SUDAH LUNAS

SUDAH LUNAS

1 Korintus 6:12-20
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:20)
Tidak semua orang mampu membeli rumah secara tunai. Kita mungkin membeli rumah dengan cicilan. Kita mungkin harus menabung dulu untuk uang mukanya. Ketika uang muka cukup, barulah kita bisa menemui agen penjual rumah dan membeli rumah impian kita. Lalu ada berbagai syarat dalam dokumen yang harus kita pahami dan setelahnya kita tanda tangani untuk menjadi penanda kesetujuan kita. Di satu sisi kita bahagia, tetapi di sisi lain kita tegang karena sekalipun kita bisa memasuki rumah itu, kita belum sepenuhnya memilikinya. Pembayarannya belum lunas. Kita masih berhutang, dan harus membayarnya selama bertahun-tahun!
Ketika manusia jatuh dalam dosa, ia menjadi hamba dosa. Dan warisan sebagai hamba dosa adalah kematian kekal. Tak seorang pun bisa melunasi bahkan membayar ‘uang muka’ untuk bebas dari hukuman itu. Bersyukur, karena Allah tidak pernah menghendaki seorang pun binasa. Dia telah membayar lunas hidup kita dengan jalan memberikan Anak-Nya yang tunggal, mati di kayu salib
Ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat, kita menerima pemberian, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus mewakili ‘uang muka’ Allah pada kita, dengan jaminan bahwa Ia sudah melunasi kepemilikan atas hidup kita. Kematian Kristus di kayu salib menjadi bukti bahwa Allah telah sepenuhnya menjadi pemilik sah atas hidup kita, ini tidak lagi terbantahkan. Allah telah ‘membayar lunas’ hidup kita. Kita sepenuhnya menjadi milik-Nya. —SYS
Sumber : http://www.renunganharian.net/88-2017/februari/2078-sudah-lunas.html
PROSES YUSUF

PROSES YUSUF

Kejadian 37:12-36
Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja. (Kejadian 37:36)
Yusuf menaati perintah ayahnya untuk melihat keadaan kakak-kakaknya yang sedang menggembalakan kawanan domba. Bukan perjalanan yang mudah karena Shikem berjarak 30 kilometer dari Dotan. Ironisnya, kakak-kakak Yusuf malah berencana membunuhnya. Sekalipun urung dibunuh, ia dijual sebagai budak. Kehidupan berat di Mesir menempanya mengalami perubahan hidup dan menjadi awal baginya untuk menolong keluarganya. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya, kata Amsal. Besi yang bergesekan bisa menimbulkan getaran, bahkan percikan api. Namun, hasil akhirnya adalah pedang yang tajam! Kehadiran orang-orang yang menjengkelkan dan menimbulkan masalah bisa dipakai oleh Tuhan untuk mengasah karakter kita menuju keserupaan dengan Kristus. Ada kalanya perkataan atau tindakan orang lain membuat kita marah, sakit hati, dan malu. Jika kita mau menerimanya dengan hati yang terbuka dan siap diubahkan, alih-alih merasa sakit hati, iman dan karakter Kristus semakin terbentuk dengan kokoh dalam hidup kita. Tuhan dapat membentuk kita melalui khotbah pendeta yang terdengar menyindir dan menyakitkan hati. Perkataan teman yang terdengar sebagai ejekan. Atau malah hinaan seseorang. Sangat disayangkan jika kita mudah marah, membenci, atau sakit hati dalam menanggapinya. Lihatlah tangan Allah yang turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam kenyamanan, melainkan untuk mengalami perubahan, menjadi semakin serupa dengan Kristus. —EBL
Sumber : http://www.renunganharian.net/88-2017/februari/2077-proses-yusuf.html
MACAN TUTUL

