HAMBAR DAN DINGIN

HAMBAR DAN DINGIN

Kejadian 15:1-6 “Ya, Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu”. (Kejadian 15:2)

Akhirnya (ay. 6), Abram percaya. Tetapi, awalnya tidak demikian. Dalam Kejadian 12, Tuhan berjanji, keturunan Abram akan menjadi bangsa yang besar. Bagi Abram—kala itu berusia 75 namun belum punya anak—janji itu membuatnya amat sangat berharap. Namun, setelah lama dinanti, janji itu tak kunjung digenapi. Maka, ketika Tuhan berkata, “upahmu akan sangat besar” (ay. 1), Abram menjawab, “Ya, Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak” (ay. 2). Seakan Abram berkata, “Sudahlah, Tuhan, jangan berjanji lagi. Seorang anak pun nyatanya aku tak punya”. Betapa getir jawaban itu! Jawaban itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa Abram sangat kecewa. Abram tawar hati, hatinya dingin, perasaannya kepada Tuhan pun hambar. Anda pasti tahu, kita pun bisa jatuh ke dalam sikap serupa. Karena sesuatu, kita kecewa pada Tuhan. Perasaan kita kepada Tuhan hambar, dan dingin. Tiada kehangatan. Sentuhan-Nya tak terasa, kehadiran-Nya tak menyemangati. Janji-Nya tak lagi mengisi hati. Bagaimana dengan berkat-Nya? Jujur, saya tak berharap. Jika diberi, syukurlah. Jika tidak, sudahlah. Terserah. Saya tak mau memikirkannya. Alangkah pahit relasi seperti itu. Alangkah berat jika hidup dijalani dengan hati demikian. Hari-hari dilewati seakan sendirian, tanpa siapa pun diyakini menyertai. Betapa mustahil perjuangan ditempuh tanpa Tuhan menjadi andalan. Akan kita biarkankah hati kita hambar dan dingin terhadap Tuhan? Semoga itu bukan pilihan kita.

BETAPA MENAKUTKAN JIKA HIDUP HARUS KITA JALANI DAN KITA PERJUANGKAN SEAKAN SENDIRIAN, TANPA SIAPA PUN KITA YAKINI DAPAT KITA ANDALKAN

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2141-hambar-dan-dingin.html

TANGGUH

TANGGUH

Mazmur 144:1-11 Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang. (Mazmur 144:1)

Sebenarnya, saya tidak menyukai musim hujan sebab musim hujan identik dengan ancaman banjir. Beberapa kali saya terpaksa harus berjalan di tengah genangan banjir ketika pergi atau pulang bekerja. Saya berjalan pelan-pelan dikelilingi orang-orang yang juga terjebak banjir, anak-anak yang bermain air, dan para pengemudi motor mogok. Kehidupan memang tidak menjanjikan hari-hari yang selalu tenang. Terkadang kita menjumpai awan gelap, badai angin kencang, bahkan air mata kesedihan membanjiri wajah. Sekalipun cuaca buruk kehidupan dapat datang tanpa diundang, Tuhan selalu menjanjikan penyertaan-Nya. Di tengah kehidupan yang bergejolak, Raja Daud memuji Tuhan yang mengajarinya untuk menjadi tangguh dalam hidup ini (ay. 1-2). Dengan kerendahan hati, Daud lalu memohon pertolongan Tuhan sebab Dialah sumber kelepasan dan kemenangan. Ya, Tuhan yang mengajari Daud berperang, Tuhan juga yang memberikan kemenangan kepadanya (ay. 10). Ketika kita beriman kepada Tuhan, kita dapat memiliki keyakinan bahwa setiap persoalan yang datang tidak akan membuat kita hanyut dalam kehancuran, tetapi membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh. Kita tidak perlu terfokus pada besarnya masalah. Sebaliknya, kita dapat mengarahkan pandangan kepada Allah yang besar, yang selalu ada di pihak kita. Seperti Daud, kita dapat mengatakan, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mzm. 23:4).

TANTANGAN HIDUP BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN KITA, MELAINKAN UNTUK MEMPERKUAT KARAKTER KITA.

