Allah Membatalkan Rencana-Nya

Allah Membatalkan Rencana-Nya

 

sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/05/31/

JANGAN KABUR

JANGAN KABUR

Yohanes 6:60-66

Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. (Yohanes 6:66)

Seorang pendeta menegur jemaatnya yang melakukan pelanggaran moral secara empat mata. Jemaat itu tersinggung dan langsung kabur meninggalkan imannya. Dalam nas hari ini, banyak murid Yesus mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (ay. 66). Salah satu alasan pengunduran diri mereka adalah mereka tidak sanggup mendengarkan perkataan (firman) yang keras (ay. 60). Yang dimaksud dengan keras di sini bukanlah sukar dimengerti, melainkan sukar diterima. Menurut Calvin, kekerasan itu bukan terletak pada perkataan Yesus, melainkan bercokol di dalam hati pendengarnya. Reaksi yang tidak baik terhadap firman Tuhan bukan karena firman itu keras, melainkan karena hati mereka keras. Kiranya kita menjadi tanah yang baik, yaitu “orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat. 13:23). Karena firman itu “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2Tim. 3:16-17). Saat kita membaca atau mendengarkan firman Tuhan, dan firman itu berupa teguran yang keras dan tidak sesuai dengan kehendak kita, kita dapat belajar membuka hati serta bersedia menerima dan melakukannya. Jangan sekali-kali kita mengundurkan diri dan kabur dari Yesus. Kalau bukan kepada Yesus, kepada siapakah kita akan pergi (ay. 68)?

 

SEKERAS APA PUN FIRMAN TUHAN, JANGAN SAMPAI HATI KITA LEBIH KERAS DARI FIRMAN YANG KITA DENGAR

 

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2172-jangan-kabur.html

DOSA DAN PERTOBATAN

DOSA DAN PERTOBATAN

Yunus 3:6-10

Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka- Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa. (Yunus 3:9)

Dosa dan kecemaran hidup memang membawa nikmat. Itulah sebabnya banyak para pembesar, bahkan orang kebanyakan pun melakukannya. Dosa itu bagai candu yang nikmat, namun menjerat. Dibungkus dengan pesta pora, keceriaan hidup bersama para sosialita, setiap orang mendambakan untuk bisa mencicipinya. Setiap orang yang dikuasai dosa tidak mungkin bisa terlepas dengan usaha dan kesadarannya sendiri. Bersyukur bahwa TUHAN peduli kepada kemalangan nasib orang berdosa. Ia tak membiarkan seorang pun binasa. Mari kita lihat apa yang TUHAN perbuat terhadap penghuni kota Niniwe. Ia mengutus nabi-Nya untuk menyerukan berita hukuman. Namun ketika raja dan rakyat Niniwe berbalik dari dosanya, memohon belas kasihan-Nya, Allah segera mengampuni dosanya (ay. 10). Rancangan hukuman Allah tak mungkin gagal, kecuali dihentikan oleh pertobatan yang sungguh dari si pendosa, yang segera meraih uluran tangan kasih Allah. Dengan anugerah Allah, setiap orang yang berdosa dimampukan untuk membersihkan hidupnya, dan memulai suatu hidup yang baru bersama Allah, yang membawa sukacita yang sesungguhnya. Itulah yang dialami penduduk kota Niniwe. Adakah sukacita orang yang bertobat itu membawa sukacita kita juga? Seisi surga bersukacita walau hanya satu orang berdosa yang bertobat. Apalagi kita, yang pernah merasakan sukacita besar ketika kita dibebaskan dari jerat dosa, dan diperkenan Allah menjadi rekan sekerja-Nya untuk mewartakan Injil-Nya dan membimbing orang yang berdosa mengalami pertobatan dan menerima hidup baru.