MACAN TUTUL

Markus 1:35-39
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Markus 1:35)   Dalam gerakan lambat tampak rekaman video seekor macan tutul sedang berlari kencang. Kedua pasang kakinya bergerak lincah, berjejak kokoh. Terlihat tubuhnya melesat kian cepat. Tercatat kecepatannya berlari, 102 kilometer per jam. Menyaksikan tayangan singkat itu, terbisik dalam hati saya—“Cocok sekali melukiskan kehidupan masa kini yang lajunya amat cepat!” Injil Markus menggambarkan cepatnya laju aktivitas Yesus Kristus. Kata “segera” sering menghiasi berbagai kegiatan yang dilakukan-Nya. Dari waktu ke waktu Dia terus bergerak. Terus berpindah. Dicari. Dibutuhkan. Dikejar-kejar. Sibuk. Namun satu hal tak pernah diabaikan-Nya: berdoa. Justru karena cepatnya hidup yang dijalani, Dia sengaja menyelipkan waktu sejenak untuk bersendiri dengan Bapa-Nya. Itu sebabnya Dia tidak terjebak oleh kemauan publik. Dia melayani kehendak Bapa-Nya (ay. 38). Anda sibuk? Aktivitasmu padat? Waktumu terasa singkat? Semua bergulir dengan cepat? Begitulah hidup ini. Kita dituntut serba cepat. Cepat rebut peluang. Cepat ambil keputusan. Cepat berhasil. Semua harus cepat. Waspadalah, jangan sampai laju-cepat kehidupan ini menggilasmu sehingga Anda cuma jadi korban rutinitas. Tetaplah selipkan waktu bersendiri dengan Bapa, agar Anda tidak kehilangan fondasi iman dan visi hidupmu. Sumber : http://renunganharian.net/88-2017/februari/2076-macan-tutul.html  
TAK ADA YANG SEMPURNA

TAK ADA YANG SEMPURNA

Efesus 4:1-32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:32) Entah dari mana asalnya, ada anggapan bahwa gereja seharusnya berisi kumpulan orang percaya yang memiliki kehidupan sempurna. Mereka tidak pernah marah, cepat mengampuni, tidak melakukan perbuatan amoral, tidak bergosip, dan lain sebagainya. Padahal, fakta justru sebaliknya: bahwa gereja berisi umat yang tidak sempurna. Tandanya, di dalamnya masih ada konflik, gesekan, atau perselisihan, baik dalam skala lokal maupun skala global di seluruh dunia. Itulah sebabnya, Alkitab banyak memberi nasihat mengenai cara hidup berjemaat sebagai Tubuh Kristus. Melalui suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menasihatkan agar mereka saling menunjukkan keramahan, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Poin ketiga mengindikasikan bahwa jemaat di Efesus membutuhkan pengampunan di antara mereka. Nampaknya ada sebagian dari mereka masih sukar mengampuni saudaranya seiman, sehingga Paulus perlu mengingatkan bahwa mereka pun telah diampuni oleh Allah. Nasihat bahwa mereka perlu saling mengampuni menunjukkan bahwa jemaat Efesus tidak berisi kumpulan manusia yang sempurna. Mereka masih bisa menyakiti dan merasakan sakit hati. Selama kita masih bisa merasa sakit hati, tersinggung, atau marah karena sikap, perkataan, atau perbuatan orang lain, artinya kita masih belum sempurna. Begitu pula dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, kita yang ada di dalam Kristus, mari kita memulai untuk bersikap ramah, penuh kasih ilahi, dan mengampuni orang lain. Karena di dalam Kristus, kita telah terlebih dahulu menerima pengampunan dari Allah!   Sumber : http://renunganharian.net/88-2017/februari/2075-tak-ada-yang-sempurna.html
Kunjungan Pemuda ke Semarang yang berbuah manis

Kunjungan Pemuda ke Semarang yang berbuah manis

Pada 29 Juli - 1 Agustus 2016 pemuda Cijantung melakukan kunjungan kasih ke Semarang yang di ketuai oleh pemuda kami (Bang Ucok), lalu setelah itu kami melakukan kebaktian dengan GKPS Semarang, lalu di luar dugaan kami, 2 insan saling menyukai satu sama lain, sehingga terjalinlah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.

1   2   3   4   5   6  

Tepat di hari ini hari yang sangat spesial untuk mereka, Tuhan telah mempersatukan dua insan dalam kasih, sehingga terjalinlah sebuah ikatan janji yang mengikat untuk menjadi satu, maka telah berlangsunglah dengan sempurna martupol pemuda kami Ruvitsan Sumbayak & Rani Vininta Sipayung yang di laksanakan pada tanggal 24 Februari 2017 di Gereja GKPS Cijantung dan akan melaksanakan prosesi pernikahan selanjutnya, semoga terus lancar sampai hari pernikahan. Tuhan Yesus Memberkati.