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2140-tangguh.html

WINGKO DARI BABAT

WINGKO DARI BABAT

Sumber : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2017/04/28/

PERBUDAKAN ATAU PELAYANAN

PERBUDAKAN ATAU PELAYANAN

2 Korintus 11:1-33 Apakah mereka pelayan Kristus?—aku berkata seperti orang gila—aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; menanggung pukulan di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. (2 Korintus 11:23)

Gary Chapman dalam buku The Five Languages of Love for Teenagers menjelaskan perbedaan antara perbudakan dan pelayanan. Perbudakan berasal dari luar dan dilakukan dengan enggan. Berbeda dengan perbudakan, pelayanan berasal dari dalam diri seseorang dan dilakukan penuh dengan kasih. Jelas sekali perbedaan kedua hal ini. Paulus mengerti dengan benar statusnya dan tugasnya setelah Kristus memilihnya sebagai rasul. Ia melayani Tuhan sebagai rasul dan memenangkan banyak jiwa. Meskipun dalam pelayanan ia menghadapi banyak tantangan dan penderitaan–ditahan di penjara, menghadapi bahaya, karam kapal, penganiayaan, dan berbagai macam rintangan (ay. 23-29), ia tetap melayani Tuhan dengan penuh kasih. Paulus justru tetap memperhatikan jemaat, di saat ia menderita sebagai pelayan Tuhan (ay. 28-29). Tantangan dan penderitaan yang dihadapinya tidak membuatnya enggan melayani Tuhan dan melepaskan statusnya sebagai seorang rasul, pelayan Kristus. Banyak orang menyebut dirinya sebagai hamba Kristus. Namun, tidak sedikit yang memiliki mental seorang budak. Mereka melayani Tuhan dengan keterpaksaan dan keengganan. Hasilnya pun bisa ditebak. Pelayanannya hanya seadanya dan hasilnya tidak maksimal. Berbeda dengan seorang pelayan sejati yang melayani dengan penuh kasih apa pun tantangan yang dihadapi. Mereka tetap setia mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan seumur hidupnya. Lalu, mana yang kita pilih? Menjadi budak atau menjadi pelayan Tuhan?

PELAYANAN BERBEDA DENGAN PERBUDAKAN. MELAYANI SAMA DENGAN MENGASIHI TANPA PAMRIH

 

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2138-perbudakan-atau-pelayanan.html

PEMENANG

PEMENANG

Ulangan 2:26-37

"Lalu TUHAN berfirman kepadaku: Ketahuilah, Aku mulai menyerahkan Sihon dan negerinya kepadamu. Mulailah menduduki negerinya supaya menjadi milikmu.” (Ulangan 2:31)

Dalam sebuah perlombaan, seseorang dikatakan sebagai pemenang jika tim juri telah memutuskan hasil akhirnya. Namun yang dialami bangsa Israel ini berbeda. Mereka mendapatkan kemenangannya bukan pada akhir peperangan, tetapi pada saat firman Tuhan diucapkan. Tuhan berfirman akan mulai menyerahkan Sihon dan negerinya supaya menjadi milik bangsa Israel. Saat itulah Tuhan menyerahkan Sihon.

Umumnya yang terjadi, kita merasa menang ketika mendengar pengakuan atas kemenangan kita. Tanpa sadar kehidupan kita terbentuk oleh kebiasaan dunia. Kita berbicara, berpikir dan bertingkah laku seperti apa yang diinginkan dunia. Seharusnya kita melakukan apa yang diperintahkan Tuhan berdasarkan kebenaran dan bukan yang diingini dunia.

Ketika Tuhan telah berfirman, maka firman-Nya pasti digenapi. Ketika Tuhan berkata kita adalah umat pemenang, maka begitulah kenyataannya. Jadi apapun masalah yang menimpa kita tidak akan mengubah keputusan Tuhan bahwa kita adalah pemenang, kecuali jika kita tidak memercayainya. Hidup kita haruslah berani berbeda dari kebiasaan dunia. Kiranya kita bisa mengubah cara berpikir kita agar tidak melihat dulu baru percaya, tetapi percayalah dulu sebelum semuanya digenapi. Masa depan bersama Tuhan adalah yang terbaik. Jadi jangan berlaku seperti orang dunia yang baru percaya kalau sudah melihat. Tetapi percayalah sekarang juga, sebab sesungguhnya itu sudah terjadi! Kita sudah ditetapkan sebagai pemenang, maka janganlah berlaku seperti orang yang kalah.