 

DOSA MEMBAWA NIKMAT YANG MENJERAT KE DALAM MAUT, TAPI PENGAMPUNAN ALLAH MEMBAWA KEMERDEKAAN DAN SUKACITA SEJATI

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2171-dosa-dan-pertobatan.html

BANK WAKTU

BANK WAKTU

Efesus 5:15-17

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16)  

Bayangkan jika sebuah bank memberi Anda uang 86.400 dolar setiap hari dan Anda harus menghabiskannya setiap hari pula. Setiap malam uang yang tersisa akan hangus. Tentu Anda akan berusaha menggunakan uang itu sebaik-baiknya. Nah, kita memiliki “bank” semacam itu, yaitu “Bank Waktu.” Yang diberikan bukan uang, melainkan waktu sepanjang 86.400 detik setiap hari.

Sayangnya, banyak orang tidak menggunakan waktu dengan baik, dan malah menunda banyak hal. Ada yang menunda pertobatan atau malas bertobat (Yer. 9:5). Kitab Ibrani mengajarkan, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara- Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibr. 3:15). Ada yang menunda menaati perintah Tuhan, seperti bangsa Israel yang bermalas-malas menduduki negeri pemberian Tuhan (Yos. 18:3). Ada yang menunda menyelesaikan pekerjaannya (Ams. 24:30-34). Alasan penundaan itu adalah kemalasan, yang merupakan suatu kebiasaan (bdk. 1Tim. 5:13).

Jika kita gagal menggunakan waktu hari ini dengan baik, kita akan kehilangan kesempatan. Hari ini tidak akan pernah kembali. Kita harus menghargai waktu yang ada dengan tidak menunda pengerjaan hal-hal yang berguna bagi Tuhan dan sesama. “Akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yoh. 9:4). Ingatlah, waktu tidak akan menunggu seorang pun. Kemarin adalah sejarah; hari esok adalah misteri; hari ini adalah karunia. Itulah yang disebut dengan berkat. Waktu terus berlari. Lakukanlah yang terbaik hari ini.

 

MANFAATKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA. JANGAN MENUNGGU SAMPAI HARI ESOK, YANG BELUM TENTU KITA DAPATKAN

  Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2170-bank-waktu.html
HANYA TAMU

HANYA TAMU

2 Korintus 5:1-9

Karena kami tahu bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. (2 Korintus 5:1)

Seorang pria mengunjungi Chofetz Chaim, rabi asal Polandia. Ia heran melihat rumah rabi itu, yang hanya berupa ruangan sederhana penuh buku serta meja dan bangku. “Rabi, di mana perabotmu?” tanya pria itu. “Di mana perabot rumahmu?” rabi itu balik bertanya. “Perabot saya?” tanya pria itu. “Saya hanya tamu di sini. Nanti saya akan pulang.” Chofetz Chaim tersenyum, “Saya juga hanya tamu di dunia ini.” Rabi yang arif itu memahami kefanaan hidup. Rasul Paulus menggunakan dua kata untuk menggambarkannya. Kata “kemah” mengacu pada tempat kediaman yang sementara. Kata ini melambangkan tubuh manusia, tempat kediaman yang fana bagi jiwa, yang suatu saat akan mengalami kematian. Kata berikutnya, “dibongkar,” berarti dilonggarkan, dirobohkan, atau dihancurkan. Dalam bahasa Yunani, kata ini biasa untuk menggambarkan musafir yang selesai berjalan jauh, lalu membongkar tali pengikat pada pundak binatang dan menurunkan bebannya. Tubuh fana kita pada suatu saat akan mati dan ikatan kita dengan dunia ini berakhir. Di satu sisi, kita akan mengalami penderitaan dan kesedihan karena berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi akibat kematian. Di sisi lain, kehidupan ini dengan segala beban, cobaan, dan masalahnya tidak berlangsung selama-lamanya. Sebagai gantinya, Allah telah menyediakan tempat kediaman yang kekal bersama dengan Dia. Kiranya janji Allah ini menggugah kita untuk menjalani hidup dengan tabah, penuh syukur, dan prioritas yang benar.

