaha mengerti mengapa ia bersikap dan bertindak seperti itu, dan berdoa bagi kesejahteraannya.

 

MENGAMPUNI ITU MEMANG BERAT, TETAPI MENDATANGKAN BERKAT. MENGAMPUNI ITU MEMANG TIDAK MUDAH, TETAPI SELALU INDAH

 Sumber : http://renunganharian.net/2017/92-juni/2201-perintah-sulit.html
MERASA HINA

MERASA HINA

 

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/06/26/

SELAMAT SAMPAI TUJUAN

SELAMAT SAMPAI TUJUAN

1 Petrus 1:3-12

Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. (1 Petrus 1:9)

Jelang hari raya banyak orang memanfaatkan libur panjang untuk mudik. Disepanjang perjalanan banyak spanduk yang berslogan: “Semoga sampai tujuan dengan selamat”. Itulah pengharapan bagi setiap orang yang berjalan dengan berbagai kendaraan.Orang-orang Kristen yang telah dilahirkan kembali oleh kasih karunia Allah, memiliki hidup yang berpengharapan (ay. 3). Yaitu hidup kekal, yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan yang tidak layu, yang tersedia di sorga (ay. 4). Jadi tujuan iman orang Kristen adalah keselamatan jiwa (ay. 9), berdasarkan kasih karunia Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Iman yang digerakkan oleh Roh Kudus untuk memberi kesaksian tentang karya Kristus (ay. 11), yang sekarang disampaikan dalam berita Injil (ay. 12).Pencapaian iman Kristen adalah percaya kepada Kristus dan mengasihi-Nya, walau belum pernah melihat-Nya (ay. 8). Pengharapan tujuan iman Kristen ini seharusnya membuat orang Kristen bergembira, sekalipun hidup menderita dalam berbagai cobaan (ay. 6), untuk menguji kemurnian iman, yang jauh lebih berharga dari emas murni (ay. 7). Seperti orang yang menempuh perjalanan panjang, walau melelahkan namun ada sukacita karena bisa mencapai tujuan dengan selamat.Sebab itu tetaplah tekun dan setia dalam hidup bergaul dengan Tuhan. Kita harus giat membaca dan merenungkan firman Tuhan, sehingga kita lebih dekat dengan Tuhan. Agar makin mengenal- Nya, makin mempercayai-Nya dan makin mengasihi-Nya.

 

JIKA KITA BELUM PERCAYA DAN CINTA YESUS, BERARTI IMAN KITA BELUM MENCAPAI TUJUAN

 Sumber : http://renunganharian.net/2017/92-juni/2199-selamat-sampai-tujuan.html