KITA SUDAH DITETAPKAN SEBAGAI PEMENANG, MAKA JANGAN BERLAKU SEPERTI ORANG YANG KALAH

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2137-pemenang.html

AKU BAHAGIA LHO

AKU BAHAGIA LHO

Habakuk 3:17-19 Allah Tuhanku itu kekuatanku. (Habakuk 3:19) Siang itu seorang pemulung dengan mendorong gerobaknya, menyelinap di tengah kemacetan jalan di antara banyaknya mobil yang berdesakan. Tanpa sengaja saya melihat tulisan di belakang gerobaknya, “Gini-gini, aku bahagia lho.” Hebat juga. Nabi Habakuk menjelaskan bahwa bahagia dan sukacita tidaklah tergantung pada situasi yang kita hadapi. Sekalipun hasil pertanian mengecewakan, ia tetap bersorak-sorak di dalam Tuhan dan beria-ria di dalam Allah (ay. 17-18). Habakuk dapat bersukacita di tengah keadaan yang sulit, di tengah situasi yang tidak menguntungkan. Rahasianya, ia menjadikan Tuhan sebagai kekuatannya (ay. 19). Pemazmur mengatakan hal senada: bergembiralah karena Tuhan, bukan karena hal-hal lain (Mzm. 37:4). Kalau selama ini kita berharap merasakan sukacita karena hal-hal lain di luar Tuhan seperti harta, jabatan, koneksi dengan pejabat tinggi, atau fasilitas duniawi, kita perlu belajar menggantungkan sukacita kita kepada Tuhan. Kita harus berprinsip bahwa di dalam Tuhan kita dapat merasakan sukacita walaupun keadaan serba sulit. Rasul Paulus dalam Filipi 4:4 berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.” Artinya, terus menerus bersukacita dalam segala keadaan. Untuk merasakan sukacita, lingkungan kita tidak harus menyenangkan, tidak harus segala sesuatu berlangsung dengan baik dan aman. Tuhan mengajarkan kita untuk memiliki sukacita dan suasana hati yang baik walaupun keadaan sekitar kita buruk.

KALAU TUHAN MENJADI KEKUATAN KITA, KITA AKAN DAPAT BERSUKACITA SEKALIPUN DALAM KEADAAN SULIT

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2136-aku-bahagia-lho.html

MERENDAHKAN DIRI

MERENDAHKAN DIRI

Lukas 18:9-14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14)

Seorang ibu kaya-raya mengaku menyesal pernah menolak dan memperlakukan menantunya dengan kasar. Menantunya itu semula pembantu rumah tangga sehingga sang ibu sangat keberatan ketika anaknya memohon izin untuk menikahinya. Penyesalan terjadi setelah belasan tahun berlalu dan ia merasakan kasih menantu itu. Setiap kali kesusahan menimpanya si menantu datang menemani, menghibur, dan mendukungnya. Menantu itu jugalah yang setia merawatnya kala ia sakit. Secara sosiologis masyarakat sering dikelompokkan ke dalam lapisan sosial secara bertingkat. Pengelompokan ini terjadi sebagai hasil kebiasaan yang disengaja atau tidak, dan dapat disebabkan oleh faktor kekayaan, kehormatan, kekuasaan, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Ada strata yang bersifat terbuka, memungkinkan orang naik dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, strata sosial cenderung membatasi ruang seseorang, terutama mereka yang berada di tingkat rendah. Pernahkah kita merasa lebih suci atau lebih rohani dari orang lain? Kristus tidak mengajari kita untuk membeda-bedakan sesama manusia sebagaimana dunia membentuk strata sosial. Sebaliknya, Kristus memerintahkan para murid agar menerima setiap orang sebagai saudara, mengampuni setiap orang yang bersalah, dan mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang mereka. Alih-alih merasa diri paling benar atau suci, jauh lebih mulia jika kita menempatkan diri sebagai hamba yang menyediakan hati untuk selalu tunduk pada kehendak Bapa.