 

KETIKA KITA MEMANDANG PADA KEDIAMAN KEKAL YANG ALLAH SEDIAKAN, KITA AKAN HIDUP DENGAN TABAH, PENUH SYUKUR, DAN PRIORITAS YANG BENAR

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2169-hanya-tamu.html

BATU SANDUNGAN

BATU SANDUNGAN

Matius 16:21-28

Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23)

Pak Anto (nama samaran) memutuskan untuk terlibat dalam pelayanan. Namun, istrinya tidak setuju. “Aku tidak mendukung keputusan Papa!” katanya. Saat seseorang memutuskan untuk bertekun dalam kebenaran, menaati kehendak Tuhan, dan mengenal Dia lebih dekat lagi, biasanya tantangan demi tantangan bermunculan. Tidak jarang, tantangan dan hambatan itu malah datang dari orang terdekat. Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (ay. 21). Petrus tidak suka mendengarnya. Ia menarik dan menegur Yesus. Ia berharap agar Allah menjauhkan hal itu sehingga tidak menimpa Yesus (ay. 22). Petrus tidak menyadari bahwa ia sedang merintangi Yesus menaati kehendak Bapa. Yesus berbalik menegur Petrus sebagai Iblis, batu sandungan bagi-Nya. Petrus bukan memikirkan kehendak Allah, melainkan berpikir menurut nalar manusia (ay. 23). Petrus berpikir, alangkah baiknya jika Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, lalu membuat orang Yahudi yang menolak-Nya kagum dan mengakui bahwa Dia memang Mesias. Petrus berpikir menurut cara pandang manusia dan tidak memahami rencana Allah. Kita dapat bertindak seperti Petrus. Kita menjadi batu sandungan bagi orang yang hendak melakukan kebenaran. Kita tidak mampu memahami pikiran dan kehendak Allah. Namun, kita dapat belajar meneladani Yesus, yang hidup sejalan dengan kehendak Bapa. Kiranya hidup kita menjadi berkat, bukan batu sandungan.

KITA MENJADI BATU SANDUNGAN KETIKA KITA MERINTANGI KEHENDAK ALLAH DAN HANYA MEMIKIRKAN KEPENTINGAN DIRI SENDIRI

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2168-batu-sandungan.html

NAIK KE SURGA, UNTUK APA?

NAIK KE SURGA, UNTUK APA?

Kisah Pr. Rasul 1:6-11

Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Pr. Rasul 1:8)

Pernah sedih karena ditinggal kekasih? Hati rasa ”biru” bukan? Sedih amat dalam, di hati ada yang hilang. Itulah tanda dia dekat di hati. Makin dekat, makin sakit bila ia menghilang. Itu sebabnya bila sahabat akan berpisah mereka memberikan ”sentuhan” yang hangat. ”Sentuhan” yang dimintakan kepada Yesus adalah pemulihan kerajaan bagi Israel. Yesus boleh pergi, tapi para murid “diwarisi” pemulihan Israel. Permintaan yang hebat, terasa saleh dan berwibawa. Namun, bagi Yesus ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan para murid. Soal kapan pemulihan kerajaan adalah urusan Allah. Para murid punya urusan lain, yang memang menjadi bagian mereka, yakni dipanggil untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi. Namun bukan sembarang saksi, mereka diminta menjadi saksi dalam penyertaan kuasa Roh Kudus. Kuasa (dunamos), berarti daya, yang membangkitkan kekuatan, seperti kata dinamo. Kekuatan itu adalah dari Roh Kudus, bukan kekuatan karena kehebatan sendiri. Karena karya Roh Kudus, para murid yang orang biasa dan sederhana dapat menjadi luar biasa—menjadi peneguh karya Yesus Kristus. Jadi Yesus naik ke surga supaya kita tahu bahwa sekarang tugas ada di pundak kita. Tugas menjadi saksi itu tidak gampang. Ada risikonya. Tapi para murid diingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Ada Roh Kudus yang menyertai. Kita juga orang biasa. Orang kecil. Tapi kita boleh meyakini bahwa kita membawa “dinamo” Roh Kudus, agar jalanan yang gelap boleh terterangi oleh lampu yang kita bawa.

JANGAN TAKUT!