Tangan Tuhan

Tangan Tuhan

Mazmur 119:73-80 Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu. (Mazmur 119:73)   Kita menggunakan tangan untuk berbagai hal. Kita menggunakan tangan untuk bersalaman, untuk memegang sesuatu, untuk memeluk anak-anak kita, untuk mengajar mereka. Tanpa tangan, kehidupan akan terasa sukar. Tanpa tangan, kita tidak akan bisa menunjukkan kasih sayang seperti sekarang, tidak bisa bekerja sebaik sekarang atau berkomunikasi se-ekspresif sekarang. Banyak hal dalam kehidupan direngkuh dengan tangan kita. Banyak kali Alkitab mengilustrasikan karya Tuhan melalui tangan-Nya. Dari tangan-Nya, kita mengenal semua pekerjaan-Nya (Mzm. 28:4-5); dengan tangan kebapaan-Nya, hidup kita diangkat-Nya (Mzm. 37:4). Allah juga menyatakan amarah-Nya dengan tangan-Nya (Mzm. 75:9). Ia bahkan membentuk diri kita dengan tangan-Nya (Mzm. 119:73). Allah sangat sibuk dengan tangan-Nya untuk menopang, menuntun, memelihara, mengasihi, dan bahkan mendisiplin kita. Mungkin semua yang dilakukan Allah digambarkan seperti ini, karena kita sangat tergantung pada tangan kita. Bukan tanpa alasan mengapa Allah memberikan dua tangan untuk kita. Kedua tangan kita adalah alat yang dirancang-Nya bukan sekadar untuk bekerja, tetapi juga untuk menyampaikan pesan kasih. Dengan tangan kita, Dia ingin kita menggunakannya dengan cara yang lembut untuk membelai, membesarkan hati, membimbing, dan membangkitkan semangat orang lain. Tangan kita mengungkapkan apa yang ada di hati kita. Gunakan kedua tangan kita hari ini untuk melaksanakan rencana Kristus bagi sesama kita   Sumber : http://renunganharian.net/88-2017/februari/2074-tangan-tuhan.html
 
SIAPA LEBIH DULU?

SIAPA LEBIH DULU?

Lukas 6:37-42 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Lukas 6:38)   “Wanita membutuhkan kasih, sedangkan pria membutuhkan penghargaan,” kata seorang pembicara di mimbar. Di bangku jemaat, sepasang suami-istri saling colak-colek. “Tuh dengar, Pak,” bisik sang istri, “Bapak mesti mengasihi aku dulu.” Sang suami membalas, “Ibu yang harusnya menghormati aku dulu, baru aku bisa mengasihi ibu.” Pertanyaan siapa yang harus melakukan lebih dulu, suami mengasihi istri atau istri menghormati suami, kira-kira sama dengan bertanya mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Menurut saya pertanyaan yang tepat adalah, “Siapa yang mau terlebih dahulu memberi?” Jika kita berfokus pada siapa yang harus lebih dahulu memberi, hasilnya hanyalah perdebatan, pro dan kontra, tanpa ujung. Kita perlu mengalihkan fokus dengan menyadari bahwa barangsiapa yang ingin mendapatkan, hendaklah ia yang lebih dahulu memberi. Artinya, jika Anda seorang istri dan mengharapkan suami mengasihi Anda, berikanlah dulu penghargaan kepadanya. Sebaliknya, jika Anda seorang suami dan mengharapkan penghargaan dari istri, kasihilah dulu istri Anda. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak berfokus pada apa yang bisa kita terima, melainkan pada apa yang bisa kita berikan. Ketika kita memberi, kita akan menerima buahnya (Luk. 6:38). Hal ini bisa diterapkan dalam seluruh kehidupan kita, bukan hanya dalam hubungan dengan pasangan saja. Pertanyaannya, maukah kita memberi dan bukannya menuntut diberi?
DIA YANG MEMBERI KEKUATAN