BARANGSIAPA MENINGGIKAN DIRI, IA AKAN DIRENDAHKAN; BARANGSIAPA MERENDAHKAN DIRI, IA AKAN DITINGGIKAN

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2135-merendahkan-diri.html

BELAJAR MENGAMPUNI

BELAJAR MENGAMPUNI

Matius 18:21-35 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22)

Sewaktu sedang berjalan di sekitar rumah, seorang bapak dengan tidak sengaja menyiramkan seember air kotor ke kaki saya. Sandal dan kaki yang semula bersih tiba-tiba menjadi hitam terkena kotoran. Bukannya meminta maaf, bapak itu justru memarahi saya yang tidak memberi aba-aba ketika hendak melewatinya. “Saya kira bapak itu sudah melihat saya yang berjalan ke arahnya,” pikir saya. Saya berusaha untuk tidak ikut marah dan memaafkan si bapak. Ketika Petrus bertanya kepada Yesus sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang berbuat dosa kepadanya, mungkin saat itu Petrus berpikir kalau Yesus akan menyebutkan sebuah angka yang masih dapat diterima oleh akal sehat manusia. Petrus tidak menduga Yesus akan menjawab bahwa pengampunan harus diberikan sejumlah tujuh puluh kali tujuh kali, yang artinya dalam jumlah yang tidak terbatas (ay. 21-22). Allah seumpama Raja dan kita adalah hamba dengan banyak sekali utang dosa. Oleh karena belas kasihan-Nya, kita diampuni dan dibebaskan dari hukuman dosa (ay. 23-27). Allah mau kita meneladani kasih-Nya dengan memberikan pengampunan kepada mereka yang bersalah kepada kita. Allah menjadi murka apabila kita tidak mau melepaskan pengampunan untuk orang lain (ay. 28-34). Ingatlah bahwa besarnya pengampunan yang kita berikan kepada orang lain tidaklah lebih besar dari pengampunan yang telah diberikan Allah kepada kita. Melalui pertolongan Roh Kudus, marilah kita belajar untuk saling mengampuni.

PENGAMPUNAN AKAN JAUH LEBIH MUDAH DILAKUKAN KETIKA KITA TIDAK MENUNDA-NUNDA UNTUK MEMBERIKANNYA

Sumber : http://renunganharian.net/2017/90-april/2134-belajar-mengampuni.html

Lowongan Kerja Terbaru Juli 2017

Lowongan Kerja Terbaru Juli 2017

Lowongan Kerja Terbaru Juli 2017

Lowongan PT Pertamina Training & Consulting (PTC)

http://bit.ly/2trWeUg

Penerimaan Dosen Podomoro University Jakarta

http://bit.ly/2tTfnBJ

Lowongan BUMN PT Waskita Beton Precast

http://bit.ly/2tKJvyA

Lowongan BUMN PT Pengerukan Indonesia (PT RUKINDO)

http://bit.ly/2tOwTWP

Lowongan Pramugari PT Citilink Indonesia

http://bit.ly/2sIIVll

Tanggal Seleksi: 12-13 Juli 2017

Lowongan Rumah Sakit PT Pertamedika Sentul

http://bit.ly/2trSz96

Deadline: 21 Juli 2017

Lowongan BUMN PT Pelindo Daya Sejahtera

http://bit.ly/2srJNGP

Deadline: 16 Juni 2017

Lowongan Bank Riau Kepri

http://bit.ly/2uMANwK

Deadline: 09 Juli 2017

Penerimaan Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Indonesia Luar Negeri

http://bit.ly/2tKJ87c

Deadline: 19 Juli 2017

Penerimaan Pegawai BUMN Bank Rakyat Indonesia (BRI)

http://bit.ly/2tTuBXF

Deadline: 18 Juli 2017

Penerimaan Pegawai PT Panca Amara Utama

http://bit.ly/2urPeH7

Deadline: 5 Agustus 2017

Penerimaan Calon Pegawai BUMN PT. WIJAYA KARYA

http://bit.ly/2sOEFMB

Deadline: 27 Juli 2017

Management Development Program (MDP) Bank QNB Indonesia

http://bit.ly/2srJyfb

Deadline: 19 Juli 2017

Lowongan Telkomsel Next Gen Program

http://bit.ly/2tOqBXh

Lowongan BUMN PT INALUM untuk Lulusan SMA/SMK

http://bit.ly/2ss5JS5

Deadline: 21 Juli 2017

Lowongan Toko Buku Gramedia

http://bit.ly/2tj6hwF

Lowongan Politeknik Negeri Batam Lulusan SMA/SMK/DIII/S1/S2

http://bit.ly/2uMHK0U

Deadline: 15 Juli 2017

Penerimaan Pegawai PLN untuk Lulusan SMA/SMK

http://bit.ly/2sIIRlz

Deadline: 14 Juli 2017

Penerimaan Dosen Tetap Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT-PLN)

