DARI DIRI SENDIRI

DARI DIRI SENDIRI

Mazmur 34:12-15

Carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya. (Mazmur 34:15) 

Hampir semua orang merindukan damai. "Hampir", karena banyak juga yang tidak menyukai damai. Bagi mereka, ketidakdamaian itu peluang untuk meraup keuntungan-keuntungan finansial, politis, dan lain-lain. Bahkan, derita sesama pun bisa mereka anggap keuntungan.

Dalam sebuah lagu lama, Tika Bisono (penyanyi yang sekaligus psikolog itu) berkeluh kesah.

"Damai, damai, damai, kapankah datangmu? Aku rinduuuuu . . . . . !".

Lagu itu mewakili kerinduan orang akan damai. Tetapi, di sana terasa ada ketakpastian tentang kapan damai akan datang. Bahkan, di sana tersirat pesimisme apakah damai akan sungguh datang.

Tuhan bersabda, "Carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!". Merindukan damai tentu saja baik. Tetapi, itu tak cukup. Damai harus dicari, damai harus diusahakan. Kehadiran damai harus diperjuangkan! Itu amat sulit karena banyak hal berat dipersyaratkan: Damai akan terwujud hanya jika tiap orang menghidupi relasi yang baik dengan sesama, dengan alam, dengan diri sendiri, dan dengan Tuhan. Kesulitan makin parah karena kita mudah mewajibkan pemenuhan syarat-syarat itu pada orang lain, dan membebaskan diri dari kewajiban itu. Dan, karena orang lain pun berpikir serupa, peluang terpenuhinya syarat-syarat itu makin tipis. Tak terelakkan, damai pun makin jauh.

Tetapi, firman Tuhan di atas ditujukan kepada semua orang, kepada tiap orang, juga kepada kita. Maka, kita sendiri harus ikut menjadi pembawa damai: berjuang menerapkan syarat-syarat di atas, mulai dari diri kita sendiri.

 

BIARLAH DAMAI HADIR DI BUMI.

DAN BIARLAH ITU DIMULAI DARI SAYA.

-SEYMOUR MILLER & JILL JACKSON-
  Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/03/31
TANPA PERSEMBAHAN

TANPA PERSEMBAHAN

Mazmur 88

Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu. (Mazmur 88:14)

Suatu hari saya melihat liputan di televisi tentang seorang pejabat yang membuka kantornya untuk semua kalangan yang ingin bertemu dengannya. Maka berbondong-bondong warga berdatangan. Mereka yang datang ada yang berpakaian bagus tetapi tidak sedikit yang datang dengan pakaian seadanya. Bukan karena mereka tidak menghormati pejabat itu tapi karena mereka adalah warga kurang mampu. Semuanya diterima dengan baik oleh sang pejabat tanpa ada perbedaan perlakuan.

Melihat hal ini saya diingatkan bahwa Tuhan juga menerima kita apa adanya. Apapun keadaan kita ketika datang kepada-Nya. Sering kali kita berpikir bila datang kepada Tuhan harus membawa "persembahan". Memang bukan dalam bentuk materi tapi dalam bentuk ucapan syukur, pujian, pengagungan. Tapi bagaimana ketika kita hendak datang kepada-Nya, kita tidak punya apa pun yang bisa dipersembahkan? Dalam arti saat kita hendak datang pada-Nya hati kita sedang dalam keadaan tidak enak. Alih-alih bersyukur atau memuji, yang ada malah ingin marah-marah, kesal, "meledak". Apakah kita tidak bisa datang kepada-Nya?

Kita bisa selalu datang kepada Tuhan bahkan dalam keadaan hati yang tidak menentu sekalipun. Walau kita tidak bisa mempersembahkan apa-apa pada-Nya, Dia tidak akan menolak kita. Jadilah seperti anak bungsu di kisah anak yang hilang (Luk 15 : 11-24) . Ia tetap datang kepada bapanya walau secara kondisi sangat tidak layak untuk kembali ke rumah ayahnya. Tetapi ayahnya tetap menerimanya bagaimana pun kondisinya saat itu. Itulah gambaran saat kita datang kepada Tuhan dengan keadaan yang tidak "baik".

DATANGLAH PADA TUHAN

WALAU KITA TIDAK BISA MEMPERSEMBAHKAN APA-APA

    Sumberhttp://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2017/03/30
Takut Akan Tuhan

Takut Akan Tuhan

2 Korintus 5:11-16

Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang ... (2 Korintus 5:11)

Ungkapan "takut akan Tuhan" menjadi salah satu ungkapan yang paling banyak disebut, diajarkan, ditulis, dan dikhotbahkan di kalangan orang Kristen. Topik yang sama juga banyak disebut dalam Alkitab sejak Perjanjian Lama karena Allah menginginkan setiap manusia, tidak hanya umat-Nya, menjalani kehidupan ini dengan takut akan Dia. Perkara yang sama disampaikan oleh Rasul Paulus dan Timotius ketika menulis surat yang kedua kepada umat Tuhan yang ada di Korintus.

Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini setelah ia menerangkan mengenai pengadilan Kristus yang akan dialami oleh orang-orang percaya. Pengadilan yang akan menilai semua perbuatan semasa hidup seseorang, baik maupun jahat (ay. 10). Nah, ketika seseorang berkata bahwa ia takut akan Allah, aplikasi praktisnya adalah orang tersebut akan berhati-hati dalam menjalani hidupnya. Ia akan merasa segan untuk melakukan dosa karena rasa hormat kepada Allah, sekaligus karena menghargai pengorbanan Kristus. Rasa takut akan Allah juga akan mendorong umat Allah untuk bergegas menghampiri Tuhan, mengakui dosa-dosanya, memohon ampun, serta meminta pertolongan-Nya supaya kita dimampukan untuk menjalani hidup benar.

Kesadaran atas hal ini akan membuat seseorang berhati-hati menjalani hidupnya, karena suatu saat nanti, ia akan berdiri di hadapan Sang Hakim yang menilai seluruh hidupnya. Penghakiman ilahi yang menakutkan bagi orang berdosa, tetapi menentramkan hati bagi mereka yang telah dibenarkan melalui karya salib Kristus. Kiranya kita dimampukan untuk menjalani hidup ini dengan kadar takut akan Allah yang semakin tinggi.

 

TAKUT AKAN TUHAN BERAWAL DARI HATI

YANG MENGASIHI DAN HORMAT AKAN DIA.

 

Sumberhttp://www.sabda.org/publikasi/e-rh/print/?edisi=20170329

Gengsi Berujung Maut

Gengsi Berujung Maut

Matius 27:1-10

Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata, “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.” (Matius 27:6)

Jelas para imam dan pemimpin agama Yahudi menyadari apa yang sedang mereka rancang dan lakukan. Tujuan utamanya adalah untuk menyingkirkan Tuhan Yesus simbol kebenaran, kuasa, serta wibawa. Menurut mereka, Yesus harus dibunuh. Sebab jika tidak, wibawa mereka akan tergerus. Agar martabat tidak kian merosot, mereka meminjam tangan Yudas untuk melakukan kejahatan. Mereka juga memprovokasi massa untuk menyalibkan Yesus.

Ingatlah bahwa kita pun memiliki gengsi yang berpotensi menghancurkan hidup orang lain ketika kita berusaha mempertahankan gengsi itu habis-habisan. Kita tidak ingin direndahkan. Karena itu kita berusaha menghambat kemajuan teman, bawahan, atau bahkan atasan kita. Kita mencela orang-orang yang mendapat pujian dan penghargaan. Mungkin kita tidak suka terhadap pribadi tertentu yang mengungkapkan kesalahan yang tidak ingin kita akui. Lalu kita berusaha menyingkirkan mereka dengan menyebarkan kekurangan mereka, bahkan mungkin memfitnah mereka.

Ketika Yudas menyesal dan mengembalikan tiga puluh uang perak, para imam kepala takut terkena tulah akibat dosa mereka sendiri. Tapi lagi-lagi demi gengsi, mereka pun membeli tanah untuk pemakaman orang asing dengan uang itu. Gengsi dapat melahirkan iri hati, kebencian, hingga pembunuhan. Pertobatan terhalang karena orang yang tinggi gengsinya sangat menginginkan penghormatan dan penghargaan serta berkeinginan kuat menutupi kesalahan dan dosanya. Waspadalah!

PERTOBATAN DAN JIWA YANG HANCUR DIKEHENDAKI OLEH TUHAN.

SEBALIKNYA, MEMPERTAHANKAN GENGSI DENGAN NIAT JAHAT DITENTANG TUHAN

 

Sumberhttp://www.renunganharian.net/2017/89-maret/2107-gengsi-berujung-maut.html

MENCARI NILAI

MENCARI NILAI

1 Tesalonika 2:1-12

Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak sehingga Ia mempercayakan Injil kepada kami, maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita. (1 Tesalonika 2:4)

Seorang siswa selalu mendapatkan nilai yang baik dalam ujian Matematika. Suatu kali guru mengujinya secara lisan: mencongak. Soal-soal yang diberikan relatif mudah, namun jawaban siswa itu nyatanya salah semua. Ternyata selama ini ia mencontek pekerjaan siswa lain.

 

Mendapatkan nilai yang baik adalah salah satu ciri anak pintar. Siapa yang tidak bangga mendapatkan nilai baik? Siapa yang tidak senang mendapatkan sanjungan dari berbagai pihak–orangtua, guru, teman? Tetapi apalah artinya mendapat nilai yang baik jika sesungguhnya kita tidak cakap dalam bidang pelajaran itu? Sebuah kebohongan belaka.

 

Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah yang menguji hatinya. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Ia tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia.

 

Malangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang. Berusaha supaya keberadaannya diterima, mencari sanjungan orang lain. Mereka berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng: supaya orang tertarik untuk datang ke gerejanya, supaya memperoleh sumbangan, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung.

 

TUHAN MEMANGGIL KITA UNTUK MELAYANI-NYA DALAM KEBENARAN

YANG MENYELAMATKAN, BUKAN UNTUK MENCARI PUJIAN ATAU KEUNTUNGA

Sumber : http://www.renunganharian.net/2017/89-maret/2106-mencari-nilai.ht