DIA YANG MEMBERI KEKUATAN

Filipi 4:10-19 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)   Sepasang suami-istri, bersama dua putrinya sedang dirundung duka yang mendalam atas meninggalnya anak terakhir dalam keluarga. Mereka pun sempat kehilangan sukacita dan keceriaan dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Tuhan menggerakkan mereka untuk melayani orang-orang yang kurang mampu. Perlahan tapi pasti, kedukaan mulai beringsut pergi dari kehidupan keluarga ini. Mereka yang sebelumnya memerlukan penguatan dari orang lain, justru dipakai oleh Tuhan untuk menguatkan keluarga yang berduka dan kurang beruntung. Ketika menuliskan kalimat “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,”Paulus sedang berada di penjara. Kondisi yang sebenarnya tidak lazim untuk menguatkan orang lain. Bukankah ia sendiri sedang butuh dikuatkan? Namun, rupanya kehidupan rohani, mentalitas, dan karakter Paulus sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga dalam situasi apa pun, ia tetap dapat menguatkan orang lain. Paulus hidup bersama dengan kekuatan Roh-Nya, sehingga ia tetap mampu memberi dorongan, nasihat, bahkan menguatkan orang lain, sementara ia sendiri sebenarnya sedang membutuhkan. Roh yang bekerja dalam diri rasul Paulus, juga bekerja dalam kehidupan kita, agar kita tetap bisa bermanfaat, memberi dorongan, bahkan menginspirasi orang lain sementara kita masih berjuang menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Apakah kita sedang menjalani masa-masa sulit, kedukaan, atau pergumulan yang berat? Terimalah kekuatan baru dari-Nya untuk tetap berharap, menantikan pertolongan-Nya, serta tetap menjalani hidup untuk menjadi berkat!   Sumber : http://www.renunganharian.net/88-2017/februari/2072-dia-yang-memberi-kekuatan.html
Keseimbangan Hidup

Keseimbangan Hidup

Markus 6:30-46 Dalam sebuah notasi musik, dikenal istilah tanda diam atau tanda istirahat. Tanda ini bergambar garis kecil tebal dan dibuat menurut durasinya, biasanya berupa ketukan. Tanda istirahat atau tanda diam digunakan untuk menunjukkan waktu jeda (diam) dalam sebuah karya musik. Seorang pemain musik, ketika melihat tanda istirahat, tidak perlu melakukan apapun tetapi ia tetap menghitung ketukan-ketukannya. Sama seperti not, tanda istirahat juga menunjukkan jumlah ketukan. Ada saat musik dimainkan, ada saat musik itu diam, itulah keseimbangan dan itulah bagian keindahan dalam sebuah alunan musik. Yesus menyepi ke tempat yang sunyi bersama murid-murid-Nya untuk mendapatkan keseimbangan dalam irama kehidupan. Selama pelayanan-Nya di Galilea, ‘irama’ itu telah terganggu menjadi melulu kerja, nyaris tanpa kesempatan untuk beribadah dan beristirahat. Dalam istilah sekarang, Dia mungkin berada di ambang batas apa yang disebut ‘burn-out’. Pengunduran diri-Nya bukanlah didasari rasa malas, melainkan didorong oleh kebutuhan-Nya untuk beristirahat dan berdoa. Demikianlah hendaknya kita memperlakukan hidup. Menjalani hidup itu butuh keseimbangan. Istirahat, ibadah, bermain, dan bekerja adalah keseimbangan dan irama hidup kita. Bukankah jika hendak jujur, kita terlalu sering mengubah dan membalikkan hal-hal ini, dan akhirnya hanya kerja, kerja, kerja, tanpa istirahat? Ya, hidup perlu diseimbangkan agar dapat mengalun dengan indah. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. (Markus 6:31)   Sumber : http://www.renunganharian.net/88-2017/februari/2071-keseimbangan-hidup.html
Rapat Anggota & Pemilihan Panitia Retreat

Rapat Anggota & Pemilihan Panitia Retreat

Syalom guys, pada hari ini, Minggu 19 Februari 2017, kita Pemuda GKPS Cijantung mengadakan rapat anggota untuk mempublikasikan program kerja tahun 2017. Puji Tuhan untuk rapat Anggota hari ini berjalan sesuai rencana dan terstruktur. Adapula setelah rapat Anggota di adakan pemilihan Panitia Retreat 2017, beberapa panitia terpilih adalah : Panitia Retreat Ketua Panitia : Richard Simanjorang Wakil Ketua : Evan Hutapea Sekretaris : Sofia Sinaga Bendahara : Anzu Purba   whatsapp-image-2017-02-19-at-1-02-17-pm whatsapp-image-2017-02-19-at-12-58-31-pm whatsapp-image-2017-02-19-at-12-58-43-pm   Semoga program kerja 2017 dan Panitia Retreat terpilih dapat terlaksana dengan baik. Tuhan Yesus memberkati