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2167-naik-ke-surga-untuk-apa.html

KARENA CINTA

KARENA CINTA

Sumber : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2017/05/24/

MENGENAL SANG PENCIPTA

MENGENAL SANG PENCIPTA

Kisah Pr. Rasul 17:22-31

Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (Kisah Pr. Rasul 17:23)

Jauh sebelum Kekristenan masuk ke tanah Batak, penduduk setempat sudah mengakui dan percaya adanya kekuatan dan kuasa lain, yang menguasai alam semesta dan kehidupan manusia. Mereka menyebutnya sebagai “Ompu Mulajadi Nabolon”. Ketika Kekristenan masuk dan Injil disampaikan, kepercayaan tersebut menjadi titik awal bagi para pemberita Injil untuk menyampaikan kabar tentang Allah yang benar di dalam Yesus Kristus. Paulus pernah mendapat ide untuk mengawali pemberitaan Injil setelah melihat mezbah pemujaan penduduk kota Atena. Saat ia berjalan-jalan di kota itu, Paulus melihat mezbah bertuliskan: “Kepada Allah yang tidak dikenal.” Rupanya, dibalik ketekunan mereka beribadah kepada para dewa, ada sosok yang tidak dikenal sekalipun sosok tersebut disembah. Penyembahan kepada Allah yang tidak dikenal itu pun menjadi pijakan awal untuk memberitakan Injil, pertobatan, hari penghakiman, dan kebangkitan orang mati. Allah pun mengurapi pemberitaan Injil yang Paulus lakukan. Hasilnya, beberapa laki-laki, seorang perempuan, dan seorang anggota majelis Areopagus—sebutan untuk tempat pemujaan orang Atena—percaya akan berita yang Paulus sampaikan. Jika hari ini kita dapat mengenal, menyembah, dan berelasi dengan Allah di dalam Yesus Kristus, kita patut bersyukur. Kita tidak menyembah Pribadi yang tidak dikenal, tetapi Pribadi yang sangat dekat. Mari mengenal Dia lebih dalam dan hidup untuk menyenangkan hati-Nya, sampai kelak kita berjumpa dengan Dia di surga kekal.

 

MENGENAL SANG PENCIPTA ADALAH KEBUTUHAN UTAMA SETIAP MANUSIA

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2165-ompu-mulajadi-nabolon.html

KAPAN MERASA CUKUP?

KAPAN MERASA CUKUP?

 Filipi 4:10-19

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. (Filipi 4:11)

Ketika ditanya “Kapan kamu merasa cukup?”, seorang muda menjawab “kalau bisa, sedikit lebih lagi”. Rasa cukup adalah mutiara yang paling berharga. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi memberi kita pelajaran berharga soal rasa cukup. Paulus tidak hanya sekedar bicara saja, karena dia sendiri juga mengalami. Paulus berkata: “... sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan” (ay. 11-12). Paulus ingin mengatakan bahwa rasa cukup bukan dibawa sejak lahir, ataupun sesuatu yang mudah dilakukan. Paulus tahu bagaimana rasanya mengalami kelimpahan maupun kekurangan. Dia tahu bagaimana rasanya tidak mampu membayar besarnya biaya perjalanan pelayanannya, dia tahu bagaimana rasanya kelaparan, dia tahu bagaimana rasanya tidak ada uang yang tersisa. Bagaimana dengan kita? Saat kita berkelimpahan maupun kekurangan, memiliki rasa cukup merupakan tantangan tersendiri. Biasanya apabila materi mengalir dengan deras ke kantong kita, kita ingin aliran itu menjadi lebih deras lagi dan kita tidak akan puas sampai kapan pun. Sedangkan ketika kita sedang kekurangan, kita sering mengeluh, apalagi saat kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Belajarlah memiliki rasa cukup karena Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Karena ketika kita bisa merasakan cukup atas semua yang sudah Tuhan beri, tanpa membanding-bandingkan dengan orang lain, kita akan merasakan kedamaian dan ketenangan.

 

SESEORANG DISEBUT KAYA APABILA DIA SUDAH BISA BERKATA “CUKUP”

Sumber : http://renunganharian.net/2017/91-mei/2164-kapan-merasa-cukup.html