http://bit.ly/2us6MmN

Deadline: 15 Juli 2017

Penerimaan Pegawai ITS untuk Lulusan SMA/SMK, D3, S1, S2 dan S3

http://bit.ly/2tOfLRc

Deadline: 7 Juli 2017

Penerimaan Dosen Universitas Pertamina

http://bit.ly/2usBLz8

Deadline: 9 Juli 2017

Lowongan BUMN PT Nindya Karya (Persero)

http://bit.ly/2tTdoNQ

Lowongan BUMN PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero)

http://bit.ly/2tKCfmE

Deadline: 7 Juli 2017

Lowongan BUMN PT Infomedia Nusantara

http://bit.ly/2tThcyr

Deadline: 21 Juli 2017

Lowongan PT samsung Electronics Indonesia (SEIN)

http://bit.ly/2sOEWyP

Deadline: 10 Juli 2017

Management Trainee PTI (Wardah Cosmetics)

http://bit.ly/2tKTCUn

Deadline: 21 Juli 2017

Management Development Program PT Samudera Indonesia

http://bit.ly/2uMIDXs

Deadline: 11 Juli 2017

H&M Indonesia Trainee 2017/2018

http://bit.ly/2sIOv7h

Deadline: 19 Juli 2017

Lowongan Kerja PT Mandiri Tunas Finance

http://bit.ly/2tromXP

Rekrutmen Tenaga Kesehatan Nusantara Sehat Kemenkes

http://bit.ly/kemkes

Deadline: 10 Juli 2017

Perekrutan Calon Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh

http://bit.ly/2tj8sQR

Deadline: 16 Juli 2017

Lowongan Kerja dengan Tower Bersama Group

http://bit.ly/2tjay3h

Deadline: 2 Agustus 2017

Open Rekrutmen PT Kalbe Farma Tbk

http://bit.ly/2useltx

Deadline: 8 JUli 2017

Seleksi Calon Tenaga Pengajar BIPA untuk Luar Negeri

http://bit.ly/2trJc9o

Deadline: 14 Juli 2017

Penerimaan Pegawai BUMN PT Hutama Karya (HK)

http://bit.ly/2tOvDTF

Deadline: 8 Juli 2017

Rekrutmen Pegawai PT PLN Batubara Tingkat S1

http://bit.ly/2tTvMGj

Deadline: 31 Juli 2017

Tolong sebarkan BC loker, siapa tau teman/ saudara anda membutuhkan pekerjaan.

HATI – HATI

HATI – HATI

Ulangan 6:1-25

Maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. (Ulangan 6:12)

Hingga detik ini, jika saya bercakap-cakap dengan ibu melalui telepon seluler, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Ia selalu mengatakan, “Hati-hati ya, Nak.” Kalimat itu selalu menjadi penutup pembicaraan kami. Kalimat itu menjadi pengingat bagi saya untuk selalu berhati-hati dan tidak ceroboh dalam melakukan segala sesuatu. Hal itu sudah berlangsung selama delapan tahun sejak saya merantau ke kota lain. Musa tidak pernah bosan mengatakan kepada bangsa Israel agar mereka bertindak dengan hati-hati dan tidak melupakan Tuhan, yang telah melepaskan mereka dari perbudakan (ay. 12). Israel akan mendapatkan berkat yang luar biasa ketika mereka masuk ke Tanah Perjanjian (ay. 13). Oleh karena itu, Musa meminta agar mereka tetap setia kepada Tuhan (ay. 14). Bisa saja, berkat yang mereka terima itu justru menjadi jerat sehingga mereka melupakan Tuhan. Tak heran Musa meminta mereka untuk berhati-hati dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Ketika ada orang lain yang mengatakan kepada kita “Berhati-hatilah”, hal itu semestinya mendorong kita menjadi lebih waspada. Demikian pula, ketika Tuhan meminta kita untuk berhati-hati supaya tidak melupakan-Nya, semestinya kita menjadi lebih waspada agar selalu mengingat-Nya. Kita perlu berhati-hati karena kerap kali berkat yang kita miliki justru menjadi penyebab kita menjauhi dan melupakan-Nya. Jadi, apakah kita masih terus mengingat-ingat Dia?

 

BERSIKAP HATI-HATI DAPAT MENOLONG KITA LEBIH PEKA PADA PERINTAH TUHAN